Surga Itu Nyata
www.sorga.net

SURGA TERBUKA

 

SURGA TERBUKA

 

 

Kepada TUHAN sang Bapa,

Tuhan sang Putra, dan Tuhan sang Roh Kudus,

Yang memberikan pewahyuan, mempersiapkan buku,

Dan kepada siapa kami memberikan cinta,

Pujian, dan ucapan syukur.

 

“Sungguh, sungguh saya berkata kepadamu, kamu akan melihat Surga terbuka....”

YOH 1 : 51

 

 

 

Bab 1

SEBUAH SERANGAN

 

Sang suara terdengar antik dan menggerikan. Terkejut, saya berputar dan melihat sebuah banteng besar buatan bergerak dengan kuat melewati padang lembah. Roda kayu seukuran 60 tingkat tingginya, dan mereka mengerang dan berseru karena beratnya beban yang mereka tanggung. Kutukan terukir di atas lengan hitam banteng buatan itu, yang ujungnya adalah kepala besi dari sebuah kambing.

 

Walaupun bergerak dengan sangat pelannya, orang yang berada di atas padang pasir terlihat tidak mampu menghindari jalannya; mereka hancur tergilas oleh banteng buatan itu. Teriakan memenuhi lembah padang pasir itu dan bergema melampaui formasi bebatuan, memenuhi lembah padang pasir dengan ketakutan.

 

Dengan perlahan banteng buatan itu berada dipuncak bukit berpasir dan dengan cepat turun ke sisi yang lain. Tercengang dari keterkejutan, saya memanjat dengan tangan dan kaki saya untuk mencapai puncak dan melihat arah perginya.

 

Dengan kecepatan luar biasa turun menuruni sisi bukit yang lain ke dalam lembah. Jauh berada di dasar bukit adalah sebuah kota yang bertembok. Baik kota maupun tembok sewarna dengan pasir dan terlihat seperti setengahnya tenggelam ke dalamnya, hampir ditelan oleh sang pasir darimana mereka berasal. Di atas tembok tertulis huruf yang telah memudar, saya dapat membacanya : SANG GEREJA.

 

Banteng buatan sangatlah besar, dan batu bata tembok kota itu tidak terlihat kuat. Dengan dorongan yang kasar, kepala kambing menghantam tembok dan berhasil melalui tembok. Mengilas rumah-rumah dan gedung-gedung, mengurangi sedikit kecepatannya. Saat menghancurkan tembok kota yang berada di sisi lain, banteng itu berhenti, menetap di atas pasir.

Sebuah keheningan yang aneh meliputi.

 

Teriakan-teriakan memecah keheningan. Datang dari mereka yang telah di potong atau dari mereka yang telah mengenali bahwa orang yang dicintai telah dibunuh. Tetapi hal yang lebih aneh adalah kenyataannya sangatlah sedikit yang berusaha melarikan diri melalui reruntuhan tembok – sedikit.

 

Kemudian berlahan, dengan sendirinya, banteng buatan itu berbalik dan mulai bergerak menaiki bukit lagi, dan bergerak ke arahku. Kepala kambing di ujung banteng tertawa, bergembira, seolah-olah mabuk oleh darah.

 

Saya pikir banteng itu mungkin telah melihatku, jadi saya meninggalkan puncak bukit itu dan mulai berlari menuju arah yang berlawanan. Sewaktu saya berlari, saya secara acak melihat sekeliling dasar lembah untuk mencari sebuah tempat persembunyian. Saya dapat mendengar roda raksasa berputar sementara membawa banteng buatan menuju puncak bukit lagi.

 

Tiba-tiba seorang malaikat terbang di sampingku.

 

“Dimanakah saya dapat bersembunyi dari banteng buatan itu?” saya berteriak sambil tetap berlari. “Banteng buatan itu sekarang berputar tanpa lelah diatas Bumi sekarang, menuju ke atas.” Sang malaikat berkata, “tinggi di atas tempat dimana dia dapat melihat adalah satu-satunya tempat untuk berlindung. Akan kutunjukkan kepadamu.”

 

 

PELARIAN

 

Dengan sebuah lambaian dari tangan sang malaikat, sebuah tangga jalan muncul, menyentuh Bumi dan melampaui penglihatanku menuju Surga. Saya bergerak menuju dasar tangga dan melihat ke atas. Saya masih kelelahan karena berlari.

 

Sang malaikat terbang ke sisi tangga, lebih tinggi dari dasar yang di Bumi, dan melambai padaku ke atas: “Cepatlah!” sang malaikat berteriak. “Banteng itu datang, dan kita tidak mau banteng itu melihat tangga ini. Cepatlah!”

 

Tidak ada pegangan di tangga yang curam itu. Anak tangga bening seperti kaca, yang pasti licin. Saya dapat mendengar banteng buatan itu berputar; walaupun saya masih terengah-terengah, saya mulai berlari menaiki anak tangga.

 

“Lebih cepat!” sang malaikat memanggil.

 

Mataku tetap berfokus kepada anak tangga. Di tangannya sang malaikat mempunyai sebuah kawat ungu yang diikatkan pada anak tangga di bawah. Saya dapat mendengar banteng buatan mendekat, tetapi sang malaikat menarik kawat dan membawa anak tangga bagian pertama ke atas, seperti tangga gudang loteng yang bisa direndahkan dan dinaikkan.

 

“Cepat!” sang malaikat mendesak.

 

Saya terus menaiki anak tangga, menahan nafas. Sang malaikat menarik tali yang tipis, dan bagian lain dari tangga bangkit.

 

“Terus memanjat,” Sang malaikat berkata, walaupun sekarang nada suaranya kurang mendesak.

 

Dengan sebuah usaha yang besar, saya selesai menaiki anak tangga dan berbalik untuk memastikan saya telah berhasil meloloskan diri. Banteng buatan tepat berada dibawah, berputar dibawah kami saat bagian ketiga dari tangga ditarik ke atas.

 

“Kamu selamat setelah menaiki anak tangga bagian kedua; tapi untuk sungguh-sungguh selamat, kau harus melalui yang ketiga,” dia berkata.

 

Saat banteng buatan telah berlalu, saya berusaha menarik nafas dan memposisikan diri. Setelah itu barulah saya melihat ke sekeliling.

 

“Dimanakah saya?” saya bertanya.

 

 

SURGA

 

“Surga”, sang malaikat tersenyum, sambil dia mengikat kawat penahan tangga pada pos dermaga. Sebuah tanda di atas pos tertulis PELABUHAN TANGGA. Saya melihat pada taman paling indah yang pernah saya jumpai.

 

Ada perbukitan yang lembut, kebun bunga dengan warna-warna cemerlang, dan rumput seperti seragam dan hijau seperti halaman rumput sebuah rumah tua Inggris. Sebuah jalur jalan menyilangi sebagian dari taman ini. Ada kolam yang sunyi, aliran sungai kecil, dan pohon-pohon yang subur yang di Bumi pastilah telah menyediakan naungan berteduh, tetapi tidak ada teduhan atau bayangan apapun di sini. Sebuah sinar lembut berasal dari semua yang tumbuh.

 

Indah, pikirku.

 

“Ya, bukankah begitu?” sang malaikat menjawab.

 

Saya tidak terkejut karena sepertinya dia bisa membaca pikiranku. Saya berbalik untuk melihat kepadanya; saat itulah saya baru menyadari penampilannya. Dia terlihat setinggi 6.2 atau 6.3 inchi kaki dan terlihat berumur di pertengahan 30-an, jika saya mengukur dengan umur manusia. Dia memiliki rambut coklat keriting dan memakai sebuah jubah panjang coklat, transparan. Dibawah jubah coklat tipis itu, saya dapat melihat bahwa dia memakai secara keseluruhan baju kerja garis-garis biru dan putih, yang mirip dengan pakaian seseorang yang bekerja di sebuah toko komunitas perkebunan. Pikiran itu membuatku sadar bahwa jubah panjang coklat itu sangatlah tipis dan mungkin terlalu dingin untuk dikenakan saat bekerja.

Sebuah gumpalan jubah menyilangi pundak dan dadanya, berlingkar dalam lingkaran lebar dekat pinggangnya, dan kembali menyilang di punggungnya sampai ke bahu lagi. Dia memakai ikat pinggang putih, dimana bergantung sebuah kantung peralatan. Kantung ini terlihat seperti ikat pinggang peralatan tangan yang dipakai oleh tukang reparasi telepon. Dia sedang melepas sepasang boots kerja coklat tinggi, berujung perak saat dia berbicara kepadaku.

 

“Tidak ada sepatu di atas sini.” Dia tersenyum. “Ini adalah tanah yang kudus.” Saya melihat pada kedua kaki saya yang juga telanjang.

 

Dia berdiri, menaruh boots itu dibawah lengannya. “Kau aman disini,” sang malaikat melanjutkan, “semua tadi itu hanya ada di bawah.”

 

“Apakah itu tadi?” saya bertanya.

 

“Musuh besar dari Tuhan kita dan GerejaNya.”

 

“Tapi itu menghancurkan gereja,” seru saya.

 

 

KEDUA GEREJA

 

“Beberapa daripadanya akan dihancurkan-yang menyebut dirinya sendiri Gereja,” dia melanjutkan, “ada sebuah tanda yang bertuliskan Gereja, dan banyak yang hidup dibalik tanda itu.

Tetapi Gereja- Gereja yang sesungguhnya-melarikan diri; Gereja yang sesungguhnya hidup dan bisa lari lebih cepat daripada putaran banteng buatan apapun juga. Ceroboh memang, sungguh; tetapi jika kau adalah batu mati, jika kau tidak hidup, maka tentu saja tidak ada struktur manusia yang dapat menahannya.

Bagaimanapun, yang sejati, Gereja Yesus Kristus yang hidup bisa bersembunyi di dalam gua, mengapung di atas air, atau mendaki menuju Surga. Seorang anggota dari Gereja yang hidup akan tahu dimana lokasi tangga-tangga yang tersembunyi.

Orang tersebut bisa meminta untuk pertolongan, dan kita akan menurunkan tangga supaya dia dapat melarikan diri. Gereja yang sesungguhnya lebih cerdik daripada banteng buatan. Batu-batu hidup mempunyai kaki.”

 

Kemudian, seperti seseorang yang tiba-tiba saja teringat tata krama, dia berkata, “Apakah kau ingin sedikit penyegaran? Akan sangat membantumu.”

“Baiklah,” kataku, sambil berusaha terlihat kuat.

 

Sebuah baki penuh dengan buah-buahan mengapung untuk kami. “Ini dia,” sang malaikat berkata, membungkuk ke arah baki, “pilihlah.”

 

Saya meraih untuk memilih buah yang akan kuambil. Beberapanya saya sudah lihat di Bumi, dan beberapa belum pernah saya lihat. Semuanya tanpa noda. Kami kemudian memilih dan memakannya.”

“Kau perlu mengetahui lokasi-lokasi dari tangga-tangga yang tersembunyi,” dia kembali melanjutkan.

 

“Apakah ada petanya?” saya bertanya.

 

“Tidak,” sang malaikat tertawa. “Petanya ada di dalam Roh. Dengan mengikuti tuntunanNya, Dia akan menuntunmu ke tangga-tangga yang tersembunyi.”

 

Saya melihat sekilas ke arah tangga dermaga. Tangga-tangga ini terlihat seperti kaca,” kata saya.

 

“Ringan,” sang malaikat menjawab, “bagus bukan?”

 

“Pernahkah orang jatuh dari tangga ini?”

 

“Tidak bila mata mereka tetap tertuju kepada Yesus,” sambil menahan tawa, “tapi saya tidak akan menganjurkan untuk melihat ke sisi lain. Kau mungkin akan gemetar karenanya.”

 

“Ini buah yang sangat bagus,” seru saya.

 

“Yap, semuanya bagus di atas sini.” Sang malaikat berkata, dengan penuh gaya.

 

Saya tertawa, terkagum. Dia tidak seperti bayangan saya sama sekali mengenai seorang malaikat. “Siapa namamu?” tanyaku padanya.

 

 

MALAIKAT AZAR

 

“Azar” sang malaikat berkata, “Sayalah yang menjawab jika kau berseru meminta tolong.”

 

“Apakah hanya ada dirimu seorang saja untuk tugas ini?” saya bertanya.

 

“Maksudmu untuk seluruh dunia? Oh tidak, saya tidak sanggup untuk mengurus seluruh dunia. Kami ditugaskan untuk sekelompok kecil yang seruannya akan kami jawab, banyak atau kurang tergantung gaya hidup. Kadang-kadang seseorang yang kesulitan membutuhkan seorang dari kami untuk dirinya sendiri, tapi biasanya kami bisa mengatasi 5 orang. Bos yang akan menentukan siapakah mereka itu.”

“Bos?” kataku.

“Ya, bos kami secara langsung, bukan Tuhan; tidak, yang saya maksudkan adalah malaikat yang ditugaskan untuk tugas menolong ini. Sementara kamu hidup di dunia, sayalah yang akan menjawab seruanmu untuk pertolongan. Jadi jangan melakukan aktivitas mendaki gunung ya,” dia tertawa.

 

Dia membuatku takjub.

 

 “Sudah cukup buahnya?” dia bertanya.

 

“Ya, terima kasih,” kataku. Baki buah pun kemudian menghilang.

 

 

SARAN

 

“Sekarang,” sang malaikat melanjutkan, “kau bisa kembali melalui jalan darimana kau datang. Bahaya untuk saat ini sudah berlalu, tapi saya akan menyarankan kau untuk mengambil jalan menuju ruang tahta. Kau pasti berada disini untuk suatu alasan, tapi pengetahuan itu belum diberitahukan kepadaku. Ayahmu bisa memberitahumu alasan kau datang kemari.”

 

“Ayahku?” saya berkata, menatap sekilas ke arah taman, terhilang dalam bayangan. Sepertinya tidak dapat dibayangkan, bukan hanya saya ada di Surga, tetapi juga saya bisa pergi menemui Ayah surgawiku seperti anak kecil yang pergi menemui ayah duniawinya.

 

“Tentu saja,” dia berkata, membaca pikiranku. “Ambil saja jalan itu.”

 

“Apakah jalan ini mengarah ke ruang tahta?”

 

“Semua jalan-jalan disini mengarah kepada Tuhan. Mereka tidak seperti jalan-jalan di Bumi.”

 

Saya melihat ke arah jalan tersebut seolah sebuah horizon yang terlampau jauh untuk diraih.

 

“Pergilah,” dia tertawa. “Pergi jumpai Ayahmu. Saya akan berada disini bila tiba waktunya bagimu untuk kembali.”

 

Saya berbalik untuk menyelidiki wajahnya.

 

“Tidakkah kau ingin tahu alasan mengapa kau berada disini?” tanyanya.

 

“Ya,” seru saya sambil tertawa.

 

Dia melempar tangannya ke atas dan sambil mengangkat bahu, seolah ingin berkata, “Jadi?”

 

“Terima kasih,” kata saya dengan tulus.

Dia tersenyum padaku dan berkata dengan pelan, “Pencipta semesta alam ini ingin ditemani olehmu. Jangan membuat Dia menunggu.”

 

Saya tersenyum dan menunjukkan kepadanya bahwa saya melangkah ke arah jalan tersebut.

 

Dia memanggilku, “Saya akan berada disini ketika tiba waktunya untuk kembali.”

 

Saya melambai ke arahnya, memberitahu bahwa saya mendengarnya. Kemudian, sambil menahan nafas, saya mengarahkan wajahku menuju ruang tahta.

BAB 2

ISTANA PASIR

 

Menambah keterpanaan saya, jalan yang saya ambil  ternyata bergerak, seperti ban pinggang alat pengangkut barang atau sebuah jalanan yang bergerak, saya melihat kebawah ke kaki saya yang telanjang yang berdiri diatas permukaan yang licin dan luas.

 

Saat itu barulah saya menyadari bahwa ada  sepasang kaki lain disamping kaki saya. Saya tidak berjalan seorang diri. Saya melihat ke atas ke arah wajah seorang malaikat yang besar.

 

“Halo,” dia berkata dengan sikap resmi.

 

“Halo,” saya menjawab.

 

Dia kira-kira setinggi 7 kaki, dengan rambut pirang yang memiliki cahaya di dalamnya. Mungkin cahayanya berada di dalam dirinya dan bersinar keluar melalui kepalanya dan kemudian melalui rambutnya. Saya tidak tahu pasti. Wajahnya dibuat penuh dengan sikap otoritas.

 

Dia memakai jubah putih panjang dan memiliki sayap putih yang besar, dan kuat.

 

“Siapakah engkau?” saya lanjut bertanya.

 

 

MALAIKAT JANJI

 

“Saya seorang utusan,” sang malaikat menjawab.

 

Saya dapat merasakan suatu kuasa keluar dari dirinya. “Pesan apa yang kau kirimkan?” tanyaku.

 

“Janji-janji,” jawabnya. “Saya membantu membawa janji setia Allah kepada manusia.”

 

“Itu pekerjaan besar,” sedikit menyindir ( saya berharap dia bisa bersikap kurang resmi )

 

“Sangat,” dia mengangguk dengan  kaku.

 

Ternyata tidak. Jadi, saya pikir, mungkin tidak semua malaikat-malaikat itu sama. Roh yang ini sangat serius, seperti seorang duta besar. Tiba-tiba saya ingat bahwa dia tahu apa yang saya pikirkan. “Pernahkah kau membawa janji-janji di Bumi?” saya berseru dengan keras.

 

“Ya,” jawabnya, berhenti sebentar untuk menimbang perkataannya, “janjimu.”

 

“Punyaku!” seruku.

“Punyamu,” ulangnya. “Ketika kau datang ke dalam Kerajaan, Tuhan berkata padamu bahwa kau akan melihat ke dalam Surga, benarkah begitu?”

 

“Ya,” saya menjawab dengan ragu, melihat keluar ke arah pemandangan yang di lalui. Saya berusaha mengingat-ingat. “Hal itu sudah bertahun-tahun yang lalu.”

 

 

JANJI

 

Ketika saya datang kepada Tuhan 20 tahun yang lalu, saat itu adalah waktunya muzizat. Pada waktu itu DIA berbicara kepadaku beberapa janji yang berhubungan dengan hidupku di Bumi. Walaupun saya tidak menyimpan janji ini di depan pikiran-pikiran saya, saya menyadari bahwa DIA memenuhi sebagian dari janji-janji tersebut setiap hari. Tetapi janji yang satu ini, belum pernah dipenuhi. Awalnya (mencari dan menunggu pemenuhannya; setelah suatu waktu, bagaimanapun, kebutuhan yang mendesak menyita perhatianku sehingga saya sungguh-sungguh lupa).

 

 “Tidak ada yang terjadi” lanjut saya, “Dan....”  Suaraku menghilang. Saya mulai mengatakan bahwa saya telah melupakannya.

 

“Tetapi, Allah tidak melupakannya,” katanya, “dan pemenuhan waktunya telah tiba.”

 

Saya sulit sekali untuk mendengarkannya karena berusaha untuk menyatukan ingatan yang lalu dengan yang sekarang.

 

“Mengabaikan jalan-jalan Allah tidak serta-merta menghapuskan fungsinya” katanya. “Tentu saja, ketidakpercayaan yang besar memang menghalangi.”

 

“Tapi apa maksudnya itu?” tanyaku, menyelidiki wajahnya.

 

“Saya tidak memiliki hak untuk memberitahumu. Tanyalah Ayahmu. Sang Penyingkap Misteri akan menyingkapkan misterinya bagimu.”

 

Saya terhilang dalam keingintahuanku, jadi dia melanjutkan, “Allah kita sungguh setia dan benar, dan DIA mengasihimu.”

 

Sepertinya saat seseorang mengalami tekanan besar atau stress, seseorang bisa memikirkan hal-hal yang tidak biasa. Tiba-tiba saja saya ingin mengetahui namanya. “Siapakah namamu?” tanyaku.

 

“Carilah namaku di Alkitab. Ayahmu menginginkan kau bertumbuh dalam peneguhan dari Perkataan yang Tertulis akan semua hal yang kau lihat dan dengar. Carilah namaku,” katanya, dan kemudian dia menghilang.

 

 

TOUR

 

Sementara saya masih terkejut dengan kehadirannya yang mendadak menghilang, saya mendengar sebuah suara yang dikumandangkan melalui speaker besar, seperti dalam sebuah bus tour: “Bukit yang menyenangkan, tanah yang lembut, aliran air yang dingin...”

 

Saya berputar dan melihat seorang malaikat bersayap melambai masuk dan keluar kepada orang-orang yang berada di depanku di atas jalan bergerak, seperti pengumpul tiket dalam komedi putar. Dia juga mengenakan sebuah jubah putih, tetapi dia mengenakan sebuah topi biru yang bersulamkan TOUR GUIDE. Disekitar pinggangnya ada sebuah ikat pinggang perak yang mana tergantung sebuah penukar koin perak. Bagaimanapun, saya tidak pernah melihat dia menagih biaya tour kepada siapapun. Suaranya tinggi dan sekencang suara seorang di dalam festival; dia sedang menunjuk sebuah area yang menarik di Surga. “Semua aliran air mengalir dari bawah tahta. Semua mengalir dari sumber yang sama,” katanya, melambai melalui sekumpulan orang. “Kami semua berhenti disini supaya kamu bisa menikmati tempat ini.”

 

Jalan yang bergerak itu berhenti, dan orang-orang keluar dari barisan untuk melihat ke arah pemandangan. Tour guide-nya berbalik untuk menjawab jawaban seseorang, jadi saya pun ikut turun, berjalan ke arah sebuah aliran, dan duduk disisinya. Itu adalah saat pertama kali bagiku untuk dapat melihat secara dekat bunga-bunga yang ada di Surga.

 

Rumput-rumput terlihat seperti rumput, tetapi bahannya benar-benar berbeda. Kau bisa berjalan di atasnya, dan rumput itu akan kembali pada keadaannya yang semula saat bebannya terangkat. Ada beberapa, penanaman resmi seperti taman bunga di dekat aliran, tetapi lagi, ini bukanlah bunga seperti yang kita ketahui di Bumi. Mereka sempurna.

 

Saya mencondongkan seluruh tubuh saya di tepi air dan menaruh tangan saya ke dalam aliran. Dingin. Tapi, apakah ini air? Saya bertanya kepada diri saya sendiri. Tidak, pikirku, saya yakin itu adalah cahaya. Sekelompok malaikat terbang melintas di atasku. Mereka terbang dalam formasi wajik seperti sekumpulan angsa. Ketika saya berbalik untuk melihat ke dalam air, sebuah wajah lain melihat ke dalam aliran denganku.

 

 

GUNDUKAN PASIR

 

“Halo,” kata sebuah suara anak kecil.

 

Saya berbalik dan duduk menghadapnya.

 

“Apakah kau ikut tour?” tanyanya.

 

“Ya,” jawab saya, menatap ke arahnya. Dia muncul sebagai seorang anak berumur 5 atau 6 tahun, tetapi dia bersinar. Dia tidak memiliki sayap, dan matanya terlihat jauh lebih tua daripada umur yang terlihat dari tubuh fisiknya. Dia memakai penutup dada pucat diatas terusan berwarna pudar. Rambutnya keriting dan berantakan seperti sehabis bermain. Dia terlihat seperti seorang gadis kecil, tapi seringkali saya dapat melihat melalui lengan atau kakinya dan menyadari bahwa dia adalah sebuah roh. Dia menimbulkan tanda tanya.

 

“Sudahkah kau memulai tour-nya?” tanyanya.

 

“Ya, saya pikir begitu. Kenapa?” tanyaku.

 

“Saya ingin kau bermain bersamaku,” katanya.

 

“Bermain denganmu?” saya bertanya dengan heran.

 

“Dalam gundukan pasirku,” katanya. “Dapatkah kau datang?”

 

Pada saat itu tour guide berjalan menuju kami, dan saya berdiri. Saya bingung antara memilih untuk mengenal roh ini lebih lanjut dan melanjutkan perjalananku.

 

“Dapatkah saya pergi dengan......, siapa namamu?” tanyaku padanya, membungkuk ke arahnya seperti bertanya kepada seorang anak kecil.

 

“Cristal Bening.”

 

“Dapatkah saya pergi dengan Cristal Bening untuk beberapa menit?” tanyaku pada tour guide.

 

“Oh, baiklah,” katanya. “Temui kami di belukar Almond ketika kau selesai.”

 

“Bagaimana saya dapat menemukannya?” tanyaku.

 

“Kristal Bening akan menunjukkan padamu jalannya.”

 

“Ya, pasti,” katanya dengan penuh semangat. “Ayo ikut aku.”

 

 

SANG PELAJARAN

 

Tiba-tiba kami berada di sebuah tepi pantai yang sangat luas, tetapi tidak ada lautnya. Terlihat seolah-olah pantainya ada disitu, tetapi tidak ada lautan. Di atas pasir ada begitu banyak jenis sekop dan ember anak-anak yang berwarna merah dan biru.

 

“Tidakkah kau selalu ingin membangun istana pasir?” tanyanya.

 

Saya menahan tawaku, “Ya, tidak selalu, Cristal Bening.”

 

“Ya, kau ingin,” lanjutnya. “Pikirkanlah. Kau ingin membangunnya sewaktu di Bumi, dan semuanya itu adalah pasir. Ketika pasang datang, hancurlah istana pasir. Bahkan peralatan untuk membangun bertahan lebih lama daripada sebuah istana pasir, karena peralatannya datang dari Tuhan. Tetapi bila kau memakai mereka untuk membangun di atas pasir daripada di dalam kekekalan, apakah yang kau miliki? Sebuah penyia-yiaan waktu,” sambil mengangkat bahu. “Kau telah menginginkan sebuah istana pasir. Benar-benar bodoh, bukankah begitu?”

 

“Saya kira begitu,” saya berkata dengan pelan.

 

Saya tidak ingin mengakuinya. Saya telah menginginkan sebuah rumah dan keamanan keuangan dan untuk menyelesaikan sesuatu- untuk Tuhan, tentu saja- tapi saya punya visi impian untuk kehidupan di Bumi. Saya telah mengkristenkan injil dunia ini dan memasukkannya ke dalam paketku. Bukan hal yang menyenangkan untuk mendengar bahwa fokus hidupku penuh dengan kedagingan dan tidak berharga di mata Tuhan, dan bahwa saya masih belum melupakannya.

 

“Apakah kau ingin bermain?” dia melanjutkan sambil tersenyum.

 

Saya merasa sedikit sakit. Saya pikir saya akan merubah topiknya. “Mengapa ada area pasir yang besar?” tanyaku.

 

“Banyak yang ingin membangun di atas pasir, jadi kami biarkan. Biasanya akan keluar dari sistemnya, kau tahu. Mungkin bila kau membangun di atas pasir sekarang, kau akan merasa, ‘aku telah mengerjakannya.’”

 

“Sepertinya suatu tindakan bodoh,”  kataku sedikit tertegun.

 

“Ya, memang. Bagaimanapun, membangun di Bumi hampir sama: mainan bodoh yang sudah lama terlupakan di sini, mainan yang bahkan tidak mengumpulkan debu di gudang tapi telah bercampur dan sepenuhnya telah dilupakan disini- sebuah penyia-yiaan waktu Allah yang berharga,” dia berkata dengan sangat lembut.

 

Saya merasakan seperti ada sebuah coin perak di dalam mulutku. “Apakah baik bila kita tidak bermain hari ini?” tanyaku.

 

“Oh, baiklah,” katanya. “Apakah kau ingin bergabung dengan tour-nya?”

 

“Saya tidak tahu,” kataku dengan perasaan pusing. Saya merasa seperti telah di tabrak oleh sebuah truk. “Saya suka namamu, Cristal Bening,” kataku asam. “Sangat cocok sekali.”

 

“Mungkin sedikit istirahat,” katanya, seolah-olah dia tidak mendengar ucapanku. “Sekarang, ingatlah untuk kembali melihat kami. Kami mencintaimu disini; terus berhubungan ya.” Dia mengangkat kedua tangan kecilnya, dan saya mengulurkan kedua tanganku untuk membalas. Cahaya datang dari tubuhnya ke dalam tubuhku dan menyentuh lembut punggungku.

 

Saya berbaring di udara, seperti seseorang yang berbaring di atas ranjang yang di dorong sepanjang lorong rumah sakit. Lenganku bersilangan di atas dadaku, dan saya mengapung ke atas jalan seperti seorang pasien yang kembali dari operasi.


BAB 3

MALAIKAT DALAM PELATIHAN

 

 

Seorang malaikat mulai berjalan di sampingku saat saya mendarat di atas jalan.

 

“Siapa yang kamu cari?” sang malaikat bertanya.

 

“Saya pikir saya akan pergi menemui Ayahku di ruang tahta,” jawabku.

 

“Dia berada dimana-mana, tetapi ini bukan ruang tahta.”

 

 

AIR TERJUN BERTERAS

 

Saya telah mengapung hingga ke tepi sebuah kolam; saya mulai turun untuk beristirahat di atas rumput. Kolam itu berada di dasar sebuah teras air terjun yang tinggi. Bunga-bunga lavender dan tumbuh-tumbuhan yang bergantung tumbuh di tepian air terjun. Sebuah kabut tipis bergantung di atas kolam, yang disebabkan oleh air-air yang jatuh.

 

“Tempat apakah ini?” tanyaku.

 

“Salah satu dari taman,” sang malaikat berkata. “Sangat tenang disini. Mengapa kau tidak beristirahat di sini?” dia menyarankan, dan kemudian dia menghilang.

 

Ada sesuatu yang menenangkan dari suara air terjun, sesuatu yang penuh damai, tetapi juga seseorang yang sedang mengumamkan sebuah melodi. Suara itu bergetar melaluiku, menyentuh setiap bagian dari tubuhku. Kemudian sebuah suara yang tinggi mulai bernyanyi:

 

            Ada sebuah tempat dimana para pelancong beristirahat,

            Dan menaruh kepalanya dalam damai.

            Kembali kepada sarang sang Elang,

            Semua perang yang berkecamuk akan berlalu.

            O Domba Allah,

            Keinginan hati kami,

            O kebenaran di dalam Firman,

            Api yang kekal,

            O Domba Allah,

            Anak pilihan Allah,

            Menerima mereka ketika

            Suku mereka habis.

 

Saat lagu tersebut berakhir, secara perlahan muncul sebuah wujud dari kabut air terjun. Saya duduk untuk melihat penglihatan yang tidak biasa ini.

 

HEATHER DARI KABUT

 

“Siapakah kau?” tanyaku.

 

“Saya adalah Heather” jawab sang wujud. “Saya yang merawat bagian taman ini. Kadang-kadang jalan itu menuntun kepada air yang tenang atau kepada taman yang harum,” senyumnya.

 

Saya berbaring kembali ke atas rumput, karena saya lelah dan masih memulihkan diri dari pengalamanku di gundukan pasir.

 

Dia melanjutkan setelah berhenti sejenak, “Apakah kamu berharap untuk tumbuh dalam roh atau secara alamiah?”

 

“Dalam roh, tentu saja,” kataku.

 

“Maka taburlah ketaatan,” katanya. “Ayahmu mencintaimu. Saya tahu itu, atau kau tidak akan berada di sini. Kau tidak akan memiliki jalan masuk kepadaNya atau bisa memasuki taman yang harum ini.”

 

“Ceritakan padaku mengenai taman-taman ini,” kataku.

 

“Ada banyak, masing-masing diisi oleh kesukaan yang tak tergambarkan. Saya kira, karena berada di dalam jalan, kau selalu berharap untuk tiba di ruang tahta?” tanyanya.

 

“Ya, pasti.”

 

“Tapi Ayahmu menginginkan kau untuk melihat lebih banyak lagi dari tanahNya yang indah.”

 

 

PERTANYAAN

 

Tiba-tiba saya duduk, menatapnya lekat-lekat. “Heather, apa yang kau kerjakan disini?”

 

“Kami bertumbuh dalam Tuhan. Juga, saya yang merawat bagian kecil dari taman ini. Tetapi kami tidak perlu bekerja keras. Kami hidup dari apa yang kamu sebut pertumbuhan rohani.” Kemudian kembali kepada topik pembicaraan sebelum pertanyaan yang ku ajukan, dia menyapukan tangannya membentuk setengah lingkaran yang lebar.

 

“Area yang akan dikunjungi adalah area tanpa akhir dan melampaui pengertian.”

 

“Saya kelihatannya hanya seorang diri disini,” kataku, “tetapi saya tahu masih ada yang lain.”

 

“Ya, tapi Ayahmu menjawab doamu untuk bertumbuh dan belajar. Dia yang memutuskan bagaimana setiap anak akan diajar,” dia tersenyum. “Untukmu ada guru pribadi disini. Satu per satu. Tanyalah sesuai kehendakmu.”

“Saya sungguh merasa damai di tempat ini,” sambil mengangkat bahu. “Saya merasa sulit untuk memikirkan pertanyaan yang bisa kutanyakan.”

 

“Saya sudah pernah mendengarnya,” renungnya.

 

Saya hanya dapat memikirkan 1 pertanyaan saja, yang saya rasa juga telah saya ketahui jawabannya, tetapi saya bertanya juga: “Apakah kau memiliki persahabatan disini?”

 

“Ya, kami bahagia. Sebenarnya, ada banyak yang seperti saya disekitar, tetapi hanya saya seorang yang diutus kepadamu, sehingga hanya saya yang kamu lihat.”

 

“Mengapa kau dipanggil dengan nama Heather?” tanyaku.

 

“Karena bunga yang tumbuh di tengah kabut air terjun,” dia tersenyum, melihat jauh ke atas, taman berteras.

 

 

MALAIKAT CLARA

 

“Halo, Ann,” sebuah suara wanita berbicara dari belakang kami. “Heather,” suara itu melanjutkan, saat kami mengarahkan wajah kami kepadanya.

 

“Clara,” balas Heather; dia dengan segera bangkit melihat ke arahnya. Heather berbalik ke arahku. “Ini Clara, yang sangat cantik di antara kami di sini.”

 

Saya bangkit pula. “Halo, Clara,” kataku.

 

Dia memang makhluk paling cantik yang pernah ku lihat. Malaikat ini terlihat penuh kewanitaan dan mempunyai sebuah cahaya lembut keluar dari area kepalanya. Cahaya itu sepertinya berkumpul menjadi sekumpulan cahaya yang memancar keluar dari terang itu. Dia memecah garis kepalanya, rambut merah keemasan di tengah dalam sanggul di kuduk lehernya.  Dia memakai sebuah pakaian putih terurai, yang mirip dengan pakaian yang dikenakan oleh para wanita Roma sebelum Kristus lahir. Pakaiannya dikumpulkan dan diikat pinggangkan tepat dibawah daerah dada pada tubuh manusia. Matanya berwarna biru gelap.

 

 

UNDANGAN CLARA

 

“Saya datang untuk membawa Ann ke sesi latihan,” lanjut Clara.

 

“Jenis latihan apa?” tanyaku.

 

“Latihan untuk malaikat-malaikat penyembuh,” senyumnya.

“Oh,” kataku dengan lembut, karena dia membuatku terpana dengan menyebut area yang sangat menarik minatku. “Saya suka hal itu, tapi... “ saya berusaha mencari kata-kata seperti mencari petunjuk, “Saya berada dalam perjalanan menuju ke ruang tahta.”

 

“Hal ini sejalan dengan perjalanan yang kau tempuh,” senyumnya. “Ayah surgawimu menawarkanmu kesempatan ini.”

 

Saya melihat ke arah Heather untuk bimbingan. “Saya akan pergi bila saya adalah kamu,” dia memberi peneguhan. “Apakah kau mau mampir?” tanya Clara. “Ya,” jawabku dengan penuh minat.

 

Clara tertawa, “Terima kasih, Heather. Dia terlihat telah sangat disegarkan.”

 

“Ya, terima kasih, Heather.”

 

Saya menambahkan, melihat ke arahnya, tetapi ternyata dia sudah memudar ke dalam kabut air terjun, tersenyum dan mengangkat tangannya memastikan kepergian kami saat dia menghilang.

 

Kami pun menghilang tiba-tiba.

 

 

ANNEX

 

Dengan segera kami berada di luar sebuah gedung yang sangat besar yang memiliki sebuah papan nama diatas kedua daun pintunya: ANNEX. Sungguh suatu jarak yang sangat pendek untuk sebuah gedung yang besar yang memiliki papan nama dalam tulisan yang tidak dapat saya baca.

 

Saya berpikir dalam diriku, apakah perjalanan disini ditempuh secepat kita berpikir?

 

Kami memasuki gedung.

 

Sebuah auditorium besar yang hampir sama dengan auditorium-auditorium yang ada di kota-kota besar. Ada sejumlah besar deretan ruang, seperti di lantai dasar. Para malaikat memenuhi gedung. Mereka semua memakai sabuk lengan putih dengan sebuah palang merah besar di tiap sabuk. Mereka terlihat sedang menghadiri sebuah seminar.

 

Instruktur mereka berada di atas panggung yang tinggi di depan sebuah papan raksasa yang bersih yang menyerupai papan plastik, dia memegang sebuah pointer panjang yang akan menambah warna pada ilustrasi di papan dengan menyentuhnya. Dia tidak menggambar atau menulis, tetapi hanya menunjuk; mereka muncul di papan lengkap dengan designnya.

 

Clara mulai berjalan ke arah depan auditorium. Para malaikat tetap penuh perhatian, tetapi mereka bergeser ke samping supaya kami dapat berjalan melalui lorong. Kami berdiri di depan panggung, dan saya dapat melihat instrukturnya lebih jelas.

Dia mempunyai potongan seorang awak kapal dan memakai sabuk lengan putih dengan sebuah palang merah di tiap sabuk. Dia juga memiliki garis-garis pada lengan bajunya.

 

 

MALAIKAT PENYEMBUH

 

Saya berputar untuk melihat ke arah wajah para malaikat. Mereka terlihat seperti Serikat Bangsa dari perkumpulan para malaikat, mewakili banyak suku bangsa. Saya kira bahwa Tuhan akan mengirim mereka dalam tugas-tugas di seluruh bumi. Mereka sangat terfokus terhadap materi yang di ajarkan.

 

Sang instruktur melanjutkan, “Kalian menyadari bahwa kalian memainkan sebuah tugas yang sangat penting dalam meneguhkan kemenangan Allah kita dalam area kesehatan. Musuh akan menggunakan segala tipu muslihat untuk membawa orang-orang supaya tidak percaya, yang kepadanya kita telah diutus Tuhan. Dia adalah Tuan dari Ketidakpercayaan. Dia telah sukses secara luar biasa atas umat manusia secara umum dan dengan orang-orang pilihan secara khusus.

Seringkali lebih mudah bagi para umat yang ditebus untuk percaya bahwa Allah kita akan mencukupi kebutuhan mereka secara keuangan daripada untuk percaya bahwa Dia ingin umatNya sehat.

Kebangkitan kesembuhan akan dimulai. Bukan lagi 1, tetapi kami akan mengutus kalian berdua kepada tiap orang yang kepadanya telah dianugrahkan karunia kesembuhan. Kami ingin kalian bekerja bersama sekarang. Kami mempunyai lencana untuk kalian pasangkan pada mereka yang menerima karunia ini.”

 

Dia mengangkat sebuah lencana. Berwarna hijau dengan huruf-huruf merah: PERCAYA SAJA.

 

“Kita memiliki sejumlah besar yang ditebus yang akan berada disini nanti, yang akan bertindak seperti umat percaya di Bumi. Jangan menjadi ragu karena apa yang mereka katakan padamu. Mereka ada disini untuk menunjukkan kepada kalian seperti apa yang akan kalian hadapi dengan tanggungjawab ini.

Beberapa tanggapan yang mereka berikan padamu terlihat mustahil, tetapi sebenarnya adalah biasa. Kalian akan mampu melihat bagaimana efektifnya musuh telah mengikis kepercayaan akan anugrah kesehatan yang dengan penuh murah hati telah disediakan Tuhan. Bekerjalah melalui ketidakpercayaan ini.

Kami telah memberikanmu ‘kekebalan’ untuk kebangkitan ini. Akan sangat banyak, banyak dengan karunia kesembuhan pada waktu ini. Ada pertanyaan?”

 

“Kapankah hal ini akan terjadi?” teriak seorang malaikat jauh dibelakang.

 

“Tuhan Allah, Yang Maha Kuasa, yang mengetahui. Kalian hanya perlu bersiap!” jawabnya kepada malaikat yang mengajukan pertanyaan. “Dia memang berkata, ‘Segera’; hanya itu yang bisa saya katakan padamu. Itulah alasan mengapa ada mobilisasi dan latihan yang intensif. Ada pertanyaan lain?”

 

Hening.

“Baiklah, saya ingin kalian kembali di sini setelah kerjamu bersama yang ditebus. Jangan, dan biar ku ulangi ini, jangan mempertanyakan secara pribadi yang ditebus sehingga kalian ‘dipecat’ sebelum penugasan ini. Kami ingin akibat dari jawaban mereka menghantam kalian sekaligus. Jika tidak ada pertanyaan lain, kalian dibubarkan.” Gelombang suara terdengar saat para malaikat bangkit dan mulai berbicara satu sama lain sambil meninggalkan auditorium. Clara dan saya mulai menaiki anak tangga menuju ke atas panggung. Sang instruktur sedang membersihkan papan yang transparan saat kami tiba di atas.

 

 

MALAIKAT INSTRUKTUR

 

“Halo, Clara. Siapakah ini yang bersama denganmu?” godanya, seperti seorang dewasa menggoda seorang anak kecil yang sangat ia kenali.

 

“Saya yakin kau mengenal Ann,” kata Clara, ikut bermain.

 

Matanya mengedip. “Ya, tentu saja saya kenal. Jika saja saya tidak mengatakan kepada para pelatih untuk menahan diri dari menjejalkan diri ke dalam ujian ini, saya pasti telah membiarkan Ann untuk memberikan beberapa jawaban yang akan mereka terima di Bumi.”

 

“Sekarang, Chabburah,” senyum Clara, mengoyangkan kepalanya seperti saat seseorang berpura-pura menjadi seorang pelawak kawakan. Saya tahu apa yang ia maksudkan, bagaimanapun, sehingga saya mengubah topik.

 

“Apakah arti garis-garis di lengan baju-mu?” tanyaku.

 

“Oleh bilur-bilurNya kita telah disembuhkan,” senyumnya dengan lembut, melihat ke arah garis-garis tersebut.

 

Clara melanjutkan: “Kami sedang berada dalam tour. Apakah kau memiliki saran?”

 

“Taman Gantung...” sarannya.

 

“Bukan,” tawa Clara, “mengenai malaikat penyembuh dan kebangkitan yang akan terjadi dalam area kesembuhan.”

 

Dia melihat kepada catatan di tangannya dengan keseriusan yang sedikit mengejek. “Ya, saya lihat disini bahwa Ann tercatat untuk sepasang malaikat terbaikku.”

 

“Saya?” tanyaku. “Apakah mungkin?”

 

Saya tahu bahwa Allah telah memberikan karunia ini kepada beberapa anakNya. Kenyataannya, saya telah melangkah ke dalam aliran suatu karunia pada suatu waktu. Hal itu seperti Tuhan telah menyembuhkan setiap orang untuk siapa saya telah berdoa. Hal yang mengagumkan dan pengurapan yang supernatural ini bertahan untuk beberapa bulan, dan kemudian hilang. Mengapa Ia memberikannya dan mengapa pengurapan itu diangkat, saya tidak pernah mengerti. Sejak waktu itu, ada lebih banyak pertanyaan-pertanyaan di dalam pikiranku.

 

 

 

KELAS-KELAS

 

Sang instruktur tidak merespon pada percakapan dalam hati saya, tetapi melanjutkan, “Clara, saya akan menyarankan untuk dia memulai kelasnya segera. Dia hampir menyerupai contoh klasik dari seorang ‘pemercaya agar-agar’ – ‘sentuh dan akan bergoyang’. Saya akan mengajar kelas ini sendiri,” lanjutnya.

 

“Dia dapat mempelajari seri pelajaran ini di rumah dengan cara bersuratan, tetapi karena dia berada di sini sekarang, dia bisa tour ke sekeliling rumah persediaan.”

 

Clara berbalik ke arahku. “Apakah kau menyukai hal itu?”

 

“Ya,” kataku. “Jika Tuhan akan memakaiku untuk berdoa bagi kesembuhan bagi yang lain, saya.... ya, saya perlu belajar semua yang saya bisa.”

 

“Baiklah,” katanya. “Kau bisa memulai dengan tour ke sebelah; kami akan mengabarimu saat kau akan memulai kursusmu di rumah. Bagaimana dengan itu?”

 

“Kedengarannya bagus bagi kami,” kata Clara, “Kami akan segera memulainya. Terima kasih.” Dia mulai membawa kami menuju ke anak tangga panggung.

 

“Ya, terima kasih,” kataku.

 

 

PERMINTAAN

 

Dia kembali memanggil kami, “Sekarang jangan berbicara kepada salah seorang dari para murid dalam perjalananmu keluar. Kau mungkin akan menyebabkan salah seorang dari mereka tersandung dan mengajukan pertanyaan padamu,” sambil menahan tawa. Tiba-tiba, seolah-olah teringat oleh sebuah pikiran, dia memanggil kami.

 

“Tunggu sebentar. Ini sungguh adalah kesempatan yang luar biasa. Kau disini, dan...” Saya tidak dapat memahami apa yang ia katakan. “Apakah kau bersedia untuk dipertanyakan oleh para murid supaya mereka dapat mendengar argumentasimu?” tanyanya. “Terkadang sungguh sulit bagi para yang ditebus di atas sini untuk mengingat mengapa mereka berpikir seperti mereka berpikir saat di Bumi. Apakah kau bersedia?”

 

“Belas kasihan,” saya tertawa dengan ringan. “Apakah saya sekuat itu?”

 

“Tidak, tidak, tidak,” katanya, menaruh catatannya dan kemudian menaruh tangannya di atas bahuku. “Kau hanyalah... sejenis orang yang memberikan alasan di Bumi.”

 

“Jika hal itu bisa membantu bagimu dan juga yang lainnya..” kataku.

 

“Pasti,” balasnya. “Bagus! Kau dan Clara tour di sebelah. Kami akan mengabarimu disana,” katanya, kembali kepada papan besar itu. Tapi dengan segera ia berputar melihat ke arah kami. “Sekarang, jangan tanya Clara mengenai kesembuhan,” senyumnya.

“Kami ingin contoh mentah bagi mereka.”

 

“Oke,” sambil tertawa.

 

Dia kembali kepada papannya, dan kami mulai menuruni anak tangga.

 

Dengan segera kami berada di belakang auditorium besar dan keluar melalui kedua daun pintu.

 

Saat kami melangkah dari gedung, kami dapat melihat ribuan malaikat yang akan dilatih duduk di halaman rumput dalam 2 bagian dengan 1 orang atau 2 orang yang ditebus. Mereka berada dalam diskusi yang dalam.

 

Saya melihat ke atas kepada papan nama di atas pintu gedung ke arah kami berjalan. Saya tidak dapat membacanya sebelumnya, tetapi sekarang, kepada keterkejutan saya, tulisan itu muncul dengan jelas: BAGIAN-BAGIAN TUBUH.

 

Clara membuka pintu, dan kami berjalan ke dalam.

 

 

 

 

 

 

 


BAB 4

MALAIKAT-MALAIKAT PENYEMBUH

 

 

Rumah persediaan sangatlah luas, sebesar ruang auditorium yang baru saja kami tinggalkan dan seputih ‘ruang bersih’ di sebuah labotorium penelitian. Terlihat tidak seperti biasanya terang dalam gedung, seolah-olah isinya di awetkan atau di tetas dalam cahaya.

 

“Gedung ini menyimpan persediaan akan bagian-bagian dari tubuh manusia,” kata Clara.

Ada banyak kotak demi kotak yang berisi bagian-bagian dalam segala warna dan ukuran.

 

 

PARA PEKERJA RUMAH PERSEDIAAN

 

Malaikat berpakaian putih bekerja di dalam. Malaikat-malaikat ini seukuran dengan manusia dan tidak memiliki sayap. Masing-masing memakai sabuk lengan dengan palang merah yang sama di atasnya. Salah satu dari malaikat ini berjalan ke arah kami. “Kami sangat senang bahwa kau telah datang mengunjungi departemen bagian tubuh, Ann.”

 

“Bagaimana kau mengenal saya?” tanyaku.

 

“Kami mengenal setiap orang yang telah tercatat untuk karunia kesembuhan,” senyumnya. “Kau perlu tahu bahwa bagian ini tersedia.”

 

Dia berjalan bersama kami melalui lorong tengah yang lebar. Saat saya melihat ke arah kotak-kotak, saya heran bagaimanakah rasanya untuk memiliki karunia kesembuhan sepanjang sisa hidupku. Melalui Perkataan yang Tertulis, Yesus memerintahkan kita untuk menyembuhkan yang sakit dan membangkitkan yang mati, tetapi saya bukanlah salah satu dari orang-orang yang melaluinya Ia telah memenuhi perkataanNya secara konsisten. Penyembuhan terlihat seperti tugas yang umum bagi orang Kristen seperti ‘ayo...,’ tetapi banyak di antara kami yang hanya melihat sedikit saja dari kuasa gereja mula-mula untuk menyembuhkan secara fisik. Saya selalu membuat alasan bagi yang lainnya dan bagi diriku sendiri, tetapi secara rahasia, saya heran mengapa.

 

Sang malaikat melanjutkan, “Kami siap di sini. Tuhan telah membuat banyak persediaan. Silahkan nikmati tour-mu.”

 

“Tentu saja,” kata Clara.

 

“Ya,” kataku, sedikit bingung.

 

Dia membungkuk sedikit dari pinggang dan melangkah berbalik kembali kepada pekerjaannya.

 

 

HALAMAN

 

Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada Clara. Tiba-tiba saja sebuah kertas mengapung di depan kami dan berhenti di udara. Tertulis, “Dimohon untuk kembali ke ruang Annex.” Dan kemudian menghilang.

 

“Ini lebih cepat daripada yang saya pikirkan,” kata Clara.

 

Kami berbalik dan mulai berjalan menuju ke arah pintu rumah persediaan. Dalam nada yang terburu-buru saya berkata, “Oh Clara, hal ini mulai terasa sangat mendebarkan. Saya akan mampu membantu para malaikat ini. Sungguh sebuah kehormatan... sungguh suatu karunia!”

 

“Ya,” dia setuju.

 

“Dan pikirkanlah, saya mungkin akan melihat beberapa dari malaikat-malaikat ini dengan orang-orang lain saat kebangkitan,” saya tertegun.

 

Kami mulai keluar dari rumah persediaan dan menyebrang menuju gedung Annex.

 

Saya sedang berkata-kata kepada diriku sendiri, “...untuk membantu para malaikat.” Kemudian saya menujukannya kepada Clara lagi, “...karena kalian para malaikat sangat membantu kami, tetapi sangat jarang kami mendapat kesempatan untuk membantu kalian.”

 

Dia memberikan senyuman bijak yang sepertinya menunjukkan bahwa hal ini tidak benar tetapi tidak mau memadamkan minat semangatku.

 

 

MALAIKAT-MALAIKAT YANG MEMILIKI GARIS-GARIS

 

Kami memasuki gedung Annex. Sekali lagi sekumpulan malaikat-malaikat memenuhi ruangan. Sekelompok malaikat berada di atas panggung. Mereka tidak memakai sabuk lengan tetapi memiliki garis merah di atas dan di bawah lengan pakaian mereka. Kami berdiri di belakang.

 

“Ini adalah malaikat-malaikat yang memiliki garis-garis,” kata Clara. “Tuhan menugaskan mereka kepada umat percaya menjelang hari-hari terakhir kebangkitan kesembuhan.”

 

“Jumlah mereka tidak banyak,” kataku.

 

Clara mendesah, “Tidak, hanya sedikit yang di Bumi diberikan karunia kesembuhan dalam jumlah yang besar. Umat percaya ini diharapkan untuk melatih banyak; tetapi, banyak dari mereka membangun tenda dan menyimpan karunia kesembuhan untuk diri mereka sendiri. Karunia itu dipakai, tetapi sejak mereka tidak melatih yang lain, dikorupsi dan menjadi alat untuk memperkaya diri sendiri.”

Dia melirik sekilas ke seluruh ruangan auditorium besar dan tersenyum seraya melanjutkan, “Ruangan yang penuh ini hanyalah satu kelompok yang akan dilatih. Yang lain berada di tingkat pelatihan yang berbeda; beberapa telah mendapatkan garis-garisnya dan mulai bergabung dengan mereka kepada siapa Tuhan telah menugaskan mereka. Banyak dari yang di tebus di Bumi telah menjalani kursus menyurat, banyak bahkan tanpa mengetahuinya. Umat percaya perlu menyelesaikan kursus tersebut sebelum dia menerima kedua malaikat yang ditugaskan. Jadi, setiap orang berada dalam pelatihan saat ini, bukankah begitu?”

 

“Apakah kursus surat-menyurat ini sama dengan yang akan saya lalui?” tanyaku.

 

“Ya,” katanya. “Pelajaran mengenai kesembuhan menurut Firman.” Dia kemudian kembali memfokuskan perhatiannya kepada para malaikat di atas panggung.

 

Ada sebuah cahaya yang besar datang dari para malaikat ini. Salah seorangnya berkata. “Tuhan mengharapkan bahwa kita yang akan dipakai pada hari-hari terakhir kebangkitan untuk bersatu di Bumi sebelum pencurahan akan Roh Kudus dimulai. Kalian bisa mengatakan bahwa kita adalah bagian penutup dari apa yang akan terjadi. Suatu penghormatan bagi kita untuk bersatu dalam perayaan yang akan dimulai sebagai pelayan dalam kegerakan besar dari Tuhan kita akan kesembuhan.”

 

Seorang dari malaikat menambahkan, “Kami tahu pertanyaan kalian selanjutnya yaitu: Kapan?”

 

Ada tawa yang tertahan dari malaikat-malaikat yang dilatih. “Kami tidak tahu kapan, tetapi Tuhan telah berkata, ‘Segera’. Saya berbisik kepada Clara, “Sungguh malaikat yang indah.” “Ya,” katanya.

 

 

PENCURAHAN SEBELUMNYA

 

Malaikat lain di atas panggung berbicara. “Apa yang akan terjadi pada hari terakhir akan pencurahan besar dari Roh untuk kesembuhan sangatlah menyakitkan bagi kita.” Mereka menggeleng kepala mereka, bergantian berpandangan dengan wajah sedih.

 

“Pengikisan merayap masuk,” yang lain berkata, “dosa demi dosa yang sukar dipahami. Akhirnya, banyak yang telah mengikis karunia tersebut melampaui pengenalan kita yang melayani mereka.”

 

“Umat manusia mungkin tertipu oleh penampilan luar,” malaikat lain berkata, “tetapi kami melihat semua yang terjadi. Allah tidak dapat dipermainkan.”

 

Mereka berhenti sejenak; gravitasi dari apa yang telah terjadi masih terasa menyakitkan bagi mereka.

 

Malaikat pertama berkata lagi. “Dalam kebangkitan yang pertama ini, karunia tersebut akan tersebar luas sehingga pengikisan akibat dari kesombongan dan kekuasaan akan sedikit sekali terjadi.”

 

Dalam pernyataannya, malaikat lain menambahkan, “Tapi saksikan ini: kesombongan, keinginan akan kekuasaan, ketamakan, dan keinginan birahi.”

 

“Setan yang akan kau perangi tidak akan semakin berkurang, tetapi setan sekuat diri kalian dan dengan tekad yang penuh kemarahan karena waktunya sangat singkat,” malaikat pertama berkata. “Kami kembalikan pertemuan ini kepada Chabburah lagi,” dia menyudahi.

Para malaikat yang duduk di dalam auditorium berdiri di hadapan para malaikat di atas panggung dan meniup kepada mereka. Saya kira ini adalah seperti semacam bentuk dari sambutan tepuk tangan.

 

“Terima kasih,” senyum mereka.

 

Chabburah berbicara kepada mereka dengan singkat. Kemudian mereka meninggalkan panggung. Chabburah berjalan menuju ke tengah panggung. “Ingat, teman-teman ini tidak hanya mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dan membantu, bukan hanya sekarang, tetapi juga ketika kebangkitan dimulai.”

 

Malaikat yang lain menyentuh malaikat dengan garis-garis saat yang terakhir berjalan melalui kerumunan. Saat mereka berjalan, mereka melihatku dan mengenal Clara. Malaikat terakhir berhenti di depanku. “Halo Ann,” katanya, menyentuh bahu kananku. Dia melihat ke dalam mataku dan kemudian melihat kepada Clara, tersenyum, dan pergi.

 

“Santai sedikit,” kata Chabburah, “karena Ann telah datang untuk bersama kami.”

 

 

BERSIAP UNTUK MENGAJAR

 

Clara mulai memindahkan kami ke depan auditorium. Para malaikat tersenyum saat kami berpapasan. Mereka bergerak dan saling berbicara di antara mereka.

 

Chabburah sedang menanti kami di atas panggung, tersenyum, mengikuti kami dengan matanya. “Disini kau berada, Ann,” katanya emosional.

 

“Ini sungguh cepat sekali,” Clara mengingat.

 

“Dia akan mengajukan pertanyaan kepadamu,” dia menggoyangkan jarinya kepadaku, seperti seorang yang menggoda seorang anak kecil. “Kemarilah,” dia menambahkan. “Saya mempunyai kursi untuk kalian berdua. Duduklah dan buatlah diri kalian sendiri nyaman.”

 

Kemudian dia berbalik kembali ke auditorium. “Baiklah, silahkan duduk,” dia berkata kepada mereka yang sedang berbicara. “Kau bisa berbicara nanti.” Dia mengarahkan tubuhnya kepadaku. “Ann sekarang bersama kita. Dia telah dengan murah hati menerima undangan untuk menjawab pertanyaan apa saja yang kalian miliki mengenai dirinya atau manusia secara umum.”

 

Saya menatap jubah Chabburah. “Saya tidak mengetahui semuanya,” saya berbisik kepadanya.

 

Semuanya tertawa.

 

Dia tersenyum, “Kami tahu bahwa kamu tidak mengetahui semuanya. Begitu pula kami, jadi kita semua berada dalam 1 perahu. Saya akan berdiri di pinggir dan kau bisa memulai.”

 

 

MENGAJAR PARA MALAIKAT

 

Saya tidak tahu bagaimana pertemuan tersebut akan di adakan, tetapi saya tentu saja tidak berharap akan diserahkan “mic-ya”. Saya sedikit kaku saat memulai. “Pertama-tama, sungguh suatu berkat bagiku untuk bisa membantu kalian. Hmmm....” saya tidak tahu harus memulai darimana, jadi saya hanya melompat saja ke intinya. “Ya, kebanyakan orang-orang di Bumi tidak percaya dengan penyembuhan ilahi.”

 

Dengan segera gumaman memenuhi auditorium.

 

Saya melanjutkan, “Bahkan mereka yang diselamatkan mempunyai masa-masa sulit untuk mempercayai.”

 

Terdengar suatu reaksi yang keras. Keterkejutan mereka luar biasa sehingga saya melihat kepada Chabburah. Dia mendorong saya untuk melanjutkan.

 

“Bahkan mereka yang telah melihat kesembuhan ilahi mempunyai kesulitan untuk mempercayai sepanjang waktu.”

 

Ada suatu kewaspadaan yang umum memenuhi auditorium.

 

“Tahan sebentar,” kata Chabburah. Kemudian dia berkata kepadaku, “Mengapa kau tidak menyarankan kepada mereka untuk bertanya kepadamu?”

 

“Apakah kalian ingin menanyakan suatu pertanyaan?” saya bertanya dengan malu-malu.

 

 

PERTANYAAN MALAIKAT

 

Seorang malaikat bangkit dari kursinya dan berbicara dengan keras, “Tidakkah mereka percaya kepada Firman?”

 

“Bagi mereka yang tidak mengenal Yesus, tidak, tentu saja. Beberapa umat percaya pasti percaya, tetapi banyak dari umat percaya yang tidak percaya.”

 

Ada sebuah keheningan yang mematung di dalam auditorium. Saya melihat kepada Chabburah. “Beri mereka waktu, Ann,” katanya. “Mereka terkejut.”

 

“Beberapa umat percaya, kau lihat, berpikir bahwa sebagian dari Alkitab tidak berlaku lagi hari ini, bahwa sebagian hanyalah untuk masa lampau,” kataku.

 

Seorang malaikat yang di dekat panggung berkata dengan suara yang normal karena heningnya suasana, “Tetapi Firman berkata bahwa Sang Kekal adalah sama kemarin, hari ini, dan selamanya. Mengapa mereka beranggapan bahwa Firman terpisah dari DIA? DIA-lah sang Firman.”

 

Ada sebuah kesepakatan umum dari para malaikat mengenai hal ini.

 

“Ya,” saya mengangkat bahu dan tertawa, “begitulah pikir mereka.”

 

“Menurutmu?” yang lain bertanya.

 

“Saya percaya akan penyembuhan, dan saya percaya bahwa Tuhan menjanjikan kesehatan dan bahwa IA telah membayar untuk kesembuhan bagi umat percaya, tetapi saya juga tidak memahaminya.”

 

“Ini adalah sebuah janji perjanjian,” malaikat lain berkata, bangkit dari kursinya. “Oleh bilur-bilurNya DIA telah menyatukan kamu kembali atau memperbaiki atau menyambungmu kembali kepadaNya yang adalah kesehatan ilahi. Hal ini adalah pasti.”

 

“Tetapi seringkali orang menjadi sakit,” kataku.

 

Malaikat lain berkata, “Ini adalah sebuah janji perjanjian, seperti yang telah dikatakan. Seseorang perlu untuk tinggal dalam Kristus.”

 

“Tentu saja, bila seseorang secara sukarela menyalahgunakan tubuh duniawinya....,” kata yang lain.

 

“Pengampunan sangat diperlukan,” yang lain menambahkan tanpa berdiri. “Putuskan rantai kebersamaan bersama Kristus, dan beberapa jenis penyakit akan muncul.”

 

“Sebagaimana malam berganti hari,” mereka semua berkata. Kau dapat melihat bahwa mereka semua adalah anggota kelas. Mereka semua tertawa.

 

Saya menyela, “Tetapi banyak yang akan menerima karunia ini tidak akan tinggal dalam perjanjian kesepakatan yang telah dimenangkan oleh Yesus. Bagaimana hal ini mungkin?”

 

 

ANUGRAH

 

Sekali lagi mereka semua tertawa, merespon dalam kesatuan, “Anugrah.”

 

Chabburah menjelaskan, “Akan ada pencurahan anugrah yang besar saat Roh Kudus bergerak dalam kekuatan dalam kebangkitan yang akan datang.” Saat ia berbicara kepadaku, ia menambahkan, “Apakah kau lelah, Ann?”

 

“Ya, semuanya ini terlalu banyak,” saya menahan sedih.

“Murid-murid,” kata Chabburah, “Cukup untuk hari ini. Mari kita berdiri dan berikan Ann tepukan yang meriah.” Para malaikat berdiri dan tersenyum saat mereka bertepuk tangan. “Baiklah, baiklah,” katanya, “Cukup. Kalian dibubarkan.” Dia berbalik ke arahku, “Terima kasih, Ann. Tadi itu bagus sekali. Murid-murid ini berpikir mereka tidak mungkin bisa dikejutkan lagi.”

 

“Mengapa mereka tidak meniup kepadaku seperti mereka meniup para malaikat yang ada disini sebelumku?” tanyaku.

 

Dia tertawa dengan keras. “Hal itu mungkin membunuhmu,” katanya.

 

“Mereka menyalurkan nafas Allah kepada mereka. Itu adalah pujian tertinggi yang dapat mereka berikan kepada para malaikat yang mengajar. Para malaikat, menjadi roh sebagaimana mereka sesungguhnya, bisa menerimanya. Mereka hidup dengan itu. Nafas itu seperti makanan bagi mereka. Walaupun kau berada sebagai roh disini, beberapa pengalaman melampaui kapasitasmu saat ini.”

 

Dia menaruh satu tangan dibelakang Clara dan satu tangan dibelakang saya saat kami mulai melangkah pergi. Saya dapat katakan bahwa dia sedang menguatkanku saat kami berjalan. Dibawah anak tangga berdiri 2 malaikat pirang yang terlihat gugup.

 

 

 SANG KEMBAR

 

“Chabburah,” salah satu berkata, “kami ingin bertemu dengan Ann.”

 

“Tentu saja,” katanya dengan pengertian yang sangat besar, hampir sangat lembut. “Ann, inilah kedua malaikat yang Tuhan tugaskan untukmu saat kebangkitan.”

 

Kedua malaikat ini setinggi 7 kaki, muda, 18 hingga 20 tahun; mereka terlihat sama. “Kalian terlihat seperti kembar,” kataku.

 

“Ya,” yang lain berkata, “Saya Rapha, dan dia adalah Raphashanah.” Kata Raphashanah, “Terima kasih telah berbagi dengan kami. Kami memerlukan banyak pengertian sebanyak yang mungkin sebelum kami memulai tugas kami.”

 

“Terima kasih telah mengatakannya.” Kataku. “Saya menjadi letih, dan Chabburah merasa itu sudah cukup.”

“Tadi itu sangat membantu,” kata Rapha.

 

“Saya akan mengikuti kelas-kelas; mungkin kita dapat berbicara lebih banyak kemudian,” tambahku.

 

Mereka melihat kepada Chabburah. Dia mengangguk ya. “Ya,” mereka tersenyum lebar, “kita berbicara lebih banyak lagi kemudian.”

 

“Kalian murid akan melewatkan kelas kalian berikutnya bila kalian tidak bergegas,” Chabburah berkata kepada mereka.

 

“Baiklah,” mereka tersenyum, “kita berjumpa lagi nanti.” Dan lari.

 

“Saya tinggal di sini, Clara,” kata Chabburah. “Dan terima kasih, Ann. Tadi itu sangatlah membantu. Sekarang, jangan lupa, kami akan mengabarimu saat kelas akan dimulai.”

 

“Saya akan siap,” kataku sambil memeluknya. Saya belum pernah memeluk malaikat. Mereka tidak terasa persis seperti daging dan darah di Bumi. Tidak juga keras, saya kira itu adalah cara terbaik untuk menggambarkannya, tetapi kokoh.

 

“Sampai jumpa nanti, Clara,” katanya.

 

“Ya,” balasnya.

 

“Selamat tinggal,” ucap kami, dan kami mulai berjalan menjauhi panggung. Tiba-tiba kami berada dibelakang auditorium dan keluar melalui pintu-pintu. Saat melangkah ke dalam jalan, kami dengan segera menjauhi kedua gedung tersebut.

 

 

DIA DATANG

 

Dengan segera di depan jalan kami ada sebuah cahaya membakar. Ratusan roh mengelilingi kecermelangan ini, seperti anak panah memancar ke dalam dan mengangkat keluar seperti elang menangkap arus panas. Mereka terbang dengan cahaya seolah-olah sedang mengawalnya. Begitu terangnya cahaya ini hingga membuat para roh terlihat seperti garis-garis perak dalam sinarnya. Mengingatkanku akan bayangan yang berlalu di depan sebuah terang lampu besar di sebuah gelap malam, walaupun disini tidak ada kegelapan yang menyelubungi. Semuanya menjadi pucat yang berada di dekat cahaya cemerlang ini.

 

Clara berbicara padaku. “Dia datang,” katanya. “Dia datang untukmu, Ann.”

 

Kedua wajah kami menangkap gemerlap sinarNya. Jantungku melompat di dalamku, tetapi sebuah damai meliputiku seperti minyak yang hangat.

 

Clara melanjutkan, “Kita akan bersama lagi nanti. Semua perhatianmu perlu diberikan kepadaNya sekarang.” Dia tersenyum kepada cahaya itu dan menghilang.


BAB 5

TUHAN YESUS

 

Dia datang – Cintaku, Sahabatku. Nafasku tertahan,dan lututku lemas saat Ia datang mendekat. Kemudian, seperti sebuah pohon yang ditelan oleh awan debu dari topan angin yang tiba-tiba, awan KemuliaanNya menguasaiku. Para roh masih bergerak masuk dan mengangkat keluar di sekeliling, tetapi yang hanya dapat saya lihat adalah DIA.

 

 

MENGINGAT

 

Saya telah melihat DIA berdiri di dalam tempat kudus dari sebuah Gereja beberapa kali selama periode 1 tahun. Yang terakhir kali adalah 2 ½ bulan lalu. DIA sedang berdiri setinggi 24 kaki dalam tempat kudus sebuah Gereja dimana para pendeta berkumpul untuk pertemuan doa sekota. Hari itu adalah hari Yom Kippur. Selama 4 tahun kami telah bekerja dalam gerakan doa sekota dari area metropolitan, dan kami telah kembali ke kota untuk konferensi Alkitab setelah bepergian selama 1 tahun.

 

Pada waktu itu DIA berdiri di tempat kudus, sebuah pelangi mengelilingi DIA, berpakaian dalam jubah multiwarna yang berkilauan. Cahaya yang memancar dari diriNYa terlihat hidup. Tiba-tiba DIA berubah wujud ke ukuran seorang manusia dan berbicara.

 

“Lihatlah Aku,” kataNya. MataNya, walaupun jauh, tiba-tiba mendekat dan memaku, seolah terbakar.

 

Saat saya melihat ke dalam mataNya, jubah dengan warna yang bergetar bersinar melalui tubuhNya, sampai padaku, dan membungkus tubuhku. Saya dapat merasakannya seperti saya melihatnya.

 

Kemudian, tanpa berjalan, Dia datang tepat melalui ke dalam tubuhku. Dia menghadap ke belakang kepalaku, dan saya sedang melihat ke belakang kepalaNya. Dia berputar sementara di dalam tubuhku, dan kami berdua menghadap ke arah yang sama, kami berdua memakai jubah. Setelah ini saya mempunyai sensasi yang aneh dengan seseorang yang melihat melalui mataku – Yesus, bukan saya, sedang menatap keluar melalui bola mataku.

 

Tiba-tiba Dia bergerak maju keluar dari tubuhku, meninggalkan mantel itu padaku dan kembali ke tempat darimana Ia telah datang. Dalam sekejap Ia menghilang, dan saya ditinggal dengan mengenakan mantel multiwarna yang berkilau.

 

Pengalaman 2 ½ bulan sebelum kejadian ini ketika Dia berdiri di depanku di Surga terasa luar biasa aneh tetapi juga alami. Tetapi saya belum pernah mengerti apakah arti semuanya ini. Saya mengharapkan beberapa perubahan dalam hidupku, beberapa pengurapan yang ditambahkan, tetapi saya menemukan diriku  tetap saja sama dan secara mengherankan tidak diurapi, yang seperti biasanya.

 

 

 

DAMBAAN DARI SEGALA BANGSA

 

Sekarang Dia berdiri di depanku dalam daerah seperti taman surga (paradise).

 

Bagaimana seseorang bisa menggambarkan “dambaan dari segala bangsa”? Jauh lebih dari akibat akan penampilan fisikNya, Dia mengandung kehidupan. MataNya berwarna biru bening tapi sedalam kolam yang tak berdasar. Kelihatannya bila kau berjalan melalui mata itu, kau akan mengerti semua misteri, bahwa tenggelam ke dalam dasar kolam itu, kau akan mendapat semua jawaban atas segalanya.

 

Dia melangkah ke arahku.

 

Dia tersenyum lebar, seperti seorang buah hati yang kau tahu akan selalu, selalu kau cintai, tetapi yang lama tak pernah kau lihat lagi sejak kecil. Tahun-tahun berlalu sejak kau melihat Dia, dan bahwa kau benar – bahwa kau akan selalu, selalu mencintai Dia; tidak ada seorangpun yang dapat mengambil posisiNya.

 

Dia mengambil tangan kananku dengan tangan kiriNya, yang menguatkanku. “Mari,” kataNya. Dengan segera kami pun terbang.

 

 

GUNUNG REMPAH

 

Daerah seperti taman surga (paradise) mulai berlalu di bawah kami. Para roh yang menemaniNya terbang di sisi dan dibelakang kami. Kami sedang terbang ke atas area gunung-gunung yang menabjukkan. Warna-warna dari tiap gunung bervariasi. Saat kami terbang mendekat, saya menyadari bahwa gunung yang pertama mengeluarkan sebuah aroma.

 

“Dimanakah kita berada, Tuan?” tanyaku.

 

“Kau telah sering memanggilKU ke gunung-gunung rempah,” kataNYa. Kita disini.”

 

Rempah-rempah aromatik bertumbuh di gunung-gunung ini. Warna-warnanya, seperti aromanya, bervariasi dari gunung ke gunung.

 

 

 

 

KESUKAAN BAPA

 

“Ini adalah untuk kesukaan Ayahmu,” kata Yesus, “dan untuk kesukaan dari anak-anakNya. Mereka membawa sukacita.” Tanpa mengarahkan kepalaNya untuk melihat kepadaku, Dia bertanya, “Apakah kau berharap untuk membawa sukacita?”

 

“Ya,” jawab saya.

 

Yesus merespon, “Ketaatan membawa sukacita bagi AyahKU, kesucian hati, rasa syukur, kebenaran dengan belas kasihan. Masing-masing seperti sebuah rempah. Masing-masing memiliki wewangian. Sekumpulan aroma yang disenangi oleh AyahKU. Aroma-aroma itu berbicara mengenai Aku kepadaNYa, bukan hanya satu rempah tetapi campuran aroma dari seseorang yang melalui gunung demi gunung. Bersama mereka menyaksikan Aku, dan ini menyenangkan AyahKU. Juga aroma dari rempah ini datang dari anak angkatNya yang berbicara mengenai Aku, dan DIA disenangkan.”

 

Saat kami melalui setiap gunung, gelombang demi gelombang dari wewangian yang paling mengiurkan menerpaku. Kemudian beberapa dari rempah-rempah itu berputar dari lengan dan tanganku yang bebas. Saat kami melalui kedua belas gunung itu, lenganku dan tangan penuh dengan berbagai campuran rempah-rempah aromatik dari area pengunungan; wanginya sungguh tak kentara. Saya menghirup udara segar dan meresap dengan aroma, saya hampir dapat merasakan wanginya.

 

Tiba-tiba saya ingin memberikan apa yang telah memenuhiku. Saya meniupkan rempah-rempah itu ke udara, dan mereka menjadi merpati-merpati putih.

 

“Perjanjian damaiKU,” kata Yesus.

 

Di depan mataku, saya dapat melihat seluruh Bumi seolah saya berada hanya sejarak satelite. Merpati-merpati itu terbang dan menjadi nyala api yang turun ke seluruh Bumi.

 

Gambaran di depan mataku sungguh menarikku sehingga saya tidak sadar bahwa roh-roh telah menghilang dan bahwa Yesus dan saya sedang turun ke sebuah taman bertembok.

 

 

TAMAN BERTEMBOK

 

Sekeliling seperti sebuah taman pribadi. Tidak terlalu besar, tetapi cukup besar untuk memiliki berbagai jenis pohon sebagai bagian dari penanaman: buah delima, melati, dan cedar; balsam, kayu manis, frankincense (sejenis bunga yang wangi), myrrh, dan lidah buaya.

 

Taman ini sedang berada di puncak musim semi dengan narsissus dan jonquils dalam kebun dan batang melati putih dan wisteria ungu yang saling menjalin di tembok batu.

 

Ada 3 tingkat air mancur di tengah taman dengan sebuah bangku di dekatnya. Bangku tersebut berada di bawah pohon aprikot besar, yang lebih menyerupai sebuah oak daripada pohon buah. Juga sedang mekar dan memancarkan wangi yang manis dan kuat.

 

Kami istirahatkan kaki kami di atas rerumputan dekat air mancur.

 

“Sungguh suatu taman yang manis”, kataku.

“Ya,” senyumNya, membiarkan mataNya menatap keseluruh daerah dengan ringan. “Saya menikmati berjalan disini.”

 

Tiba-tiba muncul dalam pikiranku sebuah kalimat dari Kidung Agung: “Hingga tiba senja hari ketika bayangan telah memudar.” Sangat dingin disini, dan tentu saja tidak ada bayangan. Apakah lagu tersebut berbicara mengenai Surga?

 

Kami mulai berjalan.

 

 

SEBUAH TAMAN UNTUK SEJOLI

 

Sebuah jalan mengelilingi taman, dengan tanaman dan kebun dekat tembok seperti juga dengan sisi berlawanan dari jalan di tengah taman. Camphire (henna) sedang mekar disini, dan bintang-betlehem, biru biji rami, dan lili ungu sedang bermekaran di kebun dekatnya.

 

“Siapa yang menyiangi taman ini?” tanyaku. “Kaulah,” jawabNya.

 

“Saya yang menyiangi taman ini?” saya berseru penuh dengan keterkejutan.

 

“Ya,” jawabNya.

 

Saya melihat sekilas ke taman. Saya merasa saya telah berada di sini sebelumnya, tetapi perasaan itu hanya sebuah kesan yang sukar dipahami, seperti sedang berusaha menyatukan kembali potongan-potongan mimpi ketika kau hanya mengingat sebagian saja. Saya tidak dapat mengingatnya dengan jelas.

 

“Akankah Kau memberitahuku mengenai taman ini, Tuan?” tanyaku akhirnya.

 

“Masing-masing taman adalah berbeda. Masing-masing adalah unik, dan Aku menyukai masing-masing.” Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kembali. “Apakah kau menikmati berada disini?” tanyaNya.

 

“Ya, ini...” saya tidak dapat menemukan kata-kata yang tepat.

 

“Ya,” Dia sependapat.

 

Kami tiba di sebuah aliran yang mengalir dari sebuah batu di taman. Melintas di atas air tersebut adalah lengkungan sebuah jembatan yang sepertinya hanya cukup lebar untuk 2 orang. Saat saya memikirkannya, bangku di dekat air mancur juga terlihat hanya cukup lebar untuk diduduki 2 orang. Mungkin taman ini adalah taman untuk sejoli. Saat kami menyeberangi jembatan, saya dapat mencium wangi calamus yang tumbuh di tepi air.

 

 

 

BEBANNYA

 

“Apakah Kau menjadi lelah?” tanyaku.

 

“Ada beban di hatiKU untuk umat manusia,” jawabNya. “Aku akan menanggung beban ini hingga semuanya menjadi lengkap, tetapi ini tidak seperti tubuh yang letih dan membutuhkan istirahat. Tidak, Aku tidak lelah seperti mereka yang berdiam di dalam tubuh daging.”

 

“Apakah Kau seringkali kesepian?” tanyaku.

 

“Aku merindukan pemenuhan, tetapi itu bukanlah kesepian. Kesepian datang dari tidak terpenuhinya sebuah keinginan, gairah yang menyebabkan seseorang mencari hidup dengan melihat ke masa depan melalui sebuah keinginan untuk dipenuhi. Aku hidup di masa sekarang. Aku prihatin dengan apa yang sedang terjadi sekarang. Semua hal menjadi terpenuhi disini.... walaupun tidak terpenuhi momen demi momen. Aku rindu akan pemenuhan akan karunia ini demi AyahKU,  bahwa IA akan dimuliakan dan juga disenangkan. DIA senang bila anak-anakNya berada di sekitarNYa. Kepuasan apakah yang lebih besar: sebuah mahkota di kepala, sebuah senyum di hati, sebuah sukacita yang tiada tara.”

 

Kami melalui kebun saffron (kunyit) dan nard. Saya ingat bahwa di Bumi ini semua sangatlah berharga.

 

Dia melanjutkan, “Mata mereka yang berada dalam kerajaan setan buta terhadap AyahKU, seperti juga kepadaKU, tetapi mereka terbuka dan menyadari bahwa kehidupan mereka datang dari yang jahat. Dia pun memiliki karunia-karunia, dan dia menunjukkan semuanya. Sang pelacur berdiri di depan pintu dan mengundang yang lugu: “Masuklah; ranjangku beraroma dengan segala rempah dan balsem. Tidurmu akan lelap.”

 

“Tetapi tidak akan lelap. Seribu penyiksaan memeluk orang yang berada di atas ranjang; seribu sakit hati yang tidak akan pernah dipuaskan berbaring bersama yang lugu di atas ranjang. Cinta sejati terbit dari Tuhan, air mancur yang tidak pernah kering berasal dari sumber air hidup dalam Allah. Akulah sumber itu. Akulah air mancur itu. AKUlah AKU.”

 

Kini kami telah mengelilingi separuh dari taman tersebut dan kembali ke tengah-tengah air mancur. Kami duduk di atas bangku.

 

“Tuan,” kataku, “Tunjukkanlah padaku sesuatu yang berharga di mataMU.” Dia membuka tanganNya, dan di dalamnya adalah sebuah airmata. “Di dalam airmata ini adalah dunia, sebuah alam semesta, sebuah cinta yang tak terbatas.  Dalam airmata ini adalah DNA, sebagaimana seharusnya, dari plasma sel rohani seorang yang terkasih. Dalam airmata ini adalah garam dan terang. Aku dapat melihat ke dalam airmata ini dan melihat wajah Allah, karena sangatlah jelas. Aku dapat melihat kepadaNya yang melahirkan alam semesta. Airmata ini  sangatlah berharga bagiKU.”

 

Kami berdua melihat kepada airmata tersebut, dan kemudian Dia menutup tanganNya dan melanjutkan, “Tutup kedua matamu dan ulurkan tanganmu.”

Saya menutup kedua mataku, dan Dia menaruh ke dalam tanganku sesuatu yang halus.

 

“Sekarang buka kedua matamu.”

 

 

SEBUAH NAMA BARU

 

Saya membuka kedua mataku dan tangan kananku, melihat kepada sebuah batu putih mulus dengan nama Anna terukir diatasnya.

 

“Nama barumu,” kataNya. “Aku menambahkan nafas kehidupan ke dalam namamu. Disini kau akan dipanggil Anna.”

 

“Anna,” kataku pada diriku sendiri.

 

“Sekarang, Anna, saudaraKU dan CintaKU, nama kita telah menyatu dalam perjanjian.”

 

“Terima kasih,” kataku, memegang batu tersebut dekat di hatiku.

 

“Aku telah menantikanmu, Anna. Kesepian yang kau alami tidak ada artinya di bandingkan dengan sakit hati yang KU alami saat Aku menantimu, melihatmu berlarian kepada segala macam berhala untuk mencari kepuasan.” Dia melihat keluar ke taman. “Bagaimana Aku telah memanggilmu.” Ada rasa sakit di dalam suaraNYa. “Tahun demi tahun kau bermain-main, dan Aku bersedih, menunggumu untuk menyadari bahwa tak seorangpun, tiada akan pernah, memberimu hidup kecuali Aku sendiri.”

 

Kata-kataNya menyentakku ke dalam hatiku. “Tuanku dan Tuhanku,” kataku dengan pelan, “tiada yang pernah mengasihiku seperti Kau mengasihiku....” saya dikuasai oleh emosi. Dengan pelan saya melanjutkan, “tiada yang pernah menginginkan kehadiranku seperti...,” tetapi saya tidak dapat menyelesaikan.

 

“Tidak ada daging dan darah bisa, Anna, karena kau adalah milikKU.”

 

Dia menatap ke mataku, dan mataNya menusuk ke dalamku. “Aku menciptakanmu untuk DiriKU, dan hanya Aku yang bisa memuaskanmu sesungguhnya dan sepenuhnya.”

 

 

SEBUAH KARUNIA ALLAH

 

Saya tidak tahu apa yang harus dikatakan. Saya mencari, berusaha memikirkan beberapa jawaban. Akhirnya saya bertanya, “Jika saya tercipta untukMU, Tuan, apa yang dapat saya lakukan untukMU? Bagaimana...,” saya meraba-raba akan kata-kata untuk menyampaikan bahwa saya ingin memberikan sebuah hadiah kepadaNya. “Bagaimana saya dapat memberikan sesuatu untukMU?”

Dia menyelidiki wajahku untuk sesaat dan kemudian tersenyum. “Menyanyilah untukKU, Anna; hal itu akan menghiburKU.” Dia bersandar kepada sebuah pohon aprikot besar dan menutup kedua mataNya.

 

Saya tidak tahu apa yang harus saya nyanyikan. Saya menelan dengan keras. Kemudian saya melihat keluar kepada taman dan berdoa di dalam diriku. Segera, tanpa mengetahui apa yang akan saya katakan, saya mulai bernyanyi:

 

            Dimana cahaya emas berubah menjadi merah,

            Dan merah menjadi putih,

            Membakar dengan segel cinta,

            Sebuah tanah tanpa malam,

            Memberi kekuatan pada alam semesta,

            Dari bintang ke bintang yang dekat;

            Menghapus yang terbuang, O Sang Purbakala,

            Semoga tiada penyimpangan,

            Semua yang adalah kepunyaanMU saja,

            Diciptakan oleh perkataanMU;

            Semua yang terlihat dan dimengerti,

            Semua yang tersembunyi dan tak terdengar.

            Menghapus dosa, O Sang Purbakala,

            Menyerahkannya kepada malam;

            Untuk kita ada kesatuan dengan Allah kita,

            Sang Cahaya Kekal.

            Tidak ada bayangan yang berani menyatakan diri,

            Tiada kegelapan berani menunjukkan diri,

            Dimana Allah yang Kekal memerintah dan berkuasa

            Tanah dengan hari yang tiada berkesudahan.

            Pujilah Dia, semua penghuni Surga,

            Pujilah Dia, anak-anak manusia.

            Arahkanlah wajahmu kepada Anak,

            Tuhan “Ya” dan “Amin” Nya.

 

Saya belum pernah mendengar lagu tersebut sebelumnya. Saat lagu itu usai saya duduk terkagum. Tangan kananku menutupi mulutku.

YANG AKAN DATANG

 

Ada keheningan yang panjang setelah lagunya berakhir. Akhirnya Dia berbicara, “Sebelum ayam jantan berkokok, Anna, ada 3 tingkat penghianatan yang akan terjadi terhadap Aku di dunia. Penghianatan sedang bertambah, dan banyak akan digoda oleh ketakutan mereka dan kebutuhan untuk diselamatkan. Mereka akan berkhianat untuk menyelamatkan diri mereka.”

 

“Tuan, kecuali Engkau memberikan kami anugrah, kami semua akan menghianatiMU. Siapakah yang berpikir bahwa dia cukup kuat untuk berdiri? Kau harus menguatkan kami. Kecuali Kau bangkit untuk melalukan ujian ini...,” saya sejenak tak dapat berkata-kata dengan pikiran itu, “...siapakah yang tidak, untuk alasan yang paling ringan, menghianatiMU? Tolong kami! Bangkitlah bersama kami, Tuan. Jangan biarkan kami berdosa terhadap Engkau.”

 

Dia membuka mataNya dan berbalik untuk memandangku. Aku telah mendengar hal ini, Anna.” Dia tetap memandangku dalam keheningan, seolah-olah sedang merenung akan romanku. Kemudian Dia duduk tegak dan berkata, “Berjalanlah bersamaKU ke gerbang.” Dia bangkit dari bangku dan membantuku berdiri juga. Kami berjalan dalam keheningan menuju gerbang emas filigree. Kedua pintu gerbang membuka saat kami mendekat. Kami berjalan keluar, dan Dia menutup gerbangnya, melihat ke dalam taman yang sunyi di dalam tembok.

 

“Sangatlah indah di sini,” kataku, juga melihat ke arah taman.

 

 

KUNCI EMAS

 

Yesus berbalik dan menyerahkan kepadaku sebuah kunci emas gembok gerbang. “Ini kuncinya”  kataNYa. “Masuklah kapan pun kau suka.” Kunci tersebut besar dan designnya antik. Menggantung di atas kawat merah. “Ini,” lanjutNya, dan Dia menjatuhkan kawat dengan kunci itu melalui kepalaku.

 

“Apakah Kau akan menemuiku disini?” tanyaku.

 

“Buka kunci gerbang itu, dan Aku akan menemuimu disini,” senyumnya.

 

Saya melihat kembali ke arah taman.

 

“Kapan pun kau mengharapkannya,” ulangNya. “Temui Aku disini.” Dan kemudian Dia menghilang.

 

Saya melihat kepada batu putih yang ada dalam tanganku dan kunci emas yang menggantung di atas dadaku.

 

Itulah saat ketika saya mendengar suara nyanyian, sayup-sayup pada awalnya. Itu adalah jenis lagu yang akan kau dengar bila ibumu sedang membuat roti di dapur pada hari musim dingin. Saya berbalik ke arah suara tersebut dan melihat sebuah cahaya yang cemerlang. Di tengah-tengah cahaya ini duduklah sekelompok roh-roh.

Jalan itu berada tepat di sebelah mereka. Saya berjalan melalui jalan itu untuk mendekati mereka.

 

 


BAB 6

 SARANG ELANG

 

Cahaya tersebut putih dan kuat seperti cahaya “incubator” di departement bagian-bagian. Di dalam cahaya, 4 roh duduk bekerja bersama. Sebentar-sebentar mereka akan meraih ke atas dan mengambil pita biru di atas udara saat pita mengapung ke dalam cahaya. Pita-pita tersebut sepertinya juga diisi dengan cahaya saat para roh mulai mengulungnya ke dalam gulungan benang perak besar. Kemudian, dengan terbungkus pita, mereka akan menaruh gulungan benang tersebut ke dalam kumparan benang yang menggantung di tengah udara.

 

 

ROH-ROH DARI GULUNGAN BENANG DAN KUMPARAN BENANG

 

Roh-roh ini tidak berwujud solid. Mereka hampir terlihat transparant, tetapi sebuah cahaya kebiru-biruan perak membungkus wujud mereka. Bentuk mereka seperti manusia. Bagaimanapun, cahaya yang di dalamnya mereka bekerja menyulitkan untuk melihat rupa mereka secara rinci.

 

Mereka terlihat tidak menyadari kehadiranku saat mereka bernyanyi bersama ketika mereka bekerja:

 

            Setiap lapisan kecil,

            Setiap lapisan kecil

            Dirajut dengan benang kehidupan;

            Setiap lapisan kecil

            Bergabung dengan aliran hidup

            Mengalir kepada sungai kehidupan.

 

Kemudian, tanpa berputar, mereka menyadari kehadiranku. “Halo, Anna,” sebuah roh berbicara dari semua cahaya. “Menonton?”

 

“Ya,” kataku.

 

“Kami sedang mengambil pita-pita untuk dijahit. Mereka mewakili berbagai aliran yang mengalir dari sungai besar kehidupan dan kembali kepadanya, seperti air di Bumi yang mengalir masuk dan keluar tetapi tidak menenggelamkan pulau.”

 

“Aliran ini adalah umat Tuhan,” kata roh yang lain. “Mereka datang dariNya dan mengalir kembali padaNYa, sang Sumber besar.”

 

“Tetapi mereka butuh untuk dijahit bersama,” kata yang lain, melihat ke arahku seperti menyarankan keikutsertaanku.

 

“Saya bukanlah seorang penjahit wanita yang sangat bagus,” tawaku ringan.

 

“Jarum disini bukanlah pedang dari seorang manusia. Aliran-aliran dijahit bersama oleh Roh Tuhan sendiri sehingga Bapa akan bersukacita melihat kotaNYa dipenuhi dengan mereka yang mencintai AnakNya dan satu sama lain. Bahkan kota itu sendiri membuat lega. Kau dipanggil untuk menjahit dengan semacam jarum , Anna” kata roh yang pertama.

 

“Yang tidak kami ketahui. Kami menaruh gumpalan benang dari pita-pita ke dalam kumparan benang supaya mereka tidak menjadi kusut ketika saatnya untuk dibawa bersama,” roh yang ke 4 menambahkan.

 

“Apakah ada hal yang spesifik untuk menaruh mereka ke dalam kumparan benang?” tanyaku.

 

 

MINYAK DARI SURGA

 

Para roh tersenyum satu sama lain dan bernyanyi :

 

            Ada minyak dalam kumparan benang,

            Minyak langsung dari Allah.

            Ada minyak dari Roh Allah.

            Ada minyak seperti sebuah

            Minyak dari langit,

            Minyak yang telah tersembunyi hingga kini.

            Hum-hum, minyak dari yang tinggi,

            Minyak yang telah tersembunyi hingga kini.

            Hum-hum, minyak dari Roh,

            Minyak yang telah tersembunyi hingga kini.

 

Salah satu dari roh-roh itu berbalik kepadaku dan berkata, “Pita-pita ini telah ditaruh di dalam kumparan benang untukmu dan yang lainnya, yang akan menggunakan pedang sebagai jarum untuk menyiapkan pancuran minyak.”

 

Kemudian mereka bernyanyi:

 

            Jahit aliran-aliran bersama

            Dan tangkap minyak kudus;

            Dan, oh, biarkan tidak menjadi

            Digunakan untuk hal yang kotor.

 

“Ayahmu memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di hatimu,” roh yang ketiga tersenyum. “Kami adalah mereka yang membungkus gumpalan benang dan menaruhnya dalam kumparan benang.”

 

 

 

 

PITA-PITA BIRU

 

“Mereka semua adalah pita-pita biru,” kataku.

 

“Ya, masing-masing menjadi aliran ketika pewahyuan datang mengenai kebenaran besar perihal Allah kita. Tetapi sebuah kebenaran mengenai Dia bukanlah Dia,” roh yang pertama menambahkan. “Walaupun pita-pita dibungkus di dalam gumpalan benang masing-masing, mereka akan dijahit bersama ke dalam sebuah sungai seperti sungai kehidupan darimana mereka datang.”

 

“Saat kami melihat bagaimana Allah membawa semua hal yang berhubungan dengan waktu dan musim ini kepada penyelesaian, kami bersukacita telah menjadi bagian dari pengumpulan besarNya,” roh yang kedua tersenyum.

 

 

SANG ELANG PUTIH

 

Tiba-tiba sayap-sayap dari seekor burung besar melintas di atas saya.

 

Para roh yang dengannya saya telah berbicara melihat ke atas dan bangkit berdiri dengan segera. Saya juga melihat ke atas dan melihat seekor elang putih besar. Dia sangatlah kuat, garang, dan mulia dalam penerbangannya. Saya tidak pernah mendengar mengenai sebuah elang putih.

 

“Ulurkan tanganmu,” kataNya saat Dia mulai turun.

 

Para roh menunduk kepada sang Elang. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan kecuali mengulurkan tanganku. Sang Elang, seukuran diriku, dari arah belakang masuk ke dalam diriku sehingga mata dan paruhNya berada di mana wajahku berada. Kemudian secepat Dia ada di dalamku kini Dia berada di depanku, dengan mataNya menusuk tajam ke dalamku.

 

Saya mendesah.

 

Secepatnya, sang Elang berubah menjadi Tuan. Dia berkata, “Hal ini supaya kau mengetahui bahwa ‘kesaksian Yesus adalah roh nubuat’”. Kemudian Dia berubah menjadi Elang putih lagi. “Mari”, kataNya.

 

Saya menaruh lenganku melingkari leherNya, dan kami terbang ke atas. Saya bahkan tidak berpikir untuk mengucapkan selamat tinggal kepada para roh yang sedang membungkus gumpalan benang. Saat saya berbaring dengan lenganku melingkari leherNYa dan kepalaku dekat dengan bagian belakang kepalaNya, saya dapat merasakan gerakan terbang dibawahku. Bulu-buluNya lembut, dan bauNya membuatku ingin dalam-dalam membenamkan wajahku ke dalam bulu-buluNya. Dibawah bulu-bulu putih itu kulit sang Elang besar terlihat seperti emas murni.

 

 

SARANGNYA

 

Kami dengan segera berada di atas potongan sebuah batu dekat puncak sebuah gunung. Sebuah sarang elang berada di atas lekukan batu ini. Sarangnya besar, mungkin 5 kaki, dan terbuat dari cabang pohon yang kuat. Saya memanjat dari punggungNya dan turun ke bulu lembut dalam sarang di bawah. Sang Elang putih bertengger di pinggir sarang.

 

Kami berada di Bumi.

 

Pemandangan dari daerah gunung-gunung yang mengelilingi dan lembah dibawah sangatlah menabjukkan, tetapi saya tidak tahu dimanakah kami berada. Udaranya bersih disana, dan pemandangan dari tebing tinggi menyapu keseluruh area. Gunung-gunung dan lembah-lembahnya memabukkan dan hijau. Ada awan-awan yang lewat dan bayangan matahari. Indah – tetapi bukan Surga.

 

Saat saya mengamati daerah sekeliling gunung, seutas benang dengan sebuah boneka kertas besar mengapung.

 

Sang Elang besar berkata, “Banyak hal yang sedang terjadi sekarang di dalam tubuh Kristus adalah seperti boneka kertas – yang satu mengopi yang lainnya.”

 

Boneka kertas tersebut hilang, dan seekor elang dari emas murni terbang melintas. “Aku sedang mencari seekor elang emas, Anna – sangat langka jumlahnya.” Saat Dia berbicara, kekuatan seperti gelombang listrik menyelubungi elang emas. Menjadi putih murni, seperti sang Elang besar. “sang elang emas menjadi seperti Aku,” kataNya.

 

Kemudian secarik elang besar yang telah dipotong dari kertas mengapung di atas daerah pegunungan. Mereka terkait bersama seperti boneka kertas yang mengapung itu.

 

 

UNDANGAN SANG ELANG PUTIH

 

LanjutNya, “Ada banyak elang, karena Aku murah hati dengan karunia dari Roh Kudus. Tetapi Anna, Aku memberikanmu sebuah undangan untuk menjadi seekor elang emas.”

 

Tiba-tiba saya melihat sebuah bola roket meletus dari Bumi dan menembak ke Surga. Sang Elang besar melanjutkan, “Sarang elang emas berada di Surga. Elang emas bahkan tidak memakan makanan dari Bumi. Dia diberikan di atas. Boneka elang kertas menangkap ikan, membunuh ular, mengejar kelinci; tetapi elang emas bernafas dari hal-hal yang di atas. Tidak mencari dan memakan bangkai. Elang emas makan dari tangan Tuhan hingga rupa dan baunya menjadi seperti Aku – putih murni. Banyak yang menyerupai Aku, tetapi kau harus makan dari tangan Tuhan untuk menjadi seperti Aku.”

 

MataNya menyala-nyala sekarang. “Akankah kau terbang denganKU, melintasi jalan-jalan emas? Akankah kau terbang denganKU melintasi danau yang bening yang dasarnya terlihat seperti permukaan? Tinggalkan ular, serangga, kelinci yang berlari mengikuti jejak kelinci. Marilah bersamaKU dan makan dari tangan Tuhan.”

 

Saya berhenti sejenak untuk mempertimbangkan jawabanku – dan Dia telah hilang.

 

 

KEMBALI DI SURGA

 

Saya menemukan diriku kembali di Surga, duduk seorang diri di sebuah bukit tinggi.

 

Apakah saya telah berhenti terlalu lama untuk merenung, menimbang hasratNya terhadap kelemahanku? Apakah saya takut? Akan apa? Apa yang menahan diriku dari melompat dalam rohku dan berteriak, “Ya, saya terima undangannya! Bawalah saya ke tempat peristirahatanMu di atas dan buatlah saya menjadi elang emas. Saya ingin makan dari tangan Tuhan. Saya merindukan keintiman yang Engkau tawarkan.” Mengapa saya menjadi ragu?

 

Sekarang dari tempat kesunyian di bukit dalam Taman Surga, hatiku menangis, “O Tuan, saya rindu akan Engkau saja. Lakukan apa yang Kau inginkan denganku, karena saya adalah milikMU. MilikMU saja! MilikMU saja!” Ada suatu kerinduan dalam tanggisan hatiku untuk respon bahwa saya akan melihat Dia muncul di atas puncak bukit mengendarai seekor kuda putih, tetapi Dia tidak muncul.

 

Melainkan, kesunyian.

 

 

PUJIAN YANG MELINTAS

 

Kemudian, hampir tidak terdengar pertama-tama, saya mendengar suara-suara di kejauhan bernyanyi memuji Tuhan. Musiknya datang mendekat, tetapi saya tidak melihat seorang pun. Alat musik bergabung dengan nada tersebut yang sekarang berbunyi seolah-olah dinyanyikan oleh ribuan suara. Pujian tersebut mengalir seperti lumpur kilat di wadi. Walaupun saya tidak dapat melihat seorang pun, pujian tersebut seolah melintas di depanku di atas bukit ini dan bergerak seiring alur jalan di bawah. Telingaku menangkap kata-kata yang dinyanyikan:

 

            Biar hidupku meninggikan Allah yang hidup,

            Sang Bapa dari semua cahaya.

            Dari ujung-ujung Bumi diseluruh alam semesta,

            Meninggikan belas kasih dan kekuatanNya.

            Selamanya tidaklah cukup panjang

            Untuk memuji namaNya yang mulia,

            Untuk selamanya sampai selamanya

            Untuk menyerukan kemuliaan dan kemasyuranNya.

            O pengadilan langit, lemparkanlah mahkotamu

            Dibawah penguasa dari Bumi.

            Makhluk hidup, nyanyikanlah lagu-lagumu

            Kepada Raja alam semesta.

            O sukacita tak terucapkan, sukacita yang diharapkan,

            Tidak pernah baru dan abadi,

            Di hadapan tahta Bapa beranilah

            Untuk mengangkat lagu-lagu pujianmu.

 

Kemudian saya melihat 1 per 1 malaikat mengabungkan dirinya ke dalam pujian, seperti sedang mengendarai di atasnya. Mereka akan bangkit ketika musik naik, dan tenggelam ketika musik diturunkan, seperti ekor layang-layang. Secara nyata mereka bisa  melihat pujian tersebut, walaupun saya tidak dapat, karena mereka terlihat seperti sedang menyentuhnya dan terbawa arus.

 

Kemudian, dari dekatku di atas bukit, datang suara yang bening dan murni dari sebuah seruling. Saya berputar untuk melihat seorang malaikat yang indah sekali berpakaian hijau memainkan alat musik tersebut. Matanya tertutup dalam penyembahan, dan saya tahu bahwa musik yang dia mainkan menyatu dengan musik pujian yang melintas di depan mataku.

 


BAB 7

KETAATAN

 

 

Sang malaikat duduk menyilangkan kakinya di atas rumput memainkan seruling emas. Rambutnya sangat pirang dan dijalin ke dalam 7 ikatan besar yang terjalin dengan emas. Dia memakai sebuah sutra tipis hijau dibawah jubah diikat dengan sabuk emas, dan sebuah mantel dengan lengan panjang, yang juga berwarna hijau.

 

Di dalam lengan pakaian luar tersebut terdapat kantung ukuran besar yang berisi semua jenis alat musik yang biasanya dipakai dalam kesenian – semuanya terbuat dari emas. Ada beberapa jenis alat musik, cat kuas, balok nada, sepatu balet, sebuah pen bulu ayam – semuanya di dalam lengan. Leher dan tangannya ada seiris warna emas dan begitu pula dengan porsi kecil dari kaki telanjangnya yang dapat saya lihat.  

 

Aman bertengger di atas kepalanya adalah kawat emas; di tengah-tengah kawat ada sebuah kotak emas kecil. Kotak tersebut berada di tengah-tengah dahinya dan mirip seperti dahi hewan dari rumah-rumah di alkitab.

 

Kebetulan dia menurunkan serulingnya dan membuka matanya dengan damai, seperti seorang yang masih asyik merenung. Kemudian wajahnya berbalik menghadapku, dia tersenyum. “Pujilah Dia,” katanya. Suaranya lembut dan penuh nada, dan matanya hijau terang.

 

Saya menjadi terlalu terdiam di dalam roh untuk merusak ketenangannya, karena banyaknya pikiran yang berlomba-lomba di pikiranku – tanpa sebuah resolusi.

 

 

SANG MALAIKAT JUDY

 

Dia tersenyum kembali, secara sadar kali ini, tetapi tidak ditujukan untuk konflik pribadiku. “saya Judy,” katanya, “yang bertugas memuji.”

 

“Halo Judy,” jawabku tanpa banyak antusias, “saya Anna.”

 

“Saya tahu siapa kamu,” senyumnya, “karena saya ditugaskan kepadamu untuk membantumu dalam memuji Tuhan kita.”

 

“Ditugaskan bagiku untuk pujian?” tanyaku. Kemudian dengan semangat saya mengisyaratkan diriku ke langit di tengah udara, “saya melihat...”

 

“Ya,” katanya, “malaikat-malaikat berkelana di atas pujian.”

 

“Berkelana di atas pujian?”

 

“Ya,” ulangnya, menaruh serulingnya ke dalam kantung besarnya itu.

“Saya tidak mengerti.”

 

“Pujian memiliki bagian dalam hati dan dalam bagian roh yang dikirim, dan karenanya dapat dirasakan oleh kami yang berada di dunia roh, hidup, dan terang yang sejati ini. Bagi kami disini, pujian adalah hal yang mendasar seperti kereta listrik di Bumi, bisa kau perbandingan demikian. Kau menggabungkan dirimu ke dalamnya, dan akan membawamu besertanya. Bisa membawamu untuk sebuah perjalanan,” tawanya berirama, “dan yang menggabungkan dirinya ke dalam hal tersebut menambahkannya.”

 

Saya mengarahkan mataku untuk melihat ke seluruh lembah. Bagaimanakah ini mungkin? Saya bertanya-tanya dalam diriku. Kemudian saya mulai berpikir, ya, ya, saya dapat memahami hal tersebut. Saya tahu bila seseorang memimpin penyembahan dengan suatu pengurapan di Bumi, maka dapat mengangkatmu dalam roh kepada level pujian dari orang tersebut. Pengurapan yang lain membawamu besertanya, dan kau menambahkan suaramu ke dalam penyembahan yang sedang dinaikan kepada Tuhan. Ya, saya dapat melihat hal tersebut.

 

“Sejak semua pujian semacam itu menuju kepada Bapa,” lanjutnya. “seperti menangkap sebuah tumpangan atas sebuah kereta yang melintas dan menikmati perjalanan menuju ruang tahta. Jika para malaikat tidak menumpang di sepanjang perjalanan tersebut, tetap saja mereka menambahkan sebuah jejak ke dalam pujian. Karena itu, mereka pun telah turut terlibat, walaupun sangat singkat.”

 

Suara dari sebuah violin solo mulai mengalun. Violin tersebut sedang memainkan sebuah nada yang lembut dan sendiri. Seorang malaikat sedang berkelana dengan pengagungan yang sedang di expresikan melalui instrumen ini dan sedang menambahkan ke dalamnya pula.

 

“Beberapa pujian di Bumi seperti sebuah aliran yang sunyi, seperti yang ini,” senyumnya.

 

Dari jauh saya bisa mendengar suara dari banyak suara yang sedang bernyanyi. Suara tersebut sedang bergerak dengan cepat ke arah kami.

 

“Beberapa pujian seperti gelombang pasang surut,” katanya. “semuanya itu memberi sukacita kepada para malaikat yang tidak akan mereka miliki jika umat manusia tidak menaikkan puji-pujian kepada Tuhan.”

 

Suara tersebut datang lebih cepat sekarang, mengalir kepada kami. Saat hal tersebut mendekat, saya dapat merasakan rohku naik untuk bergabung dengan penyembahan yang diagungkan. Hal tersebut mengangkat kami secara spontan ke atas kaki kami. Judy mengangkat tangannya, memiringkan kepalanya ke belakang, dan bergabung dgn lagu:

 

            Para malaikat dalam kemuliaannya

            Tidak akan pernah menyentuh nyala api,

            Api, pijar murni,

            Yang membakar dalam namaMU.

            Biarkan mereka menatap dengan ajaib,

            Dalam kekaguman, saat mereka memproklamir:

            “Allah yang kudus, yang selalu baru,

            Selamanya tetap sama.”

 

            Ketakutan, membeku, dibelenggu.

            Mereka yang mencari pertempuran,

            Mati rasa dan digerogoti dan telanjang,

            Mereka yang memilih malam.

            Tetapi kita di selimuti oleh kasihNya,

            Dibawah panjiNya berdiri,

            Tersembunyi dalam Karang Batu di atas,      

            Di naungi oleh tanganNYa.

 

            Para malaikat dalam kemuliaannya

            Tidak akan pernah dapat menyentuh nyala api,

            Api, pijar murni,

            Yang membakar dalam namaMU.

            Biarkan mereka menatap dengan ajaib,

            Dalam kekaguman, saat mereka memproklamir:

            “Allah yang kudus, yang selalu baru,

            Selamanya tetap sama.”

           

Dalam keadaan dihanyutkan oleh pengabdian, Judy bangkit ke atas udara dari tempatnya di atas bukit dan mulai bergerak menuju ke arah pujian yang mengalun.

 

“Ambillah jalan untuk menemukan TUHAN,” serunya, dan dia di sapu oleh gelombang pasang surut dalam arus penyembahan menuju tahta.

 

Pujian yang menghilang tersebut terus berkumandang dalam rohku. Akhirnya saya membuka mataku dan menyadari bahwa dia telah memberiku jawaban yang ku butuhkan. Saya bergegas menuruni bukit ke arah jalan dan mulai berlari dalam arah kemana pujian yang menghilang tersebut.

 

 

KETAATAN

 

Saat saya bergegas, saya mendengar suara Yesus yang berkata dengan jelas, “ketaatan, Anna.”

 

Saya berhenti dalam jalur jalanku.

 

Dia melanjutkan, “Aku bersuka untuk menunjukkan kepadamu rumah surgawimu, tetapi untuk keselamatanmu, kau harus dilatih dalam ketaatan. Ada bahaya yang besar. Semua pintu kepada musuh harus ditutup.”

 

Saat saya berdiri dalam keheranan memikirkan pentingnya hal yang Ia katakan, seorang malaikat muncul di jalur jalan di sampingku.

Sang malaikat mulai berbicara kepadaku seolah-olah dia sedang melanjutkan beberapa percakapan yang telah kami mulai, menunjuk dengan tangannya ke arah taman Allah. “semuanya ini adalah untuk anak-anak Allah, tetapi kau, Anna, telah memilih untuk makan dari tangan Allah. Kau harus cukup mencintai Ayahmu untuk memilih ketaatan daripada hal-hal yang ada di Bumi. Pilihlah Dia menit demi menit. Kau tidak hati-hati dengan anugrahNya, dan kau melalaikan kasihNya untukmu.”

 

Sikap akrabnya mengejutkanku, seperti pengetahuannya akan sebuah keputusan yang baru saja telah saya buat; tetapi ya, saya telah lalai. Saat Tuhan telah menarikku masuk ke dalam keintiman yang lebih dalam denganNYa, hal-hal yang dibolehkan setahun atau bahkan sebulan yang lalu, kini tidak lagi diperbolehkan. Entah bagaimana saya tidak dapat bersama mereka, tetapi saya masih seringkali jatuh dalam kesalahan-kesalahan ini.

 

 

PIKIRAN KEHIDUPAN

 

Dosa-dosa yang sukar dimengerti menyebabkan saya membayar sebuah harga yang mahal dalam hubunganku dengan Tuhan. Saya berpikir dalam diriku, biarkan si jahat meninggalkan jalannya dan manusia yang tidak benar akan pikiran-pikirannya. Saya telah berpindah dari kategori “jalan” kepada “pikiran”. Pikiranku tidak fokus kepada ketidakpengampunan atau iri hati atau dosa-dosa yang sangat jelas.

 

Dosaku kini adalah dalam menetapkan pikiranku di beberapa area yang bukan merupakan panggilanku, atau membiarkan pikiranku menetap di masa lalu, atau dalam membuat sebuah penilaian diluar batas area tanggungjawabku.

 

Hidupku telah menjadi sangat mendesak. Jika saya berjalan tanpa berbelok ke kanan atau ke kiri, saya tetap berada dalam anugrah Tuhan. Pikiran apa pun yang “sia-sia dalam imajinasi mereka” menyebabkan pikiranku berlari dalam alur seputar jalur. Pikiran-pikiran tersebut sepertinya diarahkan oleh para penyiksa. Tetapi saya menemukan diri saya dapat menghentikan mereka dengan berulangkali menangkap diriku sendiri dan menghentikan pikiran-pikiran bak kereta saat saya mulai memikirkan pikiran sia-sia tersebut. Tentu saja, pikiran-pikiran ini akan datang kembali, perlu di usir waktu demi waktu. Karena itu saya menghentikan mereka dan melempar mereka keluar, berdiri melawan mereka atas kehendakku sendiri, seolah-olah pundakku berada di pintu masuk.

 

Masih saja saya tidak berhati-hati, seperti yang dia telah katakan, dan secara mental telah berlari sekeliling jalur dalam penyiksaan dan kelelahan akan setiap pemikiran yang belum ditundukkan dibawah Kristus. Awal kehidupanku bersama Kristus, pikiranku dengan mudahnya dapat melakukan apa yang ia sukai, tetapi tidak sekarang.

 

Sempit dan semakin sempit jalannya, tetapi di dalam ketaatan ini kepadaNya terbentang kehidupan.

 

 

 

 

SANG MALAIKAT SHAMA

 

Tanpa kehilangan sebuah ketukan, sang malaikat di sebelahku berkata, “saya adalah Shama.”

 

Saya tidak melihat adanya sebuah alasan untuk memberitahu namaku, karena dia sepertinya tahu hampir sebanyak yang ku tahu mengenai diriku sendiri.

 

“Haruskah kita berjalan?” lanjutnya.

 

Hampir tersandung, saya bergerak maju.

 

Dia memiliki rambut perak yang panjang dan lurus, yang terikat di belakang kepalanya dan menjuntai di punggungnya. Dia sangat maskulin, dan walaupun rambutnya berwarna perak, dia terlihat berumur 40an. Dia memakai jubah panjang putih, yang terlihat seolah telah dinodai oleh darah atau jus anggur merah. Noda ini berada di ujung jubah dan di sambungan lengan yang panjang, mewarnai pakaian tersebut sampai ke lutut dan siku.

 

“Kau bersuka di dalam Tuhan,” lanjutnya. “saya telah mengamatimu dan telah melihat bahwa kau mengharapkan kedekatan denganNya. Bagaimanapun, apakah kau tidak tahu bahwa ketidaktaatan menciptakan sebuah dinding antara kau dan Dia. Tembok yang kau buat sendiri karena kau tidak mampu menolak sifat alamiahmu. Dia akan menempatkan diriNya ke dalam setiap hal yang kau singkirkan yang kau sukai, Anna.” Dalam menatapku, matanya menangkap sekilas pemandangan sebuah bukit di antara kami. “Ayo ikut saya,” katanya.

 

Saat kami berjalan menaiki bukit, dia melanjutkan, “Ada sebuah jenis penderitaan dalam ketaatan, tetapi upahnya jauh, jauh melampaui rasa sakitnya.”

 

 

CONTOH DARI ATAS

 

Dari atas bukit, kami dapat melihat sebuah dataran yang luas dibawah.

 

Sekumpulan dari segala jenis makhluk sedang makan rumput; di antara mereka adalah binatang pra-sejarah.

 

Tanganku naik menutupi wajahku dalam kekaguman.

 

“Surga sendiri seperti sebuah bahtera, Anna,” katanya. “binatang-binatang ini tidak memiliki tubuh yang dibangkitkan tetapi adalah bagian dari Kerajaan Surga sebelum dunia diciptakan.”

 

“Menabjukkan,” bisikku.

 

“Bukankah begitu?” katanya, mengamati pemandangan tersebut. Kemudian, hampir dengan sebuah helaan, dia melanjutkan, “Mari kembali ke jalur jalan.” Dia berada tak jauh dariku saat menuruni bukit, dan dia membantuku dengan kecondongan yang ada.

 

“Apakah kau memiliki rambut?” tanyaku.

 

“Memang terlihat seperti rambut,” katanya. “Kami adalah makhluk dari cahaya. Kami adalah roh, Anna. Kami bukan daging dan darah seperti manusia. Beberapa dari kami yang melayani sang Raja terlihat seperti manusia, tetapi beberapa tidak.”

 

Kami kembali ke dalam jalur jalan dan melanjutkan berjalan. “Kami bisa mengubah penampilan kami,” sang malaikat berkata, “yang mana kamu tidak bisa. Kami dikenal dari essensi keberadaan kami, bukan pada penampilan luar kami. Di Bumi hal ini seringkali terbalik, bukankah begitu? Manusia bersandar kepada penampilan.”

 

“Kau sepertinya mengenalku,” saya meragukan.

 

“Saya mengenalmu lebih baik daripada kau mengenalku,” sang malaikat tertawa.

 

 

JUBAH YANG TERNODA

 

“Mengapa jubahmu ternoda di dasar dan di lengan?”

 

“Saya dipanggil untuk membantu dalam pelatihan anak – jenis yang memeras sang anak – seperti dalam sebuah pengilingan anggur. Ini, “ dia melihat ke bawah kepada noda, “adalah tanda-tanda yang terlihat dari pertumbuhan anak. Lebih banyak noda, lebih besar proses yang telah terjadi dalam diri anak tersebut. Ketaatan tidak dipelajari dengan mudah, Anna. Beberapa yang di Bumi tidak pernah mempelajarinya.”

 

“Apakah kau malaikat yang ditugaskan untuk melatihku?” tanyaku.

 

“Saya ditugaskan kepadamu.”

 

“Membantu untuk melatih orang dalam ketaatan pastilah bukan pekerjaan yang menyenangkan.”

 

Sang malaikat menjawab, “adalah sebuah kepastian besar untuk Bapa dan sangat diperlukan. Dalam waktu ini di hidupmu, jubahku seharusnya ternoda seutuhnya dan menetes dari wajahku dan tanganku, tetapi hanya ada noda di ujung jubah dan lengan. Jadi boleh saya tebak bahwa kau telah merintangi pertumbuhanmu melalui ketidaktaatan yang tidak kau ketahui. Kepuasan yang segera tidak akan pernah dapat menggantikan perihal melayani Tuhan dengan segenap hati. Ketaatan sedemikian melepaskan sukacita yang tak terkira.”

 

PERTOBATAN

 

Saya melihat keluar ke arah pemandangan, membiarkan kebenaran yang telah ia bagikan bekerja di dalamku. “Saya telah berdosa,” kataku pelan. Saya tidak berharap terlihat fasih, tetapi saya memang berharap dapat menunjukkan kesediaan untuk bertobat dengan benar. “Saya meminta Tuhan untuk mengampuni saya.”

 

Dia menaruh lengannya diseputar pundakku dan menepuk-nepuk, seperti seorang pelatih terhadap pemain sepakbola. “Dan kau tahu Dia memang. Ini adalah hari yang bagus untuk permulaan baru,” senyumnya. Kemudian dia memindahkan lengannya dan melihat ke depan sungguh-sungguh.

 

“Saya berterima kasih untuk kesabaranmu dan untuk membantuku. Saya dapat melihat bahwa kau adalah malaikat yang sangat kuat. Jika kau adalah seorang manusia, saya akan katakan kau telah ‘berolah keras’”.

 

“Kami memang telah berolah keras,” dia tertawa dengan segenap hati, “tetapi hasil olah kami berasal dari pergumulan dengan manusia. Saya terlihat seperti ini karena kau telah memberiku banyak penolakan melalui dagingmu. Jadi dia tertawa, “kau dapat berkata bahwa saya memang ‘berolah keras’. Saya akan menyarankan untukmu berubah mulai hari ini sehingga latihanku tidak sedemikian keras. Bersukalah di dalam Tuhan, Anna, dan kurangi program pelatihanku,” senyumnya.

 

Kemudian dia berkata bijak secepatnya. “Tidak ada yang dapat dibandingkan dengan Dia,” katanya. “Berbicara untuk mereka dari kami yang ditugaskan untukmu,” lanjutnya tanpa henti, hampir seolah-olah dia akan mengungkapkan sesuatu yang lebih pribadi, “kami ingin bisa sedikit lebih dekat dengan Tuhan.”

 

Dia hampir tergagap, “jika hanya kami saja, kami akan; tetapi banyak bergantung kepadamu mengenai hal tersebut.” Dia terlihat sangat malu oleh apa yang telah ia katakan sehingga ia kemudian lenyap.

 

Sebelum saya dapat mengerti apa yang ia maksudkan, saya melihat sang Elang putih melintasi jalur jalan. Hatiku melonjak saat saya melihatNya. Saya mulai berlari ke arahNya, memanggil, “Tuan! Tuan, kumohon kembalilah, kumohon.”

 

Dia pasti telah mendengarku, karena Ia membuat belokan lebar dalam penerbangannya dan mendarat di depanku. Saya sungguh bersukacita melihat Dia yang dipuja-puja hatiku sehingga saya memelukNya diseputar leher, menggantung padaNya. “Saya ingin terbang bersamaMU. Saya ingin makan dari tangan Tuhan.”

 

Dia berubah menjadi Tuan. Saya membenamkan wajahku ke dalam pundakNya. Dia menopangku, membalas pelukanku, lebih sebagai seorang kekasih daripada seorang teman. Hal ini membuatku takjub. Apakah Dia merindukanku seperti saya merindukanNya?

 

“Ampuni saya, Tuan,” kataku. “Saya ingin bersamaMU. Saya rindu akan Engkau. Saya ingin menjadi dan melakukan apapun yang Kau inginkan, selama kita dapat bersama.”

 

“Anna,” kataNya. Menarikku menjauh dariNya sehingga Ia dapat melihat ke dalam mataku, “apakah kau mempercayaiKU?”

 

“Mengapa, ya, Tuan,” jawabku, terkejut.

 

“Kemarilah.”

 

Dia menjadi sang Elang putih. Saya segera memanjat ke punggungNya, dan Dia mulai terbang. Saya menaruh lenganku di seputar lehernya dan membenamkan wajahku dalam kelembutan wangi bulu dari kepalaNya.

 

Dia terbang....dan terbang....dan terbang...hingga Dia terbang ke dalam kegelapan.


BAB 8

LAPISAN YANG TERCEMAR

 

 

Saya tidak dapat membedakan apakah gelap pekat atau hanya terlihat sedemikian gelap karena kami telah datang dari sebuah tempat yang begitu dipenuhi oleh cahaya.

 

 

TEMPAT PERLINDUNGAN DOMBA

 

Sang Elang putih terbang turun di area yang bertembok dengan tempat perlindungan di dalamnya. Dindingnya terbuat dari batu yang tidak terpotong dan sangatlah tinggi. Di puncak dinding ada cabang-cabang besar yang terlihat menyakitkan dengan duri-durinya yang mencuat keluar.

 

Sebuah tempat perlindungan domba. Adalah tempat pos luar Kristus dalam lapisan yang tercemar dihuni oleh iblis. Area yang terlindung ini memiliki hanya 1 pintu gerbang. Ternyata duri-duri tersebut bukan hanya tidak memungkinkan para setan untuk masuk, tetapi juga berfungsi sebagai peringatan. TIDAK ADA PELANGGARAN – suatu perintah lisan dari Kristus sendiri. Tempat perlindungan domba adalah daerah kekuasaanNya.

 

Suatu kesadaran yang timbul bagiku bahwa mungkin salah satu alasan mahkota duri ditancapkan pada batok kepala Yesus sebelum penyalibanNYa adalah sebuah tamparan pribadi di muka dari iblis, karena tempat perlindungan domba ini dimahkotai oleh duri. Kristus telah berani menetapkan suatu tempat perlindungan di dalam kerajaan kekuasaan musuh. Mahkota duri itu adalah sebuah penghinaan sebelum penyalibanNya; kini, setelah kebangkitanNya, hal itu adalah suatu peringatan kekal akan kemenangan Kristus dan ke-Tuan-anNya yang kekal.

 

Sang Elang putih berubah kembali menjadi Tuhan.

 

Ada suatu cahaya remang-remang kecuali cahaya yang berasal dari diriNya. “Berada dekatlah denganKU”, kataNYa. Dia memiliki sebuah tongkat panjang di tanganNya.

 

Di dekat pintu gerbang ada 2 pasang sepatu bermodel lumba-lumba (porpoise) yang dicelup merah. Dia memakai sepasang, dan begitu juga saya.

 

“Jangan sentuh apapun juga disini, Anna; karena semua itu kotor.” Kami berjalan keluar dari gerbang ke dalam kegelapan. Yesus sendiri adalah cahaya di sepanjang perjalanan kami.

 

Tanggisan dan tawa sinis datang dari kegelapan. Mereka adalah suara-suara manusia, tetapi mereka terdengar seolah-olah datang dari suara binatang. Kewaspadaan melingkupiku. Saya berdiri dekat dengan Tuhan, berjalan dalam jejak kakiNya. Walaupun gelap, saya mulai melihat dalam keremangan.

DAERAH PINGGIR DARI LAPISAN

 

Permukaan dimana kami berjalan lembab dan lengket. Ada semacam pengisap ringan di dasar sepatuku saat kami berjalan, seolah saya akan menempel di tempat jika saya tidak terus berjalan. Besar, makhluk licin akan setengah mengaum, kemudian mengangkat diri mereka sendiri dan bergerak mengancam terhadap kami. Mereka terlihat seperti petinju raksasa, tetapi sikap mereka lebih menyerupai banteng segelan yang melindungi daerah mereka. Mereka mencoba menakuti kami, tetapi mereka berakhir dengan menunduk memberi hormat kepada Yesus, dengan iri hati menyadari ke-Tuan-anNya.

 

 

SUNGAI KEKOTORAN

 

Kami tiba di sebuah bendungan yang turun menuju ke sebuah danau hitam. Airnya kotor, pelan, dan mandek. Baunya busuk.

 

Yesus membantuku masuk ke dalam perahu panjang. Saya duduk, tetapi Dia berdiri dan menarik kami menyeberangi jalur air yang sempit ini dengan tongkatNya. Airnya mendidih dan mengeluarkan uap tiap kali tongkatNya dimasukkan ke dalamnya.

 

Yesus berkata, “Ini adalah sungai kekotoran. Seperti sungai kehidupan adalah bersih, maka yang ini adalah busuk dan menajiskan. Keluar dari mulut seorang manusia berdosa. Seperti sungai air hidup datang dari perut orang benarKU, jadi keluar dari hati yang hitam, melalui mulut, datang air yang kotor ini.”

 

Saya dapat melihat makhluk berbaring di pinggiran dan mendengar mereka bernafas. Mereka terlihat seperti buaya, tetapi mereka membuat suara nafas melalui hidung mereka seperti kuda nil. Mata mereka bersinar dalam kegelapan.

 

 

YANG DI RANTAI

 

Gua-gua berbaris di bendungan, dan sebuah tanggisan atau erangan yang kadang-kadang muncul dari mereka. Saya merasa bahwa suara yang telah saya dengar ketika kami berjalan melalui gerbang datang dari gua-gua ini. Mereka terlihat seperti ruang bawah tanah dengan para setan yang menjaga pintu masuknya. Tetapi siapa atau apakah yang terpenjara di sana?

 

Para setan mengeluarkan tawa rendah parau terhadap kesakitan yang dialami oleh para tahanan. Mereka menikmati kesakitan orang lain.

 

“Amati kesengsaraan itu,” kata Tuhan. “Umatku berpartisipasi dalam hal ini, menikmati kejatuhan akan yang lain, tertawa terhadap kesalahan yang dibuat oleh orang lain, dan menahan mereka pada rantai mereka daripada membebaskan para tawanan.”

 

Saya melihat ke arah pintu masuk gua yang gelap. Di dalam ruang bawah tanah ini musuh menahan area-area tertentu dalam hidup para manusia di Bumi. Orang Kristen, daripada membantu para tawanan bebas, malah mengetatkan rantai penghakiman yang menahan mereka dalam perbudakan. Para kristen berdampingan dengan para tahanan melawan Tuhan dengan menghapus persediaan akan pengampunan dan pemulihan yang telah Ia buat untuk mereka melalui penumpahan darahNYa.

 

 

BENDUNGAN

 

Kami melangkah ke dalam pinggiran yang berlawanan dan mulai berjalan di jalan lebar menuju puncak bendungan. Erangan datang dari setiap setan yang kami lalui. Pemunculan Kristus di antara para setan menyiksa mereka, dan mereka lari menghindar dariNya.

 

“Terang sangatlah menyakitkan bagi mereka,” kata Yesus, dimaksudkan untuk para setan yang menghindar. “Mereka menyedot kegelapan dan mengeluarkan racun – terhilang, tercemar selamanya, kegelapan di dalam dan di luar. Mereka yang dulu makan makanan para malaikat, mereka yang berdiri di hadapan Terang AyahKU, mereka yang mengenal persekutuan dari Yang Dipercaya – sekarang mereka tergelincir dan ngeri akan cahaya, mengutuki kegelapan dan mengutuki cahaya – mereka terkutuk oleh keduanya. Mereka makan muntahan – 3 atau 4x.” (Saya merasa Dia menyamakan muntahan dengan fitnah). “Dalam komunitas sesama jenis mereka, mereka menertawakan kesengsaraan masing-masing dan tidak mau menolong – berbalik, selamanya berbalik dari satu sama lain, karenanya selalu sendirian.”

 

“Tinggalkan kami,” kata sebuah suara, dan seekor hyena terkikik-kikik.

 

Saat kami berada di puncak bendungan, sejauh yang dapat saya lihat adalah tanah berlumpur, tanah pembuangan yang gelap.

 

“Basah,” kata Yesus, “karena mereka takut api. Mereka tersiksa bahkan oleh tempat-tempat yang kering.”

 

Tak terhitung pohon mati yang berdiri di atas lumpur.

 

“Pohon-pohon tersebut adalah sebuah peringatan untuk belukar kotor dari ilah-ilah palsu. Di sini pohon-pohon ini terlihat seperti apa mereka sebenarnya: patah, tidak berbuah (kering), tanpa kehidupan – rumah para ular dan burung pemangsa.”

 

 

KESATUAN PALSU

 

Tentu saja, ular hitam ada di dalam pohon-pohon mati ini, seperti juga lumpur yang menutupi. Mereka berdesis dan mengeliat, secara terus menerus bergerak satu sama lain seolah-olah sedang bersetubuh. Sebuah kesatuan palsu, sebuah penyatuan dalam pikiran hitam, pikirku. Hal ini bagiku adalah seperti Tuhan membawa kesatuan dalam diriNYa, demikian juga iblis melahirkan sebuah kesatuan palsu.

 

Yesus berbicara, “Telur para setan. Bagaimana iblis mempromosikan buah imitasinya. Hal ini mnyiksa para jiwa untuk memuntahkan fitnah, kebohongan, dan kutukan – sungai dari air kotor yang mana setan berenang di dalamnya.”

 

Telinganya menangkap sebuah suara tanggisan dari sebuah gua dekat danau. Dia memutar kepalaNya untuk mendengar, berkata, “Ada juga telur-telur di dalam para pemercaya; lorong gelap dimana cahaya tidak bersinar, menetas yang tidak pernah dibebaskan dari kegelapan. Tetapi cahaya yang sejati siap untuk menjelajah setiap lorong dan menyentuh setiap sudut gelap sehingga semua yang berada di dalam diri setiap pemercaya menjadi terang. Kegelapan menjadi berat karena dosa; tebal dan kotor. KebebasanKU adalah terang. Untuk yang ditebus, semua yang berada di dalam diri mereka harus dilepaskan dibawah terang. Terang harus membanjiri setiap lorong, dan setiap penyakit yang tersembunyi harus disembuhkan.”

 

Yesus kemudian memegang tanganku, berkata, “Mari.”

 

 

KUIL SETAN

 

Tiba-tiba saja kami berada di semacam sebuah kuil besar. Luas, tiang-tiang berwarna abu mendukung area utama ini. Ruangan berkabut dengan dupa, dan bau amis darah yang memualkan bercampur dengan bau tersebut.

 

Sekitar batas pinggir ada beberapa tingkat kamar, beberapa tertutup dan beberapa terbuka. Mereka terlihat seperti gua-gua tanduk. Yang hanya bisa di raih dengan kaki adalah ruangan paling bawah; yang lainnya membutuhkan penerbangan, seperti kelelawar.

 

Ada 6 tingkat kamar di sebelah kiri: 6 di belakang dan 6 di sebelah kanan. Tetapi berapa banyak kamar gua yang ada di dalam, saya tidak dapat menebaknya.

 

Saya dapat melihat makhluk hitam menutupi dinding dari kamar berlubang yang terbuka. Mereka terlihat seperti ubur-ubur gelap yang tidak sehat, masing-masing hanya dengan 1 mata. Ini seperti jamur di dinding. Mata mereka secara terus-menerus melihat ke seputar. Tidak ada yang lolos dari pengamatan mereka.

 

 

HARTA YANG TERCURI

 

Tuhan berbicara, “Musuh telah menyembunyikan harta yang tercuri di dalam kamar-kamar yang gelap ini. Mata yang awas menjaga harta ini. Mata-mata ini diupahi atas kewaspadaan mereka. Gua-gua yang ditanami ini adalah sebuah putaran, mengeruk dengan curiga. Disini ada ketakutan akan tersingkapkan – kebalikan dari perjanjian penutupan – karena kasih. Waktunya belum tiba, Anna, untuk membebaskan para tawanan ini dari gua-gua (yang dimaksudkan adalah harta yang tercuri), tetapi semua yang berasal dariKu dan adalah milikKU akan dibersihkan dan datang kepadaKU.”

 

Saya tidak mengerti apa yang IA maksudkan.

 

Dia melanjutkan, “sama seperti airmata dan doa-doa dapat disimpan di Surga atas, begitu juga dengan pujian dapat ditangkap oleh yang jahat dan disimpan di gua-gua tanduk. Para musuh mandi dalam penyembahan yang dicuri – memperbaharui diri mereka dengan kepunyaan Allah, menaruh tangannya di semua hal yang suci dan rahasia. Sejak setan tidak dapat menciptakan tetapi hanya mengimitasi dan mengotori kepunyaan Allah, sukacita terbesarnya adalah menajiskan apa yang datang dari Terang. AyahKU suatu hari akan mengambil kembali apa yang menjadi milikNya. Bejana-bejana kuil ditangkap dan disembunyikan di Babylon, dinajiskan dengan diejek dan digunakan untuk perjamuan para ilah-ilah palsu. Sama seperti benda-benda tersebut dikembalikan dan dikuduskan kembali oleh Tuhan, maka semua yang menjadi kepunyaan AyahKU akan dibersihkan dan dikuduskan untuk DiriNya saja. Para musuh berada dalam kegelapan yang pekat, melakukan pelanggaran untuk menghilangkan rasa sakitnya, dan ternyata malah semakin menambah rasa sakitnya. Tetapi AyahKU akan membebaskan semua kepunyaanNya. Dia akan membersihkannya dari noda penipuan dan pengeroposan oleh pemujaan sehingga dapat dibangkitkan untukNya.”

 

Saya melihat setan-setan terbang ke dalam gua-gua tanduk ini untuk mengotori barang-barang tersembunyi milik Allah disana, seperti laba-laba menyedot keluar kehidupan dari mangsa tangkapan mereka.

 

 

HARI PEMBEBASAN YANG DIJANJIKAN

 

Yesus melanjutkan, “Akan tiba waktunya dimana Tuhan sendiri akan mengangkat pedangNya di tengah Surga (langit ke-2). Dia akan datang atas kepentinganNya sendiri: lemak dari pengorbanan yang palsu dan dari persembahan kepada ilah-ilah lain, yang bukan Allah, akan menjadi milikNya. Lemak itu adalah kepunyaanNya, dan mereka telah merampokNya. Pujian adalah milikNya, dan mereka telah mencuri dariNya. Mereka telah menyimpannya untuk diri mereka sendiri. Tetapi Dia akan mengangkat pedangNya untuk memotong lemak dari mereka dan untuk membebaskan pujian yang tersimpan untuk generasi-generasi. Sebuah bencana besar akan terjadi ketika akhinya lemak dari banyak generasi naik kepadaNya. Ketika Dia menghunus pedangNya dan bangkit atas kepentinganNya, tidak ada yang dapat mengatakan kepadaNya, ‘Tidak!’ Tidak ada yang dapat memintaNya, ‘Tunggu!’ Tidak ada yang dapat menolakNya di pintu gerbang. Dia akan membersihkan pertengahan Surga (langit ke-2) dan membebaskannya. Kemudian TerangNya akan menyentuh tiap sudut dan membersihkan pertumbuhan yang membahayakan dari generasi yang tercemar, mencuri, dan kebohongan. Ketika Dia mengangkat pedangNya dan membebaskan TerangNya, para wakil akan terbang seperti kecoa; yang kuat dalam kejahatan akan mengerut dan mengelincir pergi.”

 

Dia bicara kepada langit ke-2, “O hari pembebasan yang dijanjikan, sebuah waktu telah ditetapkan, dan kau akan dibebaskan.” Dia berbalik menghadapku dan berkata, “Ketika Dia menaikkan pedangNya di Surga, pujian akan dilepaskan seperti seekor burung dari sangkar, tidak akan pernah di penjarakan lagi.”

 

 

PENYAMARAN PARA SETAN

 

Kami mulai mendengar sebuah suara lebah jantan, seperti lebah yang berkerumun atau lalat berkerumun atas sebuah bangkai, datang dari jarak sekitar area kuil. Saat mereka yang membuat suara menjemukan tersebut mendekat, saya dapat mendengar ritme hipnotik itu lebih jelas. Mereka sedang mengumankan sebuah mantra.

 

Tiba-tiba mereka muncul dalam penglihatan. Adalah sebuah prosesi yang besar dan megah ditemani oleh musik yang keras dan bertentangan.

 

Sejumlah besar orang memenuhi ruangan beton dalam kuil itu menyembunyikan kehadiran kami dari mereka yang masuk, sehingga kami pun mundur dari penglihatan.

Penari dan pemusik datang sebelum seorang wanita yang berpenampilan spektakuler. Perhiasan dan mahkota menghiasi jubah panjangnya. Dia mengenggam sejumlah rantai dalam tangannya seperti seorang memegang tali pengikat anjing. Belenggu ada di sekitar leher makhluk setan yang ditangkapnya, yang terus-menerus menunduk memberi hormat, menciumi tanah yang telah ia lalui. Mereka terlihat seperti manusia telanjang.

 

Rombongan pengiringnya sangatlah besar dan terlihat dari berbagai bangsa, mungkin dari setiap bangsa. Dia berbalik menghadap ke arah kami. Matanya merah dengan api palsu; ketika dia membuka mulutnya, api keluar darinya. Kami berada terlalu jauh untuk di jangkau oleh api tersebut, bagaimanapun. Ketika apinya pudar, madu menetas dari mulutnya; mereka yang dirantai menjilat tetesan yang jatuh ke tanah.

 

Dia naik dengan tangga ke atas tahta yang tinggi di dalam sambutan yang penuh dupa ini. Ketika dia duduk, pembantunya membungkus ekor panjang dari jubahnya di sekitar kakinya. Ekor jubahnya tersebut terlihat seperti python.  Mereka yang dirantai berjejer di kedua sisi tahtanya.

 

 

PENGHORMATAN PALSU

 

Para raja di Bumi datang dengan hadiah untuk wanita ini. Mereka juga membawa pemain akrobat, nabi-nabi, dan pesulap untuk menghibur dirinya dan semua yang hadir.

 

Team pemain akrobat berlompatan atas semua benda dengan berat yang berbeda, termasuk balok emas dan monyet besar. Tetapi benda yang membuatku tabjuk adalah sebuah kurungan yang bertuliskan di atasnya JIWA-JIWA MANUSIA.

Para nabi penuh dengan pertunjukan, melompat di sekitar dan berbicara pengagungan mengenai dirinya dan hadiah-hadiah lain. Mereka yang berkumpul akan tertawa dan melempar uang kepada para nabi palsu ini.

 

Yang paling banyak pertunjukkannya adalah, para pesulap, yang terlihat paling suram, bijak, dan penuh wibawa; mereka mempertunjukkan tanda-tanda besar dan ajaib. Setiap orang tertawa dan menunduk kepada mereka dalam kekaguman.

 

Setiap raja akan mengambil sebuah koin emas dari lidah wanita ini seperti mengambil token (coin) saat berdiri mengantri dalam barisan di sebuah toko counter. Sebuah nomor di atas setiap coin. Mereka akan mengembalikan coin kepada wanita tersebut saat dia berjalan dari sisi ruang ke sisi ruang yang lain, melayani para raja ini seperti seorang pelacur dengan banyak klien.

 

Wajah wanita ini tua dan tebal dengan make-up, tetapi dari jarak yang jauh dia terlihat cantik dan luar biasa. Dia sedang minum dari gelas yang ditutupi dengan perhiasan, dan matanya terlihat berkaca-kaca.

 

“Siapakah dia?” tanyaku kepada Tuhan.

 

“Gereja palsu,” jawabNya. “Dia membuat dirinya sendiri seorang Ratu, dan mereka yang menjadi budak makan madu dari mulutnya. Dia telah memberi dirinya kepada setiap setan. Dia melayani mereka. Banyak yang akan pergi dengannya.”

 

Saya melihat kepadanya dengan perasaan ngeri.

 

“Aku telah membawamu untuk melihat penghormatan palsu sebagai yang benar,” kataNya. “Ingatlah apa yang terdapat di dalamnya. Ingatlah konsekuensi dan pengerjaan dari keputusan untuk memeluk kegelapan daripada Terang. Segala bentuk kecemaran lahir dalam kegelapan. Mari,” kataNya, dan sekali lagi Dia berubah menjadi Elang putih. “Kita pergi sekarang ke perut naga.”

 


BAB 9

PERUT NAGA

 

Sang Elang putih terbang ke dalam terowongan yang lebih gelap yang terlihat seperti sebuah jalan pintas melalui sebuah gunung, tetapi dindingnya seperti bagian dari sebuah organisme hidup, menyerupai sebuah usus. Kedua sisi dinding terlihat terbungkus dengan kotoran, dan bau busuknya membuat pening dan menguasai.

 

 

SEBUAH SERANGAN: DAGING

 

Walaupun saya bersama sang Elang putih, kotoran dan kehitaman mengagetkanku. Saya merasa takut. Saya berusaha untuk mempertahankan sebuah keseimbangan rohani, tetapi takut mulai melumpuhkan imanku.

 

Tanpa harapan, tekanan, dan putus asa ada di dalam dinding terowongan ini. Saya tahu bahwa Yesus sedang melindungi saya, tetapi kehadiran yang jahat mencekik.

 

Kemudian, seperti seekor binatang yang terperangkap, pikiranku mulai mencari pelarian: kemanakah saya akan pergi? Mengapa saya ada di sini? Bagaimana jika saya jatuh di tempat ini? Bagaimana saya bisa keluar dari sini?

 

Begitu keraguan telah memperoleh jalan masuk, kepanikan segera mengikuti, melampaui semua jaminan dari perlindungan Tuhan. Sekarang, pikiran-pikiran seperti anjing liar mulai menyergapku. Apakah mereka datang dari dalam atau dari terowongan? Saya tidak tahu, tetapi saya dikuasai oleh rasa takut: saya tidak akan berhasil; saya tidak dapat bertahan. Mereka akan melukaiku. Mereka akan membunuhku!

 

Jika Tuhan tidak melindungiku, saya percaya pikiran-pikiran ini pasti telah menyiksaku hingga tercabik-cabik. Saya menempel pada sang Elang putih. “Yesus, Anak Daud,” tangisku, “kasihanilah saya.”

 

 Saya tidak dapat mengatakan apa yang telah terjadi, tetapi secara perlahan perasaan akan dimakan hidup-hidup menjadi berkurang. Yesus, Juru Selamatku, telah menghampiriku. Dia menunjukkan belas kasihan.

 

Saya berada dalam shock juga linglung, seperti seorang yang telah diserang oleh segerombolan serigala rakus dan berhasil meloloskan diri hanya dengan hidupnya. Saya telah ditinggalkan lemah dan gemetar, sangat tergoncang.

 

Tuhan menguatkanku, dan saya menghela, mengendorkan peganganku. Dia akan melindungiku. Dia tidak akan membiarkanku jatuh.

 

“Saya baik-baik saja,” hela saya. “Saya tidak apa-apa.”  Kepercayaanku kepada Allah telah kembali.

 

Kemudian kesunyian, lebih seperti uap daripada pikiran-pikiran, sindiran menyusup mencapaiku bagai sulur dari asap.

 

 

SEBUAH SERANGAN: DUNIA

 

Akan selalu terlihat aneh bagiku bahwa setelah serangan yang bengis oleh musuh, periode waktu yang paling berbahaya muncul setelah pertempuran telah usai dan kemenangan telah di dapatkan. Mungkin seseorang itu rapuh karena kelelahan, mengizinkan kewaspadaan terhadap serangan menjadi berkurang. Tetapi lebih aneh lagi daripada ini adalah kenyataan setelah panas pertempuran, saya selalu melupakan kebenaran ini.

 

Saya melupakannya lagi.

 

Penyusupan meraihku secara cerdik melucuti senjata; mereka membuat dunia, yang adalah surganya setan, terlihat menjadi semuanya yang saya inginkan atau yang seharusnya saya inginkan. Janji-janji lebih manis daripada madu memenuhiku, janji-janji untuk memiliki surganya setan sekarang dan Surganya Tuhan nanti.

 

Tiba-tiba terowongan tersebut kehilangan bau busuknya; malah, mengeluarkan harum yang menggoda. Saya berpikir dalam diriku, mengapa saya melakukan hal ini? Saya dapat memiliki semua yang saya inginkan hanya dengan mengandalkan diriku sendiri. Saya tidak perlu hidup seperti ini. Kenyataannya, saya lelah hidup seperti ini.

 

Saya mulai berpikir cara-cara untuk menghasilkan uang – dan bukan hanya untuk menghasilkan uang, tetapi untuk menghasilkan kekayaan. Hanya kekayaan yang dapat mengangkatku ke atas ujian ini, pikirku. Hanya kekayaan yang dapat memberiku kemewahan yang setaraf dengan seleraku, yang pantas untuk di expresikan dan dinikmati. Ada begitu banyak keindahan di dunia, dan saya ingin mengelilingi diriku dengan keindahan ini. Tidak ada yang salah dalam hal itu, saya bisa melakukannya dengan kerja keras. Semua yang perlu saya lakukan adalah memacu diriku sendiri melalui tujuan ini dan fokus dalamnya, memberi diriku ... berfokus dalamnya dan memberi diriku... fokus dan  memberi diriku...

 

“Tunggu, tunggu,” kataku pada diriku sendiri. “Ini tidaklah benar. Memberi hidupku kepada kehidupan hasil penjumlahan, hanya memuaskan hasratku, tidaklah mungkin benar.” Sebuah ide seperti lagu sirene yang menggoda, jika saya tidak mengakibatkan kapal karam, pastilah telah menggodaku ke dalam kepincangan rohani. Mematikan.

 

“Tidak!” kataku dalam diam. “Pilihlah pada hari ini siapa yang akan kau layani, dan saya memilih Kristus,” tangisku keras.

 

Jari-jari beruap mundur dalam meraihku dan diam-diam mengelincir pergi. Lagi, Tuhan menguatkanku. Saya menghela nafas dalam-dalam seperti sebelumnya, lega.

 

 

SEBUAH SERANGAN : SANG IBLIS

 

Pada waktu ini saya pikir saya telah melihat cahaya redup di ujung terowongan. Saya mulai menjadi gugup untuk kelegaan. Saya ingin keluar. Keluar.

 

Kemudian, seolah dalam suaraku sendiri, saya mendengar, “Yesus mungkin mencintaimu, tetapi itu adalah sebuah cinta yang aneh yang akan membawamu ke dalam tempat yang penuh bahaya. Dan saya tidak dapat melihat bahwa Dia melindungimu seperti seharusnya. Tentu saja, jika Dia tidak memberitahumu sebelumnya apa yang akan kau hadapi...tetapi Dia tidak. Jika kau sendiri bisa mendapatkan pengetahuan lebih, kau tidak akan membutuhkan untuk bersandar kepadaNya untuk perlindungan. Kau bisa melindungi dirimu sendiri. Kau layak untuk mendapatkan lebih dari ini.”

 

Disanalah : keangkuhan, praduga, ketidakpercayaan, penuduhan terhadap kasih setia Tuhan, dan sebuah undangan menjadi mandiri tanpa Dia,  lebih baik dari diriNya – dengan kata lain, pemberontakan. Semuanya ini adalah hal-hal yang dalam mengenai setan.

 

“Oh Tuhan,” kataku dalam diriku, “ampuni saya. Bahwa saya bisa berpikir untuk melakukan semua hal seorang diri, ketika saya tahu bahwa tidak ada kehidupan terpisah dariMu. Saya mencintaiMU, dan saya tahu bahwa Kau mencintaiku. Kau saja adalah pemenang, Kau saja. Kau sendiri akan melakukan semuanya dan menjadi semuanya dan adalah semuanya; saya mempercayaiMU, Juru Selamatku dan Tuanku, Tuhanku yang kepadanya saya percaya.”

 

Dengan hasrat besar saya berseru dalam terowongan itu: “Saya telah disalibkan bersama Kristus, dan bukan lagi saya yang hidup, tetapi Kristus hidup dalamku!”

 

 

GUA RAKSASA

 

Dengan sukacita sang Elang putih menerjang masuk dari mulut terowongan yang jauh. Sekarang kami terlihat sedang terbang di dalam gua raksasa di dalam gunung itu, tetapi saya tidak yakin, karena saya tidak mampu melihat puncaknya. Di dalam gua ini, jika adalah sebuah gua, atmosfirnya abu dan mematikan, tetapi penuh listrik, seperti dalam mata badai.

 

Terowongan sarang madu mengelilingi gunung tersebut, keduanya di tempat tinggi, seperti satu yang telah kami jelajahi, dan yang ada pada dasarnya.

 

 

ISTANA SETAN

 

Berada di depan kami ada sebuah gunung yang lain terbit dari tengah-tengah gua besar ini. Terlihat seolah terbuat dari batu bara bergerigi yang mengkilap. Pada puncaknya adalah istana yang sangat indah, sempurna dan menggoda seperti sebuah jet batu berharga. Sebuah cairan kuning tebal mengalir dari bawah struktur dan mengelincir menuruni gunung. Udaranya berbau busuk dari sulfur.

 

Di dasar gunung ini, naga-naga merah besar mewah di dalam sebuah parit limbah, seperti seekor binatang liar akan merendam dirinya ke dalam lumpur air di Serengeti. Kepala mereka beristirahat menghadap ke dasar gunung. Api kecil akan keluar dari hidung mereka; ketika api ini menyentuh cairan kuning yang mengalir turun dari gunung, sebuah nyala api akan menyala tetapi dengan cepat padam. Mereka memutar mata mereka ke atas kepada kami, tetapi kami pastilah telah berada di luar area patroli mereka, karena kami tidak membangkitkan amarah mereka cukup besar untuk kemudian bangkit melindungi istana.

 

Istana tersebut di design dengan penuh kepandaian – penuh imajinasi dan berselera, tetapi gelap, dingin, tidak mengundang, dan penuh prasangka.

 

“Gunung setan dan istananya,” kata sang Elang putih. Dia melanjutkan terbang menuju ke sana.

 

 

SERANGAN DARI PARA HARPIES

 

Tiba-tiba, malaikat kegelapan berjumlah ribuan ditumpahkan dari terowongan dan mulai mengelilingi kami, seperti kelelawar meninggalkan gua-gua saat matahari terbenam. Mereka memiliki kepala dan bentuk tubuh seorang wanita dan sayap-sayap, ekor-ekor, kaki-kaki, dan cakar kaki burung nasar yang rakus.

 

“Mereka tidak dapat menyentuh kita,” kata sang Elang putih. “Tetaplah tenang.”

 

Harpies ini akan melintasi kami dalam jarak dekat, menangis dan mengejek, tetapi mereka tidak pernah menghambat pemandangan kami akan istana tersebut atau menghambat penerbangan sang Elang putih yang tanpa belas kasihan menuju ke istana.

 

 

SANG PANGERAN KEGELAPAN

 

Jauh tinggi di istana hitam dalam sebuah jendela yang tak bercahaya, sebuah figure tersendiri muncul, melihat kepada kami. Untuk sesaat, seorang bisa merasakan kekuatan, otoritas, dan kesepian yang sangat ekstrem. Ya – kesepian – perpisahan, terisolasi, dan sebuah hati yang dingin, sangat dingin.

 

Dia terlihat seperti seorang pangeran Spanyol. Dia memakai sebuah jubah beludru hitam dengan perhiasan-perhiasan; dia punya selera dan terawat dengan sempurna. Dia tampan, hampir sempurna tampannya, dengan rambut hitam bersinar dan mata hitam yang cerdas.

 

Dia melambaikan tangannya, dan para harpies terbang menjauh secepat mereka datang, mundur kembali ke dalam sarang madu terowongan. Suara dari ribuan sayap yang keras menyusut pergi, meninggalkan gua besar ini dalam kesunyian.

Setelah itu dia terus melanjutkan berdiri tak bergerak di depan jendela, matanya terpaku pada kami; kesepian, seperti seorang raja yang juga seorang kekasih yang ditolak.

 

Saya berpikir dalam diriku, disanalah dia: dia yang penuh dengan cahaya sehingga dia dinamai ‘yang bersinar’ – sekarang ‘sang pangeran kegelapan’, dia yang kemampuan terbaiknya adalah dia mampu menanggani sebuah kerajaan global yang luas akan penipuan, menggoda seluruh dunia.

 

Melihat kesempurnaannya, keindahan yang abadi, saya tidak dapat menahan diri membayangkan seperti apakah dirinya sebelum kejatuhannya, karena dia diciptakan mulia dalam rangka untuk memegang posisi paling di agungkan di pengadilan Surga. Dia adalah ‘cherubim yang diurapin yang menudungi.’ Saya heran jika pernah ada 3 cherubim menjadi tahta Allah, satu di kedua sisi dan satu di atas, apakah karena itu dia diciptakan dengan sangat indah, bijak, dan kuat? Untuk menjaga tahta dari posisi yang teragung itu?

 

Dia berjalan di tengah-tengah api batu bara, membagi hatinya Allah, bersekutu dengan para makhluk surgawi. Apakah dia menghianatiNya yang telah mengasihinya dengan menyerang dari atasNya? Apakah itu alasan dia menyombongkan diri bahwa dia akan mengagungkan tahtanya di atas bintang-bintang Tuhan?

 

Disanalah dia, saya berpikir dalam diriku, masih saja unggul, tetapi sekarang hanya unggul dalam kejahatan, dan karena keangkuhannya, terisolasi – melampaui jangkauan kasih karunia dan jauh dari permohonan akan itu.

 

Sang Elang putih berbalik dari istana dan mulai terbang kembali ke arah terowongan.

 

 

EJEKAN DARI GAGAK HITAM

 

Seekor besar gagak hitam tiba-tiba muncul di samping kami. Bulu-bulunya cemerlang seperti kayu arang, dan matanya berkilat merah nyala. “Mengapa Kau telah datang kemari?” desis setan. “Apakah menyenangkanMu untuk mempermalukanku di depan musuhku? Apakah menyenangkanMu untuk membawa kasih dan kehangatan kemari untuk menyiksa kami? Kau kejam!”

 

Tuhan tidak berkata apa-apa.

 

“Tidakkah Kau merindukanku?” lanjut setan. “Apakah Kau datang kemari karena rasa sepiMU karena kehilangan aku? Apakah Kau ingin datang kemari lebih sering untuk dapat bersamaku, hanya untuk melihatku?” sang gagak merekah sebuah tawa yang keras dan kejam, “Kau merindukanku dan masih mengasihiku”, katanya bergembira. Kemudian dalam nada yang penuh benci dengan cemooh pahit, dia mengejek:

 

“Kau adalah seorang bodoh untuk mengasihiku bahkan hingga sekarang, Yesus dari Nazaret.” Sikap diam Tuhan membuat geram sang gagak.

 

“Jangan datang kembali untuk mempermalukanku di hadapan musuhku! Saya adalah raja disini. Pergi menjauh! Saya tidak mengasihiMU, dan saya berharap dalam segala siksaan-siksaan indah ke atasMU untuk mengexpresikan penghinaanku. Pergi menjauh!” setan memuntahkan dengan penuh napsu.

 

Setelah mengatakan itu, sang gagak membuat putaran tajam dan terbang kembali ke istana.

 

Sang Elang putih melanjutkan melalui terowongan darimana kami telah datang. Sebuah kekosongan, kesunyian yang mematikan sedang berada dalam kegelapan itu sekarang.

 

 

KEMBALI KEPADA KANDANG DOMBA

 

Dia terbang ke kandang domba dan berhenti sebelum gerbang. Saya memanjat turun dari punggungnya. Dia menjadi Tuan kembali dengan tongkat gembalaNya dalam tanganNya. Dia membuka gerbang dan menuntunku ke dalam.

 

Kami berdua melepas sepatu kami dan berdiri dengan telanjang kaki dalam kandang domba. Saya sedang gemetaran, dan Dia menaruh lenganNya diseputarku.

 

“Tidak apa-apa, Anna,” kataNya. “Kau perlu melihat bahwa setan sangatlah kejam. Istirahatlah sekarang.”

 

Kehangatan mulai mengalir ke dalamku, dan saya mencoba untuk bernafas dalam-dalam, menetapkan diriku sendiri.

 

“Mengapa Kau menunjukkan ini semua padaku? Tanyaku.

“Kepadamu telah di anugrahkan untuk diketahui,” kataNya. “Ingatlah baik-baik apa yang telah kau lihat dan dengar.”

 

 

PENGLIHATAN AKAN PENGHAKIMAN

 

“Lihat,” lanjutNya, mengisyaratkan terhadap lantai di depan kami dalam kandang domba. Areanya terbuka untuk menunjukkan dunia yang memintal sebuah jarak di bawah kami.

 

Saat saya melihat ke arah bola dunia, saya mendengar suara langkah kaki raksasa, seolah-olah para raksasa sedang berjalan, menggoncangkan Bumi. Permukaan Bumi bergetar, dan gunung-gunung mulai terbelah.

 

“Lihatlah lagi” kataNya, mengisyaratkan di atasNYa.

 

Langit terbuka, dan saya melihat sesuatu menetas dari tengah malaikat-malaikat terang.

 

“Apakah itu?” tanyaku.

“Sebuah tali pengukur tegak lurus,” jawabNYa. Sebuah tali pengukur yang telah di timbang jatuh dari Surga melalui kandang domba kepada Bumi.

 

“Tuhan kita yang besar telah mengalah 2x, tetapi sekarang Dia telah menjatuhkan tali pengukur itu.”

 

Saat tali pengukur telah mencapai Bumi, sukacita besar mulai di Surga. Seolah-olah setiap makhluk ciptaan di sana sedang bernyanyi, dan suaranya mulai menggoncang alam roh:

 

KebenaranNya dari kekekalan kepada kekekalan. PenghakimanNya adalah pasti dan tidak akan ditunda lagi.

 

Saat gemuruh sukacita bertambah, api keluar dari Surga dan melalui tali pengukur, melintasi di hadapan kami dan menyapu menuruni garis kepada Bumi. Tiba-tiba saja seluruh dunia menjadi nyala api.

 

 

GEREJA PALSU DIHAKIMI

 

Saat nyanyian di Surga berlanjut, Yesus berkata, “Edom akan dihakimi. Terhadap dunia dia terlihat murni, tetapi dia akan tersandung di hadapan murka Allah. Anak Tuhan yang hidup akan melihat Dia di atas gunung kudusNya. Tetapi terhadap gereja Edom, Dia akan menyembunyikan diriNya sendiri dalam kegelapan, tidak pernah mengungkapkan DiriNya lagi.

 

Gunung Edom akan meleleh seperti lilin di hadapan nyala api Allah, tetapi yang benar akan berkembang di tengah nyala api. Sesungguhnya, yang benar akan menjadi sebuah nyala api di hadapan Tuhan.”

 

“Yang benar tidak akan di anggap oleh sang musuh dari Tuhan kita. Mereka akan dihina, sebuah mahkota duri akan ditikamkan ke dalam alis mereka, tetapi Tuhan, Tuhan kita, akan menghanguskan duri-duri tersebut dengan apiNya dan menyembuhkan luka mereka dengan balsemNya.

 

“Tongkat tali pengukur telah diturunkan. Bumi bergetar seperti seorang raksasa berjalan di atas tanah. Kekuatan Tuhan akan terlihat. Tidak ada raksasa yang dapat berdiri di hadapan kekuatanNYa. Tidak ada raksasa yang dapat berjalan ke dalam nyala apiNya. Yang benar akan melihat ke atas dan bersukacita bersama dengan seluruh majelis Surga. Dalam 1 chorus yang perkasa mereka akan memproklamasikan kebenaranNya dan kekuatanNya. keadilanNya akan menang, karena tali pengukur telah diturunkan dan tidak akan dipindahkan.

 

“Takutlah, o kau yang diam bersama adder (ular kecil berbisa), kau yang minum bisa para ular. Harinya telah tiba dan sekarang adalah saat Perkataan Tuhan akan memotongmu menjadi 2, dan kau akan menderita dalam kesakitan yang telah ditetapkan bagi mereka yang memeluk ilah-ilah.

“Surga menyatakan kebenaranNya dan tahtaNya; seperti sebuah batu besar, Dia akan jatuh atas para penjahat. Yang benar akan melihat wajahNya, tetapi kegelapan pekat akan menyelubungiNya dari mata Esau.

 

“Celakalah kepada mereka yang memeluk ilah-ilah. Mereka memasangkan diri mereka dengan para setan. Api telah merayapi tali pengukur. Kilat telah keluar dari tanganNya. Sesungguhnya, dunia akan melihatnya tetapi tetap akan tertipu. Ketika para raksasa berjalan di atas tanah, gunung-gunung bergetar; tetapi ketika Tuhan berjalan di atas tanah, gunung-gunung meleleh.

 

“Saat nyanyian dari kebenaran Tuhan pergi keluar di Surga, ada sebuah perpecahan, sebuah pemisahan, sebuah penjauhan, dan sebuah kelepasan: reruntuhan mengikuti gema dari refrain lagu. Pembagian yang tidak dapat diukur hingga tali pengukur dijatuhkan dari Surga kepada Bumi. Seluruh Surga telah bergabung ke dalam lagu, dan seluruh Bumi akan mendengar dan tidak akan mendengar. Penghakiman di seluruh tanah. Yang benar akan tumbuh dalam kebenaran, dan yang jahat menggertakkan gigi mereka dan mengutuki Tuhan.

 

“Berpegang teguhlah kepada Tuhan, Anna. Berpegang teguhlah kepada Tuhan. Saat Dia mengalah, bahkan 2x, tetapi sekarang penghakiman telah dimulai dalam rumah Tuhan. Yang benar akan bersinar seperti matahari, dan gereja yang korup, walaupun kaya, dihiasi dengan hadiah-hadiah cantik dari Tuhan, akan tersandung di hadapanNya. Karena Dia tidak akan mengalah lagi, dan gunung Esau akan di ratakan. Seorang manusia akan menendang kepada debu dari gunung tersebut dan berkata ‘dimanakah dia? Bahkan tidak juga sebuah gundukan setinggi seekor semut akan tetap ada. Dimanakah dia?’ Batu-batuNya dan Bumi akan di hancurkan menjadi bubuk dan ditiup pergi. Di tempatnya akan ada tanah padang pasir yang tidak seorang pun akan berpaling untuk melihat karena tidak ada yang akan tetap ada.

 

“Gunung Tuhan: yang benar akan melihatnya dan menjadi lega. Mereka akan bergabung dalam nada perkasa Surga. Mereka akan berjalan di jalan-jalan emas dan makan dari manna. Mereka akan berdiri di sisi tali pengukur dan tidak akan malu. Kebenaran dan keadilan adalah dasar dari tahtaMu, O Allah yang benar.

 

“O Adil dan Benar, umat manusia telah memikirkan dirinya lebih dari Engkau; tetapi bagi yang benar Kau akan mengungkapkan kebenaranMu, dan kepada yang adil, Kau akan mengungkapkan betapa adilnya Kau selama ini.”

 

 

BERGABUNG DENGAN NADA

 

Tuhan melanjutkan, “bersama dengan nada dari para putra Allah. Nyatakan kebenaranNya selamanya. Biarkan suara dari tangisan kita memenuhi langit. Biarkan suara dari tangisan kita memenuhi Bumi. Bergabung dengan sukacita tersebut saat nyanyian dilantunkan, jatuh dengan berat lebih dari langkah-langkah raksasa, jatuh dengan berat dari tahta Allah sendiri.

 

“Bersukacitalah, O Surga; merataplah, O dunia. Bersukacitalah, O kebenaran, dan gemetarlah, O daging. Karena api telah datang dari Surga, merayapi tali pengukur, dan hanya Putra Allah yang akan lolos melalui nyala api ini. Bersukacitalah, O Surga, dan menjadi lega, karena penghakiman telah dimulai; penebusan akhir telah dekat. Allah kami akan menyelesaikan semuanya. Tali pengukur tidak akan di pindahkan hingga semua berbaris bersama dengan Putra Allah. Bersukacitalah!”

 

Tuhan berbalik kepadaku dan berkata, “Catatlah apa yang telah kau lihat dan dengar, karena hal-hal ini adalah dan akan terjadi; tidak ada yang dapat menghentikan mereka. Mari.”

 

Dia memegang tanganku, dan bersama kami mengikuti nyala tali pengukur ke dalam Surga.

 

 


BAB 10

TAHTA ALLAH

 

Saat kami bangun, cahaya tersebut menjadi multiwarna, bergetar, hampir hidup. Suara dari nyanyian bertambah menjadi 100x lipat saat kami mengikuti tali pengukur yang bernyala ke dalam Surga ke-3:

 

KebenaranNya dari kekal sampai kekal.

 

PenghakimanNya adalah pasti dan tidak akan di tunda lebih lama lagi.

 

 

PERAYAAN KEGEMBIRAAN

 

Ketika Yesus muncul di atas “lautan kaca”, sebuah teriakan keras naik; mereka yang bernyanyi secara spontan bersukacita saat melihatNya. Kami telah memasuki Surga ke-3 yang terlihat seperti bagian belakang dari ruang tahta.

 

Yang ditebus mulai menari sebagai satu kesatuan – saling bersilangan langkah dengan cepat, gerakan meluncur, seperti penari-penari di Bumi dengan penampilan kuno. Gerakan-gerakan tersebut kuat dan penuh sukacita. Mereka yang melewati kami akan mengulurkan tangannya menyentuh Yesus; Dia akan mengulurkan tanganNya pula untuk menyentuh tangan demi tangan dari mereka yang melewati kami dalam tarian. Semuanya sedang tertawa. Saya yakin bahwa tarian tersebut adalah spontan. Yang ditebus menari dengan kekuatan dari Roh Kudus, ribuan akan ribuan dipimpin oleh RohNya sendiri.

 

Yesus melirik ke arahku. “Aku dibutuhkan, Anna”, kataNya. Dia mengisyaratkan kepada seseorang untuk mendekat kepada kami. Dia adalah malaikat besar resmi yang telah saya temui di atas jalan bergerak. Saat Tuan berbicara padaku, Dia masih saja tersenyum dan menyentuh tangan-tangan yang diulurkan padaNya. “Epaggelias akan bersamamu.”

 

 

MALAIKAT EPAGGELLAS

 

Jadi ini adalah namanya, saya berpikir dalam diriku, tersenyum dalam hati.

 

Sang malaikat membungkuk dari pinggang kepada Yesus. Tuan tersenyum padaku, meraih dan meremas tanganku, dan menghilang.

 

Epaggelias dan saya melanjutkan menonton tarian yang bersemangat tersebut.

 

“Kau telah datang pada waktu yang penuh sukacita”, kata Epaggelias.

 

“Mengapa?” tanyaku.

Jawabnya, “Kami bersukacita setiap hari atas mereka yang baru saja datang ke dalam Kerajaan, tetapi perayaan ini adalah respon terhadap pernyataan dari Ayahmu bahwa sebuah perkumpulan besar akan dimulai. Anak-anakNYa dipenuhi oleh pengucapan syukur kepadaNya untuk kesetiaanNya, karena Dia akan melakukan sebuah pekerjaan yang cepat dan menebus banyak dari saudara dan saudari mereka melalui Yesus Kristus Tuan kami.”

 

“Hal tersebut sangat menarik”, senyumku. “Terima kasih telah memberitahuku, Epaggelias”.

Dia membungkuk menyadari dan tersenyum pada dirinya sendiri, karena hal tersebut adalah lelucon pribadi antara kami karena Yesus baru saja memberitahuku namanya.

 

Ribuan penari berkumpul ke dalam lingkaran, setiap lingkaran terdapat kira-kira 24 penari. Mereka mulai melingkar dan melambai ke dalam dan ke luar di dalam arena. Beberapa sedang tertawa, tetapi dimana-mana ada sukacita. Mereka mulai bernyanyi saat mereka menari:

 

Lagi dan lagi kami bernyanyi akan kemuliaanNYa,

 

Lagi dan lagi bersukacita dalam Allah kita.

 

Semua melakukan gerakan yang sama, memutar dan berputar dalam lingkaran, dan menyanyikan lagu yang sama dimana-mana di atas lautan kaca.

 

 

PENYEMBAHAN DALAM KEHENINGAN

 

Kemudian, saat melalui tuntunan roh, musiknya melambat kepada sebuah helaan, sebuah jeda, sebuah keheningan. Yang ditebus berhenti juga, dalam keheningan dengan lengan dinaikan, berserah kepada Tuhan. Saya teringat Mazmur 65 yang menyatakan, “Akan ada keheningan dihadapanMU... pujian di Zion, O Tuhan.” Penyembahan dalam keheningan.

 

Setelah sebuah jeda yang panjang, sebuah melody yang agung dan lambat dimulai. Selain nada-nada dengan alat musik yang saya kenal, beberapa musik dimainkan di atas alat musik yang tidak pernah saya dengar. Mungkin mereka dari kebudayaan lain atau dari model kuno. Dalam keharmonisan dengan alat musik adalah sebuah nada manis yang lain. Bukanlah nyanyian, atau dimainkan oleh pemusik. Apakah sebenarnya itu?”

 

 

TARIAN PENYEMBAHAN

 

Yang ditebus merespon terhadap musik dengan memulai sebuah tarian penyembahan kerajaan. Gerakan-gerakannya megah dan mulia, dan mereka melakukannya dengan cermat dan kuat. Mungkin sebuah pavane adalah tarian di Bumi yang hampir menyerupai penyembahan ini dari yang ditebus. Saya merasakan mereka menari untuk mengexpresikan penghormatan mereka. Tarian mereka adalah sebuah penghargaan. Perubahan langkah-langkah memungkinkan saya untuk mendapatkan bantalan.

TAHTA ALLAH

 

Ruang tahta secemerlang cahaya seperti kerajaan setan yang gelap.

 

Permukaan dimana yang telah ditebus menari adalah sebuah trotoar dari cahaya yang terlihat seperti sebuah cahaya biru. Areanya luas seperti sebuah plaza besar. Jauh di ujung dari ‘laut’ luas ini adalah sebuah cahaya putih yang mempesona, berada di tengah adalah tahta Allah.

 

Sebuah kerinduan besar memenuhiku, dan sebuah bisikan secara sukarela lolos: “Papa”. hadiratNya menarikku dengan kawat cinta. Epaggelias melihat kepadaku dan tersenyum.

 

Wujud sang Ayah dimanifestasikan oleh cahaya yang tak tergambarkan putihnya. KemuliaanNYa yang tak terkatakan memancar keluar ke semua arah untuk membentuk sebuah bulatan besar dari warna-warna yang menabjukkan. Dari jarak yang memungkinkan pancaran ini terlihat seperti sebuah mata dengan sebuah manik mata yang putih mempesona. Mungkin bulatan ini terjadi karena pantulan atas lautan kaca. Saya tidak dapat membedakannya. Tetapi saya teringat bahwa seringkali gereja awal memiliki batu mosaics atau fresko akan ‘mata Allah’ dalam gedung-gedungnya. Berdiri di atas lautan kaca, saya mengira-gira jika mereka sedang mencari untuk melukiskan kemuliaan Sang Ayah seperti juga kemahatahuanNya.

 

Keindahan dari diriNya memancar keluar ke dalam pita-pita warna, seperti sebuah anak panah yang warnanya bercampur dari putih hingga kuning, hingga emas, kepada Shekinah emas kemerahan, dan melalui spektrum warna dari merah, ungu, biru, dan diakhiri dengan hijau. Pelangi di Bumi adalah jenis dari ‘anak panah Allahku’.

 

 

BERGERAK LEBIH DEKAT KEPADA TAHTA

 

Terpaku, saya terhilang dalam keajaiban akan Dia. Epaggelias menyentuh bahuku untuk menarik perhatianku kepada apa yang akan ia katakan. “Mari ikutlah saya”, katanya, dan dengan itu dia mulai bergerak mendekat kepada area tahta. Kami mulai melewati mereka yang menyembah, kadang-kadang merunduk dibawah lengan seorang penari saat kami berjalan maju.

 

Cahaya yang mana kami masuki mulai menguat, demikian pula dengan perasaan akan kekuatan. Saat kami bergerak mendekat kepada tahta, pancaran tersebut terlihat lebih seperti gelombang-gelombang cahaya dalam fajar borealis ketika membentuk sebuah busur cahaya melintasi langit.

 

Terang yang berkobar tidak membutakan seperti matahari di Bumi bila kau memandangnya. Seseorang dapat mengalami, merasakan, dan bahkan melihat kepada terang ini.

 

 

 

PUJIAN MAKHLUK SURGAWI

 

Ribuan malaikat sedang mengelilingi di atas area tahta, dan ribuan lagi terlihat sedang bergabung dengan mereka.

 

Tak terhitung jumlah para malaikat sudah berada di dalam busur cincin di sekeliling tahta. Setiap grup memakai warna dari corak tertentu. Mereka membuat suara musikal dengan terbang pada tingkat dan kecepatan dan pola yang berbeda. Sama seperti sebuah tongkat berputar yang akan membuat suara yang berbeda – bertambah tinggi atau keras dengan kecepatan yang di putari – jadi para malaikat ini dalam penerbangan mereka membawa serta berbagai jenis suara akan pujian. Nada dari penerbangan yang mereka buat adalah berbeda dari nyanyian atau permainan dari alat musik. Ini pasti adalah suara musikal yang asalnya tidak dapat saya ketahui di awal, langka dalam keindahannya.

 

Mereka terlihat tak terkatakan bahagianya, seolah-olah berenang, dalam kemuliaan Tuhan. Saya juga merasakan sukacita ini; selamanya tidak akan cukup untuk memuji Dia dan untuk menerima sukacitaNya kembali dari Dia.

 

Pada suatu waktu para malaikat akan terbang bersama, menghasilkan sebuah nada berbeda dari suara mereka yang terbang dalam sebuah warna.

 

 

SATU DENGAN PUJIAN

 

Melodinya, seperti cahaya dalam ruang tahta, melaju melalui-ku. Musik pujian memasuki-ku dan melewati melalui-ku, dan saya menjadi satu dengan suara. Seolah-olah saya telah menjadi pujian. Saya teringat bahwa Daud berkata di dalam buku Mazmur, ‘tetapi, saya berdoa’, - mengartikan bahwa dia adalah doa. Begitu pula dengan pujian di ruang tahta.

 

Epaggelias berhenti di tengah para penari dan berkata, “Keharmonisan, kesatuan, dan keinginan dari mereka disini adalah memberi kepada sang Ayah hakNya – secara terus menerus memberikan bagian dari diri mereka sendiri dan menerima lebih dari Dia ketika mereka memuji dan memuja – melahirkan sebuah musik manis.”

 

“Ya”, saya setuju.

 

Kami menyaksikan dan mendengarkan sebuah gerakan sebelum bergerak maju lagi.

 

Saat kami mendekat kepada tahta, seolah seperti saya mulai melihat pujian. Tembus pandang, hampir tidak terlihat, tetapi saya dapat melihatnya. Terlihat seperti memiliki sifat yang berbeda. Beberapa pujian seperti kain, beberapa seperti partikel. Ucapan syukur terlihat seperti burung terbang dari cahaya.

 

 

 

 

PUJIAN DIMURNIKAN

 

Para malaikat dalam penerbangan mengumpulkan beberapa pujian dari lautan kaca dan menenun ke dalam pujian mereka dalam tiap warna dari panah (yang, pancaran seputar Bapa)  sebelum dinaikkan kepadaNYa. Beberapa penyembahan naik kepada sebuah altar kecil dimana mereka muncul sebagai bara nyala api. Saya heran mengapa yang satu bergerak ke satu arah dan yang lain berbeda arah.

 

Epaggelias menyadari pertanyaan tak terucapkan ini. “beberapa pujian sudah dalam keharmonisan dengan pujian Surgawi, tetapi beberapa harus melewati api”, katanya.

 

Wujud malaikat dalam ungu pucat ada di atas altar kecil ini. Jubah mereka disulam dengan ungu tua dan emas di atas lengan dan di ujung, dan mereka terikat dengan ikat pinggang keemasan. Telapak tangan mereka juga di warnai dengan warna ungu. Saya merasakan bahwa mereka pastilah malaikat dalam hadiratNya. Mereka sangat berhati-hati dengan segala yang ditujukan kepada Bapa. Ada sebuah kehalusan dalam menanggani hal-hal yang merupakan milikNya, seperti seorang gembala menyemangati dan membantu kelahiran seekor anak domba. Apakah ditenun ke dalam harmoni malaikat dalam tiap warna dari pancaran tersebut, ditarik kepada bara di atas altar kecil – semua, semua naik kepadaNya. Tidak ada yang dibawa pergi atau dicuri.

 

 

KETERJALINAN

 

Saya menjadi semakin sadar akan wewangian yang menyenangkan di sekitar area tahta dan atas keterjalinan dari suara dan warna dan bau. Ini tidak dapat dijalin bersama di Bumi seperti mereka di campur di sini di Surga. Kami di bawah bisa mengalaminya secara serentak, tetapi di atas mereka ini memiliki sifat yang sama. Lebih seperti air yang dituangkan ke dalam air. Air, memiliki sifat yang sama, bisa di campur. Jadi di sini sama dengan suara, cahaya, dan wewangian. Rasanya aneh untuk melihat suara, mendengar warna, dan untuk mencium dengan sebuah kualitas nyata besertanya; tetapi di Surga semuanya terlihat alami dan tepat dan bahkan jelas.

 

 

7 NYALA API BESAR

 

Ada 7 nyala api besar, 7 obor, di hadapan tahta.

 

Epaggelias berbicara, “ini adalah manifestasi dari Roh Kudus. Mereka membakar di hadapan tahta terus menerus. Dia mengungkapkan diriNya sendiri di sini (di atas) dan di Bumi. Sang Domba mewujudkan hal ini, dan sang Roh mengambil dariNya. Dari yang diciptakan, penghuni Surga, sang seraphim, membakar di dalam kekudusan, lebih mendekati menyerupai lampu-lampu Roh ini. Mereka membakar di atas, dan lampu-lampu membakar di hadapan (sang tahta).”

 

 

 

SERAPHIM

 

Saya memandang ke atas untuk melihat makhluk surgawi membakar tepat di atas cahaya paling kuat dari tahta. Masing-masing memiliki 6 sayap. Sekarang dan kemudian saya dapat melihat wajah-wajah mereka atau kegerakan dari sayap-sayap mereka. Mereka membakar seperti nyala obor. Dari mereka datang musik paling manis dan murni yang pernah saya dengar.

 

 

KE 24 TUA-TUA

 

Di tengah cahaya putih yang kuat dari area tahta, disana berdiri 24 makhluk yang sangat tinggi dengan mahkota-mahkota di kepala mereka. Masing-masing memakai sebuah rantai dengan sebuah medali keemasan bergantung di atasnya. Rambut di atas kepala mereka adalah putih, dan mereka penuh dengan cahaya. Saya dapat merasakan bahwa mereka dari purbakala, bijak, dan memiliki banyak kekuasaan.

 

Epaggelias menuntun saya ke dalam area yang jernih lebih dekat kepada tahta.

 

 

4 MAKHLUK HIDUP

 

Di dalam cahaya yang lebih besar, saya dapat melihat 4 makhluk hidup. Masing-masing lebih putih dari putih, penuh dengan cahaya. Masing-masing memiliki 6 sayap. Yang seorang terlihat seperti anak sapi, seorang lain seperti singa, seorang lagi seperti elang, dan seorang seperti anak manusia. Kepala mereka dan kaki mereka, cakar, kuku, atau ceker adalah keemasan. Mereka penuh dengan mata, menabjukkan dan sangat indah.

 

Makhluk hidup dari cahaya yang terlihat seperti seorang manusia memakai sebuah pakaian yang transparant dengan kerah tinggi dari leher ke telinga. Kerah ini terlihat seperti sebuah kipas yang terbuka dari renda putih yang terjalin dengan benang keemasan. Sebuah kuk keemasan dan panel depan melengkapi bagian tengah dari jubah. Melalui kain tipis dari pakaiannya, saya dapat melihat bahwa tubuhnya ditutupi dengan mata-mata. Di bawah sayap-sayap dari tiap makhluk hidup ini adalah tangan-tangan.

 

Ketika yang ditebus jatuh kepada lututnya sepanjang tarian, ke-4 ini membungkuk kepada sang Raja. Di dalam tangan mereka memegang mangkuk emas yang mereka persembahkan ke hadapan tahta.

 

Epaggelias berbicara kepadaku: “ini mewakili 4 bagian besar dari penciptaan kehidupan”. Sang Firman berkata bahwa semua hal adalah untuk memuji Dia. Ini adalah sisa dari penciptaan untuk mengenapi Firman tersebut. Yang mereka lakukan disebabkan untuk semua yang Tuhan telah ciptakan”.

 

“Mengapa mereka memiliki kepala-kepala yang keemasan?” bisik saya.

 

“Emas menunjukkan tempat mereka di antara mereka yang mewakili penciptaan di hadapan tahta,” jawabnya. “Adalah sebuah logam berharga di Bumi dan mewakili Kristus di sini, jadi warna mereka merefleksikan yang mana yang berharga: menyembah Tuhan. Tuhan berurusan dengan yang tersisa. Ke-4 ini adalah yang khusus tersisa. Di hadapan tahta, Tuhan Maha Kuasa, Sang Mulia, sedang dipuji dan disembah oleh ciptaanNya. Putih mewakili yang tidak bersalah atas semua yang telah Ia ciptakan pada mulanya. Hal itu mengingatkan Dia bahwa apa yang Ia ciptakan telah diciptakan murni dan tidak tercemarkan pada mulanya”.

 

 

MENYIMPULKAN PERSEMBAHAN PUJIAN

 

Persembahan akan penyembahan dan ucapan syukur oleh yang ditebus sedang mendekati pada akhir. Sebagai kesatuan, orang kudus yang telah ditebus melangkah ke depan, lengan-lengan mereka di seputar pinggang yang lain. Mereka berlutut di atas lutut mereka di hadapan tahta, menundukkan kepala mereka memberi penghormatan. Ke-24 tua-tua dan ke 4 makhluk hidup berlutut, mengucapkan amin pada akhir dari tarian.

 

Jumlah tak terhitung dari para malaikat yang memuji Dia di atas yang berada dalam pancaran berdiri mematung. Mereka terlihat ribuan di atas ribuan dan baris demi baris seperti pipa organ sejauh yang dapat saya lihat.

 

Di dalam keheningan yang mengikuti, Tuhan berbicara.

 

 


BAB 11

PANGKUAN SANG AYAH

 

“Sungguh indah, anak-anak”, Tuhan sang Ayah berkata. “Sekarang istirahatlah”. Mereka yang telah menari membubarkan formasi dan mulai berbicara di antara mereka di dalam kelompok-kelompok kecil. Kehangatan dari persekutuan mereka adalah seperti anak-anak di sekitar api terbuka di hadapan seorang ayah tercinta.

 

Epaggelias bersandar dan berbicara kepadaku, “sekarang lihatlah”, katanya.

 

 

PERSEMBAHAN ANAK-ANAK

 

Seorang malaikat mulai memainkan sebuah melodi sederhana di sebuah recorder saat ratusan dari anak-anak datang ke hadapan tahta. Malaikat-malaikat dan yang ditebus mengendong yang masih kecil di lengan mereka. Mereka menuntun anak-anak lain dengan tangan mereka.

 

Anak-anak membawa buket bunga kecil kepada Yesus dan kepada Ayah. Yesus mencium setiap anak, dan baik Dia dan Ayah berbicara dengan mereka. Tangan besar dari cahaya datang dari area tahta saat Ayah menerima bunga-bunga tersebut. Dia menyentuh setiap anak dan memberkati mereka. “Terima kasih”, Ayah berkata kepada setiap anak, memanggil masing-masing dari mereka dengan namanya.

 

Epaggelias melanjutkan berkata kepadaku secara pribadi, “Mereka ini yang meninggal di usia muda.”

 

Secara otomatis saya menjadi tahu bahwa beberapa dari anak-anak ini meninggal karena keguguran, dan beberapa telah di aborsi; bagaimana saya tahu ini, saya tidak tahu.

 

Epaggelias melanjutkan, “Mereka dibesarkan hingga dewasa disini. Baik malaikat-malaikat dan saudara mereka – yang ditebus – adalah guru-guru mereka.”

 

Saya berhenti melihat anak-anak dan mencari kebenaran di wajah Epaggelias. Dia melihat keterkejutan saya.

 

“Anna, banyak dari misteri Allah kita telah dibuka sekarang. Bagi beberapa buku pengertian telah dibuka.” Dia memandang kepada anak-anak. “Tuhan kita dapat berbicara kepada roh seorang anak mulai dari kandungan. Roh tersebut bisa merespon mulai dari permulaan kehidupan dalam rahim.”

 

Saya juga melihat kembali kepada anak-anak. Saya tiba-tiba menyadari bahwa Yohanes Pembaptis telah merespon kepada Roh Allah dari rahim. Bila Roh Kudus dapat menyelami pikiran Allah sendiri, seperti yang dikatakan Firman, tentu saja sang Roh dapat berkomunikasi dengan roh seorang anak bahkan sebelum lahir.

 

Anak-anak yang telah di aborsi mempersembahkan sebatang cabang kecil dari henna untuk menunjukkan kepada Ayah bahwa mereka memaafkan orang-orang yang telah bertanggungjawab atas kematian mereka dan juga meminta Dia untuk mengampuni mereka juga.

 

Saat saya menyaksikan, kebesaran atas keadilan Allah kita memenuhiku. Dia telah memberikan setiap anak kesempatan untuk datang kepada Kristus, dan semua yang telah memilih Dia ada disini.

 

Epaggelias berbicara, “Tidak ada yang terhilang dari tangan Yesus, Anna. Tidak ada.”

 

 

NYANYIAN DARI SERAPHIM

 

Saat anak-anak mulai beranjak pergi, para seraphim bernyanyi:

 

            O perhiasan melampaui setiap perhiasan, Tuhan kita,

            Karunia melampaui setiap karunia

            Allah yang kekal, Allah yang Luhur,

            Tuhan di depan mata kita.

 

Sementara melihat kepada kuatnya terang dari Ayah, mataku telah menjadi terbiasa dengan kecermelangannya, saya kira, karena ketika anak-anak mulai meninggalkan area tahta, saya dapat melihat lebih dari tahta tersebut.

 

 

SANG TAHTA

 

Dibawah sandaran lengan tahta di kedua sisi terdapat 2 cherubim besar. Mereka melihat keluar kepadaku melalui terangnya cahaya. Tiap cherub sepertinya adalah campuran dari ke-4 makhluk yang diwakili dalam makhluk hidup. Masing-masing memiliki wajah seorang manusia, sayap dari seekor elang, dan satu bagian dari tubuh adalah singa dan bagian lain adalah lembu. Mereka menjaga kedua sisi dari tahta Allah. Mereka sangat indah dan begitu penuh dengan cahaya sehingga mereka seperti petir dengan sinar ungu pucat membentuk wujud mereka.

 

Tahta dimana Ayah duduk dihiasi dengan wujud: kebenaran, keadilan, kekudusan, kemurahan, dan kebajikan lainnya.

 

 

YANG TAK TERNILAI DI ATAS

 

Epaggelias berbicara saat dia melihatku menatap lekat-lekat ke dalam terang di sekitar tahta, “adalah hal-hal yang bukan yang berada di Surga, Anna.”

 

Saya merasa bahwa yang ia maksudkan adalah hal-hal yang tidak berwujud.

 

Epaggelias melanjutkan, “yang tak ternilai adalah tak terciptakan. Ini adalah hal yang di inginkan musuh, karena nilainya melebihi emas. Dia akan memberikan hanya emas dan perak untuk mereka, tetapi bukanlah suatu pertukaran yang adil. Hidmat, kebijaksanaan, sukacita, damai sejahtera, kebenaran, kesetiaan – hal-hal ini yang menghiasi tahta sang Maha Kuasa. Hanya perhiasan-perhiasaan tidak dapat dibandingkan. Jalan-jalan disini adalah emas, tetapi iman adalah sebuah perhiasan yang tak dapat dibandingkan, kemurahan adalah sebuah komoditas yang lebih berharga daripada permata-permata.”

 

Saya melihat ke dalam terang menabjukkan dari Allah kita. “Papa,” saya berbisik lagi.

 

 

SANG AYAH

 

Di dalam cahaya yang megah itu, sebagian dari wujud Ayahku dapat terlihat. Saya dapat melihat apa yang tampak sebagai kakiNya dan yang terlihat seperti sebuah pakaian yang jatuh seperti tirai di atas lautan kaca. Kedip petir ada di atas pakaian ini. Di dalam cahaya yang membakar, saya dapat melihat sesuatu dari tanganNya dan lengan longar yang menutupi lenganNya. Di atas pinggangNya, terang yang berasal dari DiriNya begitu membutakan dengan kekuatan, kemurnian, dan kekudusan sehingga saya tidak dapat melihat lebih jauh.

 

Saat Yesus menyerahkan bayi terakhir kembali kepada seorang malaikat yang akan membawanya dari ruang tahta, Ayahku berbicara kepadaku.

 

“Anna, anakKU,” kataNya.

 

Yesus berbalik untuk tersenyum kepadaku. Epaggelias mengisyaratkan bagiku untuk bergerak maju, mendekat kepada tahta.

 

 

BERDIRI DI HADAPAN SANG AYAH

 

Saya melakukannya, berkaret kaki, bergerak mendekat kepada terang yang menghanguskan. Setelah saya tiba pada area dimana anak-anak berada sebelumnya, saya jatuh pada lututku dan menundukkan wajahku kepada lautan kaca.

 

Yesus melangkah ke arahku dan membantuku untuk bangkit, menguatkanku saat Dia melakukannya. “SaudariKU berada di sini untuk melihatMU, Ayah.”

 

Saat saya bangun di atas kakiku, lengan cahaya Ayah keluar dari segala kemuliaan dan mengendongku, mengangkatku tinggi di atas udara. Tindakan tersebut terlihat sangat alami seperti seorang Ayah akan mengendong anaknya.

 

 

PANGKUAN AYAH KITA

 

Dia menaruhku di atas pangkuanNya.

Saya begitu dipenuhi dengan cinta dan rasa syukur dan kelegaan, bahwa tanpa berpikir, saya mengangkat kedua lenganku dan membenamkan wajahku ke dalam cahaya. Reaksinya adalah seperti seorang anak yang akan membenamkan wajahnya dalam pakaian orangtuanya.

 

“Papa,” kataku, merasakan damai, damai yang tak terkira.

 

“Kau sungguh berharga bagiKU, Anna.”

 

“Saya mencintaiMU, Papa.”

 

“Dan Aku mencintaimu, Anna.” kataNYa, menarikku lebih dekat. Saat kami duduk di sana menikmati satu sama lain, Dia mulai menyatakan pikiranku yang paling terdalam.

 

 

HARAPAN

 

KataNya, “mereka yang dipanggil untuk mendekat kepadaKU akan berbagi kedamaianKU. Tetapi hanya mereka yang memiliki harapan yang memiliki damai, damai yang berkesinambungan. Bila harapan telah sirna, jiwa akan terempas maju dan mundur mencari pelabuhan yang aman, Anna. Saya ingin mata anak-anakKU tertuju kepadaKU, berharap dalamKU, tidak melihat kepada pemandangan yang melintas dari kejadian-kejadian duniawi yang sedang dimainkan dihadapan mereka. Aku ingin mereka untuk melihat melampaui, untuk memandang ke atas, untuk melihat pada akhirnya tepi pantai yang jauh ke arah mana mereka sedang berlayar, memenuhi hati dan pikiran mereka, mata dan telinga mereka denganKU. Hal ini akan membawa harapan yang memberi damai.”

 

Saya duduk dan memandang ke dalam cahaya yang lebih besar dari area tersebut yang adalah wajahNYa jika saya dapat melihatnya.

 

 

LEBIH DALAM KEPADA TUHAN

 

Ayahku melanjutkan, “Bila mereka bersuka di dalamKU, Anna, hasrat mereka akan membawa mereka lebih dalam kepadaKU. Kemudian, saat mereka di tarik ke dalamKU, maka mereka akan meninggalkan orbit Bumi dalam derajat yang besar dan lebih besar lagi. Segera, seperti gravitasi, tarikan dari alamKU, hasrat untukKU – untuk mengenalKU dan untuk mengalami yang kekal dalam kefanaan – akan menjadi sangat kuat sehingga mereka akan dibebaskan dari orbit Bumi dan akan ditarik lagi dan lebih cepat lagi ke dalam MilikKU. Aku tidak berharap untuk tinggal dalam awan gelap lagi. Aku ingin anak-anakKU mengenal Ayah mereka. Aku ingin mereka melihatKU dan mendengarKU, karena Aku seorang Ayah yang penuh kasih bagi mereka, Anna, dan Aku perduli dengan setiap tarikan nafas yang mereka ambil. Kebenaran, yang adalah PutraKU, datang kepada dunia. Banyak yang telah ‘melihat’ dan berjalan keluar dari pintu-pintu penjara. Tetapi PutraKU datang untuk mengungkapkan Aku. Sekarang pewahyuan tersebut akan menjadi kenyataan masa kini. Yang berlangsung, penyelesaian dari misi duniawi tersebut, yang dimulai dengan penyingkapan PutraKU, akan mencapai kejelasan yang belum diselesaikan sebelumnya.”

 

 

PENGLIHATAN AKAN AIR YANG BERMASALAH

 

Saya melihat sebuah tangan bergerak maju mundur dalam sebuah kolam air, menganggu setiap pantulan sehingga tidak terlihat.

 

“Seperti air dari umat manusia menjadi lebih dan lebih terganggu lagi,” Ayahku berkata, “kolam spiritual akan menjadi lebih bening.” (Kemudian saya melihat sebuah tangan di atas sebuah kolam bersih dan memantulkan dengan sempurna di dalam air). “Anak-anakKU akan mengenalKU. Akankah kau membantuKU, Anna?”

 

 

MENAWARKAN SEBUAH TANGGUNGJAWAB

 

“Jika Kau membutuhkanku, Papa,” kataku.

 

“Aku telah membangkitkanmu dalam jam ini untuk melihat ke dalam alam Surgawi, untuk terbang dalam udara yang jernih bersama sang Elang putih, untuk beristirahat dalam sarang sang Elang, dan untuk mencicipi akan kesukaan-kesukaan yang akan datang dengan makan dari tanganKU sehingga kau dapat makan dan yang lain mencerna apa yang telah kau makan.”

 

“Bagaimana, Papa?”

 

“Dengan memberi mereka harapan dengan mengizinkan mereka untuk melihat dan mengalami melalui mata dan pengalaman-pengalamanmu. Aku akan berkata-kata melaluimu, ‘Harapan’, karena Aku sedang melakukan hal-hal yang baru pada hari-hari ini; semua yang lapar dan haus akan Aku akan makan dan minum. Kau akan menjadi kanselirKU.”

 

“Seperti seorang bendahara?” ceplosku tanpa ku menyadarinya ( karena saya hanya mendengar hal yang disinggungkan itu pada masa kini ada dalam Corporasi Penyiaran Inggris).

 

“Tidak,” Ayahku tertawa, “SekretarisKU.”

 

“Oh,” saya berkata dengan kelegaan, karena saya pikir saya mungkin sanggup melakukan tugas kesekretarisan – dengan bantuan Tuhan, saya dengan cepat menambahkan dalam diriku.

 

 

 

 

SURAT-SURAT DARI RUMAH

 

Ayahku melanjutkan, “Kau akan mengatakan apa yang telah kau lihat dan dengar. Kau akan mengungkapkan hatiKU dan memberi harapan dengan mengungkapkan ‘rumah’ kepada yang lainnya. Kata-katamu akan menjadi seperti surat dari rumah kepada mereka yang ada di ladang. Ketika seorang prajurit berada dalam medan pertempuran, sebuah surat dari rumah yang menceritakan mengenai orang-orang dan tempat-tempat di rumah memberi seorang prajurit harapan yang sangat besar. Dia terus maju karena dia rindu akan rumah dan menyadari bahwa dia sangatlah dicintai. Harapan, Anna, adalah sebuah hadiah bagi umat manusia. Tanpa harapan, mereka layu.”

 

“Mengapa Kau memilihku, Papa?”

 

“Karena kau sederhana, Anna, dan hanya mengetahui sedikit. Sebelum fondasi dunia ini, Aku telah memanggilmu, bukan karena kau bijak atau cerdas, tetapi karena Aku bersuka atasmu. PutraKU bersuka dalammu. Roh Kudus bersuka dalammu. Dan Aku telah membawamu kepada diriKU hari ini untuk meminta bantuanmu.”

 

 

YA

 

“Tentu saja saya akan membantuMU,” kataku, “tetapi Papa, tolong bantulah saya untuk menjauhkan diri dari berdosa terhadap Engkau. Saya ingin mewakili diriMU sungguh-sungguh. Tolong jaga saya tetap murni sehingga saya tidak akan mengotori karunia ini atau kepercayaan yang telah Kau tempatkan dalamku.”

 

 

HANYA DI DALAM DIA

 

Saya terus melanjutkan mendengarkan Ayahku berbicara kepadaku. “Di dalam Dia, Anna, di dalam PutraKU. Aku hanya percaya kepadaNYa. Adalah hidupNYa, pelayananNya, dan pekerjaan dari Roh Kudus melaluimu. AnakKU yang terkasih, kau seutuhnya tidak layak dipercayai. Saat kehidupan dari PutraKU meningkat di dalammu, tampaknya kau semakin layak dipercayai, tetapi sesungguhnya, hanya di dalam Dia; akan selalu tetap hanya Dia saja.”

 

Dia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Sekarang, Anna, kau harus memberi dirimu waktu untuk bersamaKU. Kanselir harus tumbuh di dalam tugas-tugas mereka dan pengurapan dan otoritas. AnakKU, hatiKU berbalik kepada anak-anak. Tunjukkan pada mereka hatiKU sehingga mereka dapat berbalik kepadaKU.”

 

Dia mengangkatku dari pangkuanNYa dan menempatkanku di hadapanNya di atas lautan kaca saat Dia berkata, “Sekarang, berdirilah di hadapanKU.”

 

RAPAT YANG MENABJUKKAN

 

Di dalam ruangan tahta sesuatu yang luar biasa sepertinya sedang terjadi. Dari segala arah ada sebuah perkumpulan besar para malaikat bertemu di area tahta. Beberapa yang terbang memiliki sayap; beberapa tidak. Mereka terlihat tidak terhitung jumlahnya dan tak terhitung para malaikat-malaikat di atas di dalam ruang tahta, dan mereka yang berada dalam cahaya bergabung dengan mereka.

 

Sebuah riak suara mulai dekat pada tahta dan bergerak keluar melalui barisan para malaikat. Saat nadanya meningkat, nyanyian mulai hingga mencapai sebuah crescendo (nada paling keras dan tinggi) pada ujung luar dari para penghuni surgawi yang berada dalam penerbangan. Seolah apapun yang berasal dekat tahta melintasi melalui yang lain, mengizinkan nyanyian tersebut membesar dan kemudian dilepaskan keluar. Suara tersebut menggembirakan:

 

            MemujiMU melampaui surga tertinggi.

            MemujiMU melampaui kedalaman yang terdalam.

            MemujiMU karena kehadiranMU yang penuh kasih.

            MemujiMU karena penghakimanMU yang memberkati.

            MemujiMU, matahari dan bulan bersama-sama.

            MemujiMU, roda-roda yang berputar dan bintang-bintang.

            MemujiMU, paduan suara nyanyian malaikat.

            MemujiMu dekat dan memuji dari jauh.

 

            Anak-anak menyanyikan pujianMu, Bapa.

            Para gadis memujiMU, Putra Kudus.

            Roh Kudus, kami memujaMU.

            Selesaikan kini apa yang telah Kau mulai.

            Dimulai pada dahulu kala, haleluya,

            Ketika bersama kami telah bernyanyi,

            Diberkatilah Bapa, Putra, dan Roh,

            kepadaMU, O Tuhan, pujian kami bawa.

 

            Memuji namaMU yang kudus, haleluyah,

            Memuji namaMU yang kudus, haleluyah,

            Memuji namaMU yang kudus.

 

Tiba-tiba, para malaikat tak terhitung mulai meniup terompet. Suara tersebut terdengar menabjukkan, menggetarkan, mulia. Saat terompet berbunyi, setiap orang yang hadir mulai menyatakan dengan keras:

 

            Kemuliaan bagi Tuhan.

            Kemuliaan bagi Tuhan.

            Kemuliaan bagi Tuhan.

            Kemuliaan bagi Tuhan.

 

Saya tidak pernah menjadi bagian akan apapun yang sedemikian kuat. Mengambil nafasku pergi. Pada akhir dari pernyataan tersebut, para tua-tua melempar mahkota-mahkota mereka dan jatuh dengan wajah mereka di hadapan tahta, dan begitu juga dengan ke-4 makhluk hidup tersebut dan semua yang telah ditebus dan para malaikat yang berada di lautan kaca di dalam ruangan tahta. Saya juga jatuh dengan wajahku di hadapan Tuhan, karena siapa yang dapat tahan berdiri? Para malaikat di atas berada di posisi mereka dengan penuh perhatian.

 

Kemudian sebuah shofar (terompet kuno bangsa Yahudi) ditiup. Seolah-olah bunyinya menggema di seluruh Surga. Saat bunyinya menghilang, api dan gelegak petir dan kilat mulai menyembur dari tahta.

 

Tuhan Maha Kuasa berbicara, “Berdiri di atas kakimu, Anna.”

 

Saya berdiri, tetapi saya gemetaran. Setiap orang berdiri juga.

 

(Yang ditebus bergabung ke dalam paduan suara).

 

Memuji namaMU yang kudus, haleluyah.

BAB 12

PEMASANGAN

 

Petir dan kilat bertambah di dalam tahta, dan api melintas ke atas pula.

 

 

KESAKSIAN DARI DUA

 

Yesus berkata, “Ayah, dia adalah milikKU dan kepunyaan kerajaanKU. Dia siap untuk memenuhi tugas yang telah Kau berikan padanya.” Dia melangkah kepadaku. “Aku meneguhkan tugas ini, karena ini adalah kesaksian dari dua. Kedua AyahKU dan Aku bersaksi akan ini.”

 

 

RANTAI KEEMASAN

 

Tangan cahaya besar Ayahku datang dari area tahta dan ditempatkan di atasku sebuah rantai keemasan besar terbuat dari 24 medali yang terkait. Bahkan sebuah medali tengah yang lebih besar tergantung di leherku. Saat saya melihat kepada rantai ini, saya menyadari bahwa di bawah rantai saya sedang mengenakan jubah multiwarna yang telah diberikan Yesus di awal.

 

 

NAMA AYAHKU

 

Kemudian Ayahku menyentuh dahiku dengan tanganNya. Membakar seperti sebuah tanda. “NamaKU ada di atas dahinya,” Dia berkata dalam sebuah suara yang terdengar seperti air deras yang kuat. Dia meraih keluar lagi dengan sebuah tongkat raja dan menyentuh bahuku. “Dia adalah kanselirKU.”

 

Yesus mengetahui, “Aku bersaksi mengenai ini.”

 

Sang Roh, yang tidak terlihat, berbicara dari sebelah kiri Ayahku, “Aku bersaksi mengenai ini.”

 

 

IMPARTASI OLEH PARA TUA-TUA

 

Kemudian sebuah suara lain berkata. “Apakah kau percaya Tuhan?”

 

“Saya percaya,” jawabku, berbalik untuk melihat kepada satu dari ke 24 tua-tua di sekitar tahta.

 

“Kemarilah,” katanya. Dia menaruh tangannya di atas salah satu medali keemasan pada rantai dan berkata dengan otoritas besar dan penuh hikmat, “Semua karunia dan anugrah yang telah diberikan kepadaku, kini saya impartasikan kepadamu.” Kemudian dia memberi isyarat kepadaku untuk beralih kepada tua-tua berikutnya, dan saya turuti.

 

Tiap-tiap dari para tua-tua menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang pertama. Tiap-tiap menaruh tangannya di atas medali yang berbeda pada rantai dengan impartasi yang sama.

 

 

“HATIMU ADALAH KEPUNYAANKU’

 

Kemudian Ayah surgawiku berkata lagi, “Kemarilah,” katanya.

 

“Lihatlah kepada lencana tersebut.” Emas dari ke-24 medali tersebut bersinar seperti permata-permata dibawah sinar yang kuat. “Karunia dan anugrah yang kepunyaan Kristus adalah kepunyaanmu,” katanya. Kemudian Dia menaruh tanganNya di atas medali yang tengah dan berkata dengan kelembutan besar, “Hatimu adalah kepunyaanKU. Hatimu kepunyaanKU. Hatimu kepunyaanKU.”

 

 

JARI-JARI ALLAH

 

Setelah ini Dia menyentuh mataku dengan jari-jariNya. Rasanya seperti kilat menembak melaluiku. “Jari-jari Allah telah menyentuh matamu, Anna.” Kemudian Dia menaruh bagian bawah dari telapak tanganNya ke atas mataku, dan kuasaNya hampir membengkokkanku ke belakang. Dia memindahkan tanganNya dan menaruh jari-jariNya ke dalam telingaku; ledakan petir yang lain menghantamku, kemudian juga pada hidungku. “Buka mulutmu,” kataNYa, dan Dia menyentuh lidahku, membakar seperti sebuah bara di atas altar. “Angkat kedua tanganmu,” lanjutNya. Kilat menembak ke dalam jari-jari dan telapak tanganku. Dia menaruh tanganNya di atas bahuku, dan kemudian Dia menyilangkan tanganNya dan menaruhnya di atas bahuku kembali. Dia pindah ke hati dan diafrakma-ku, paha dan lututku; kemudian Tuhan berhenti dan menaruh tanganNya di atas kaki-ku. Kuasa menembak ke atas kaki-ku seperti paku-paku.

 

 

BUKAN PEDANG DARI MANUSIA

 

“Aku memberi ke dalam tanganmu pedang bukan dari manusia. Pedang ini bermata dua. Pedang ini dapat menghalangi atau membuka jalan kepada pohon kehidupan.” Dia berbicara kepada seseorang yang dekat, “Bawalah sarung tersebut kepadanya.”

 

Seorang malaikat yang besar dan kuat berlutut dan memberi sarung tersebut kepada cahaya di sekitar tahta. 2 kerub berdiri di kedua sisi sang malaikat. Kerub-kerub ini pastilah setinggi 8 kaki. Masing-masing memiliki 2 wajah. Salah satu kerub memiliki wajah seorang manusia di depan dan seekor singa di belakang. Yang lain memiliki wajah dari seekor elang di depan dan seekor lembu di belakang. Masing-masing memiliki 2 sayap dengan tangan-tangan dibawah sayap mereka. Kaki mereka lurus seperti seorang manusia tetapi di akhiri dengan kuku. Bulu-bulu berwarna kelabu tua menutupi tubuh mereka seperti sisik ikan. Mereka penuh dengan mata-mata di sekitar tubuh mereka dan di dalam sayap mereka. Saya tidak pernah melihat makhluk surga yang terlihat menyeramkan tetapi juga agung.

 

“Kemarilah,” kata Ayahku. “Izinkan Aku mengikatkannya bagimu.” Sarungnya sangatlah bagus, emas murni dan tergantung di sebelah kiri. “Sekarang, pedangnya,” kataNya.

 

Dari Cahaya yaitu Ayahku keluar sebuah pedang yang paling indah. Dengan bilah dari emas putih atau permata dengan sebuah pegangan keemasan yang penuh hiasan. Saya dapat melihat melampauinya. Semuanya adalah cahaya dan api, dan melayang-layang di udara. Yesus melangkah maju, dan Dia dan Ayahku menaruh tangan mereka di atasnya. Bersinar bahkan lebih cemerlang lagi. Seolah-olah kilat dan halalintar atau sebuah ledakan terjadi di dalamnya. Mereka kemudian memindahkan tangan mereka, dan sebuah suara yang indah dari musik atau nyanyian datang darinya.

 

“Genggam itu,” kata Ayahku.

 

“Anna,” kata Yesus, “biarkan Aku membantumu.” Dia datang ke sisi kananku dan menaruh tanganNya di atasku; bersama kami mengapai pedang tersebut. Pedang itu melompat ke dalam tanganku. Yesus tersenyum padaku. “Kau dapat mengayunkan pedang ini karena kita adalah satu. Pedang ini disarungkan di luar, tetapi juga tersembunyi di dalam untuk tangan dan mulut.”

 

Tiba-tiba, pedang tersebut menjadi sebuah pena merah bulu ayam dan sebuah bak tinta dari tinta keemasan. Yesus melanjutkan, “Roh Kudus menulis untuk sang Ayah. Roh Kudus melanjutkan, tidak pernah berinisiatif, Anna.” Murni, air murni dengan jentikan api di dalamnya mulai mengalir dari pena tersebut. “Dia menulis untukKU dan demi kelangsungan Kerajaan.” Pena dan tempat tinta berubah kembali menjadi pedang. Yesus melanjutkan, “Dengan pedang bukan dari manusia, rantai-rantai akan terpotong hingga berkeping-keping dan kuk dari besi terputus.”

 

 

YACHIN DAN BOAZ

 

Ayahku berbicara, “Yachin dan Boaz akan pergi bersamamu sekarang,” kataNya, tertuju kepada kedua kerub. “Mereka menjaga pedang tersebut. Mereka sangatlah kuat dan paling dikasihi; mereka akan menjadi sahabat-sahabatmu.” Dia berkata kepada para kerub, “Jaga dengan baik.” Mereka membungkuk dan kemudian berputar dan membungkuk lagi. Tubuh mereka memiliki 2 muka dan tidak ada punggung. Kemudian Ayahku berkata lagi, “Sekarang Anna, jubahnya.”

 

 

 

 

 

SANG MANTEL

 

Dari sisi kiri Ayah, dimana Roh Kudus telah berbicara, datang sebuah mantel yang berkilau yang bergantung di tengah-tengah udara. Yachin dan Boaz kemudian bergerak dan berdiri di kedua sisi mantel tersebut. Mantel tersebut dapat terlihat dan tidak terlihat, seperti sebuah sutera tipis, dengan ribuan cahaya di dalamnya. Bahannya seperti nafas, tapi nafas yang penuh dengan cahaya yang hidup.

 

 

ANGIN PUYUH

 

Saya memasukkan pedang ke dalam sarungnya supaya dapat mengenakan pakaian tersebut. Saya berharap Yachin dan Boaz untuk membantuku, tetapi malahan, sebuah angin puyuh yang besar berputar di hadapan tahta. Pakaian tersebut tergelung ke dalam angin puyuh. Para malaikat tinggi di atas bergabung dengannya dengan terbang di dalam angin puyuh, berputar dan berputar.

 

“Roh Kudus memberkati mantelNya,” kata Ayahku. Saat pakaian tersebut mulai turun, ada kilat di dalamnya. Cahaya berubah dan berdetak di dalamnya, dan Roh Kudus mulai menyatakan melalui nyanyian para malaikat :

 

 

 

NYANYIAN ROH KUDUS

 

            Izinkan sapuan sayap-sayap malaikat

            Tidak pernah membutakan para mata

            Dari mereka yang melihat melampaui selubung

            Untuk melihat kepada Surga

            Pandanglah, pandanglah pada pelek keemasan,

            Pandanglah pada jalan-jalan emas,

            Pandanglah pada semua yang diciptakan

            Kepada Yang baru, yang abadi.

            Abadi dan bukanlah baru,

            Yang kekal dari hari-hari adalah Dia.

            Kekekalan di dalam tanganNYa,

            Cahaya kekekalan.

            Tuhan yang penuh belas kasihan, Dia adalah baik,

            Tuhan Maha Kuasa yang penuh kemurahan,

            Kehidupan seperti sungai mengalir dari tahtaMU

            Kepada mereka yang berbalik dari kegelapan.

            Izinkan para kerubim dalam keagungan,

            Para seraphim dalam pujian,

            Seperti mereka yang melihat melampaui selubung,

            Kepada Dia yang melihat.

            Pandanglah, lihat pada rim keemasan,

            Pandanglah pada jalan-jalan dari emas,

            Pandanglah pada semua yang diciptakan

            Kepada Yang baru, yang abadi.

 

Saat mantel semakin dekat pada lautan kaca, apa yang terlihat seperti penuh listrik sedang bermunculan dan melengkung dalam jubah; warna-warna sedang beriak dalamnya seperti perubahan warna-warna dari sebuah jenis tertentu dari ubur-ubur di lautan. Kedua kerubim tersebut melangkah ke samping untuk menciptakan ruangan bagi mantel tersebut. Mantel tersebut tertahan di tengah udara di depanku.

 

“Apa yang harus kulakukan?”tanyaku.

 

“Menunggu, Anna,” kata Ayahku.

 

Ada suatu kesunyian di Surga. Seolah semuanya sedang menahan nafasnya. Setiap orang dalam ruang tahta terdiam. Pelan-pelan, dengan sebuah kelembutan, hembusan yang menyenangkan, pakaian tersebut bergerak ke arah ku. Saya merentangkan kedua lenganku seolah-olah seseorang akan membantuku memakai sebuah jaket. Mantel tersebut berkilauan. Seperti nafas. Saat saya memakainya, bagaimanapun, saya menyadari bahwa saya menjadi tembus pandang, tidak terlihat di beberapa bagian. Salah satu bagian dariku yang dapat dilihat hanyalah tanganku, kakiku, dan kepalaku.

 

Sebelum saya dapat berpikir mengenai hal ini lebih jauh lagi, Yesus berkata kepadaku, “Anna, ambillah ini.”

 

“Apakah ini?” tanyaku.

 

 

SEPATU

 

“Sepatu lumba-lumba (porpoise),” kataNya. Saya merasakan bahwa ini adalah permainan kata dari “purpose” (tujuan), tetapi saya tidak mengetahui mengapa.

 

Saya melihat kepada mereka. Mereka juga adalah sutera tipis. Ada pita di depan seperti sepatu kerja yang tinggi di bagian depan yang menutupi pergelangan kaki, tetapi tidak ada sol pada sepatu. “Tidak ada sol sepatunya,” kataku.

 

Yesus tersenyum, “Tidak, para kepala dari Tuhan adalah harus mengexpresikan dari jiwa.” (Dia terlihat menikmati permainan kataNYa). “Sepatu ini tetap menjaga kaki-mu telanjang, menyentuh tanah kudus di atas, tetapi meninggalkanmu tetap tidak dibenarkan di hadapan umat manusia. Kau akan menjadi tidak terlihat kepada manusia tetapi intim dengan Tuhan. Ini menutupi pergelangan dan tumit juga. Keadaan yang tidak terlihat ini akan mengerjakan salib dalam hidupmu kepada titik tidak akan ada lagi penyingkapan dari tumit atau kekuatan dalam manusia alami untuk diperlihatkan.”

 

Saya duduk di atas lautan kaca untuk memakainya. “Ini adalah sepatu paling aneh yang pernah saya lihat,” kataku.

“Ya,” jawab Yesus. “Hanya beberapa yang ingin memakainya. Modelnya sudah ketinggalan jaman.”

 

“Apakah mereka tetap dipakai?” tawaku.

 

“Ya, kecuali kau sendiri yang melepaskannya. Kau dapat memperlihatkan jalanmu kepada umat manusia, tetapi tidak akan ada kehidupan di dalamnya. Cacing kematian akan merayap masuk dan keluar dari penyingkapan tersebut, Anna.” Kemudian Dia bertanya, “dapatkah kau berjalan dalam api yang tak terlihat yang umat manusia tidak akan memberimu kemuliaan? Beberapa yang masih hidup kini yang mau memakai sepatu ini, karena mereka ingin kemuliaan mereka dari umat manusia daripada Allah.”

 

Saya selesai mengikat sepatu tersebut dan berdiri. Puncak kakiku tidak terlihat. “Tuhan,” saya bertanya dengan sangat serius. “Apakah saya akan sanggup melakukan ini semua?”

 

“Tidak,” senyumNya, “tetapi Aku dapat, bila kau mengizinkanKU.”

 

Saya menyelidiki wajahNya. “Saya percaya,” kataku pelan. “Tolonglah ketidakpercayaanku ini.”

 

 

SEBUAH NYALA API CINTA

 

Tiba-tiba, tahta menjadi sebuah menara kolam api, berteriak lebih keras daripada tempat pandai besi apapun juga di Bumi. Saya tanpa sadar melangkah mundur, karena api tersebut terlihat lebih panas daripada perapian yang melelehkan besi menjadi magma cair.

 

“Anna,” Ayahku berbicara dengan sebuah suara dari halalintar, “dapatkah kau hidup dalam api?”

 

“Ayah,” kataku ragu, “saya tidak dapat berharap untuk pengalaman yang menyakitkan, tetapi saya dapat berharap untukMU. Memberiku anugrah untuk menginginkan diriMU lebih lagi daripada kehidupan itu sendiri.”

 

Tangan-tangan besar dari api meraih kepadaku. “Mari,” kataNya.

 

Dengan sebuah tegukan besar, saya mulai bergerak ke depan dengan pelan.

 

Yesus memegang tanganku. “Aku akan pergi denganmu,” kataNya penuh keyakinan.

 

Tiba-tiba, ketika Yesus memegang tanganku, hasratku terhadap Ayahku bertambah lebih kuat. Saya mulai menangis dalam kerinduanku untuk lebih dariNya: “Papa, Papa, Papa, Papa!” Saat saya mulai memanggil padaNya, seolah-olah Tuhan membuka diriNya sendiri dengan sebuah tangisan besar yang hening atau hasrat pada diriNya untuk membawaku lebih dekat pula. Seolah kami secara otomatis tersedot kepadaNya.

 

Kami sedang berdiri di tengah bara yang putih dari panas yang kuat. Saya juga mulai mendidih. Cahaya tersebut begitu cemerlang sehingga saya hampir tidak dapat melihat Yesus karena kemuliaan di dalam nyala kabut putih.

 

KOMET BERAPI

 

Kemudian api menyerupai komet besar yang bernyala-nyala mulai menabrakku dari segala sisi. 2 menabrak mataku, dan mataku menjadi bernyala-nyala. Saat misil berapi ini berada di dalamku, Ayahku mulai berbicara, “Api kekudusanKU, api cintaKU, api belas kasihKU, api hidmatKU, api pengertianKU, api pengetahuanKU, api segelKU, api kemurnianKU, api kemurahanKU.”

 

Jari-jariNya menyentuh bibirku yang sedang menyala. “Kerendahan hati,” kataNYa. “Hiruplah.” Saya menghirup dalam api. Api sekarang ada di luar dan di dalamku.

 

MATA YANG CANTIK DAN MENGERIKAN

 

Di tengah bara api, saya melihat 2 mata besar menyala:

 

Cantik, mengerikan diluar penggambaran. Mata tersebut melihat kepadaku. Saya tidak dapat membalikkan mataku menjauh; mereka sangat menabjukkan dalam keindahan dan juga kengerian.

 

“Matamu sungguh indah,” kataku. “Saya berharap untuk melihat seperti Engkau melihat.”

 

“Arahkan pandanganmu kepadaKU,” kataNYa, dan mataNya datang ke dalamku dan kemudian kembali lagi. Saya melanjutkan penglihatanku dan membakar hingga saya merasa seolah-olah mataku terbakar keluar dari kelopaknya.

 

KataNya, “Izinkan Aku melihat melalui matamu. Izinkan hatiKU melihat dengan belas kasih untuk anak-anakKU dan atas yang terhilang. Izinkan bibirKU berbicara.”

 

Penuh hasrat, cinta yang menghanguskan terbangun di dalamku. “Buatlah saya sebagai nyala api cinta untukMU,” saya menangis dari keberadaanku yang paling dalam.

 

 

TUHAN DALAM KEMULIAANNYA

 

Tiba-tiba Yesus berdiri tepat di depanku di dalam bara api. Cemerlang, cahaya putih datang dariNya; lidah-lidah api memancar keluar dariNya dalam tahapan. MataNya menyala juga. KataNya, “saat hatiKU dinyatakan oleh taman di Surga, tiap hati umat percaya juga dinyatakan sebagai taman yang terkunci dimana kita bertemu. Hati Ayah dinyatakan oleh bara api ini, menyala dengan cinta. Hati Ayah kita adalah murni, menyala, dan kudus. Kau harus di undang untuk berjalan di tengah bara api, karena meskipun Ayah kita mengasihi semua, tidak semuanya di undang. Untuk mereka yang Dia undang, kesatuan lengkap adalah satu-satunya yang dapat memuaskan: menghanguskan dan dihanguskan, dimana semua dosa adalah tidak terpikirkan dan menyakitkan pada titik ekstrem. Seperti sebuah karat pada nyala api, seseorang di tarik mendekat dan mendekat kepada kekudusan. Pikiran apapun mengenai kegelapan yang menghalangi penyatuan sempurna dengan Terang – gelombang ketidaktaatan apapun, pikiran apapun yang bukan kasih – menjadi menyakitkan; karena dalam derajat itu, kesatuan yang sempurna dengan Ayah menjadi terganggu. Kasih mengharapkan lebih dan lebih lagi dari yang Terkasih. Ada kesakitan dalam keterpisahan. Kegelapan menyebabkan pemblokiran, tetapi kasih mencari lebih dan lebih lagi dari Terang – lebih, bahkan lebih, hingga sang anak juga adalah nyala api berjalan dalam kasih dalam persekutuan yang terus-menerus dengan Kasih itu sendiri. HatiKU rindu dalam peningkatan multiplikasi akan AyahKU. KasihNya menghanguskanKU, dan Aku lapar dan haus untuk lebih. Izinkan hasrat ini ada di dalammu – bahwa kebaikanNya menarik keluar ucapan syukur dan pujian, bahwa belas kasihNya menarik keluar pemujaan, bahwa kekudusanNYa menarik keluar penyembahan, seperti seorang anak yang sesungguhnya dari Ayah, Kasih melahirkan kasih dan kepercayaan.”

 

Dengan itu Dia memegang tanganku dan menuntunku keluar dari bara api.


KESIMPULAN

KEDATANGAN KEMBALI

 

Yesus menuntunku kembali kepada perkumpulan besar. Saat kami masuk, Ayahku berdiri dan memproklamirkan, “Catatlah. Dia telah melewati bara api; namaKU ada di dahinya. Dia adalah kanselirKU.” Dia menaruh tanganNYa di atas bahuku dan membalikkan-ku untuk menghadap mereka yang berada di atas lautan kaca.

 

“Saya menerima tanggungjawab ini,” kataku.

 

“Jadilah demikian,” kataNYa.

 

Kemudian seluruh Surga bersatu dalam pujian tertinggi bagi Tuhan untuk kesetiaanNYa – musik dan paduan suara, wewangian dan warna-warna, dengan malaikat tak terhitung jumlahnya membungkuk di hadapanNYa yang duduk di atas tahta. Sukacita melimpah.

 

Dengan diam-diam saya mengatakan kepada Yesus bahwa saya tidak yakin dengan semua detail tugas baru-ku.

 

Dia bersandar dan berbisik, “Tuliskan apa yang telah kau lihat dan dengar.”

 

“Oh,” angguk-ku.

 

Sebuah lingkaran tarian yang hidup dimulai, dan para malaikat turun dari pos penjagaan mereka di atas dan bergabung dalam lingkaran dengan yang ditebus: Mahanaim.

 

Saat saya berdiri di sana, 2 malaikat menyapu-ku dengan sayap mereka, karena saya ditutupi dengan abu. Saya merasa sedikit pusing juga, seolah-olah saya telah melalui sesuatu dan belum pulih atau menjadi stabil. Mataku terasa tergores.

 

 

HADIAH SEORANG MALAIKAT TUA

 

Sementara perayaan tersebut berlanjut, Ayahku berkata kepadaku secara pribadi. “Anna,” kataNya. Yesus dan saya berbalik menghadapNya. “Aku memiliki sebuah hadiah untukmu.”

 

Seorang malaikat yang besar dan terlihat tua datang berdiri di sampingku. Dia terlihat sedikit biru karena sinar biru yang terpancar dari dirinya. Dia memiliki sebagian besar kepala botak dan janggut putih yang sangat panjang. Dia memakai sebuah mantel panjang tanpa lengan yang dirajut dengan berbagai bayangan biru. Dibawahnya bahkan jubah yang lebih biru lagi. Kilat menyambar di dalam pakaian tersebut.

 

“Ini adalah sahabatKU, Anna,” Yesus berkata kepadaku. “Dia datang untuk melatihmu.”

 

Ayahku berkata, “Elisa adalah hadiah dari tanganKU. Dia adalah yang terkasih dariKU dan melampaui para malaikat. Dia akan bersamamu sekarang selama perjalanan-mu di Bumi.” Dia berkata kepada sang malaikat, “Elisa.”

 

Elisa berlutut di hadapan Ayah.

 

“Akankah kau membantu melatih putriKU?” tanya Ayahku.

 

“Saya akan,” jawab Elisa.

 

“SahabatKU,” kata Yesus. Yesus memegang Elisa pada tangannya, membantunya berdiri, dan Dia mencium kedua pipi sang malaikat. “Ini adalah Anna-KU, Elisa,” kata Yesus. “Dia adalah yang KU-kasihi.”

 

“Halo, Anna,” kata malaikat dan memegang tangan kanan-ku ke dalam tangannya. “Saya merasa terhormat bisa membantu-mu,” katanya. “Adalah hasratku untuk melayani Tuhan yang besar dan hidup.”

 

“Terima kasih,” ucapku. “Saya berharap dapat menjadi murid yang baik.”

 

 

 

PENGHARAPAN AYAH

 

“Anna,” lanjut Ayahku, “UmatKU menunggu untuk harapan yang akan menyegel perjanjian damaiKU. Apakah kau siap?”

 

“Ya, Papa.”

 

“Jika begitu, Anna-KU,” kataNya, “mari kita bawa mereka ke dalam ruang tahta dan ke dalam hatiKU.”

 

KemuliaanNya datang dariNya dan mencium dahiku.

 

Yesus bersandar dan mencium tanganku. “Aku bersama-mu,” kataNYa, menatap dalam-dalam kepada mataku.

 

“Terima kasih,” senyumku, lanjut memandang kepadaNya yang dipuja hatiku.

 

Dia meremas tanganku.

 

 

KEBERANGKATAN

 

Kemudian Elisa dan saya membungkuk dan berbalik untuk pergi. Sebelum kami mencapai area dimana tarian sedang berlangsung, saya berbalik lagi untuk melihat kepada Ayahku. Kemurahan, kemegahan, dan kesetiaan dari Allah kita memenuhi-ku. Saya tersedak sedikit saat saya berkata, “Saya mencintai-MU, Papa.”

 

“Aku mencintai-mu, Anna,” balas Ayahku.

 

Saya tersenyum lagi dan mulai berjalan dari ruang tahta dengan Elisa. Epaggelias mengikuti tepat dibelakang kami, dan Yachin dan Boaz mengikuti di belakangnya dan dengan ringan di kedua sisi.

 

Saat kami berjalan melalui para penari, yang ditebus menyadari saat kami berpapasan. Sinar wajah mereka terlihat hangat. Saya merasa nyaman seolah berada di tengah orang-orang yang terkasih di Bumi dan lebih lagi. Sungguh sebuah keluarga, pikirku dalam diriku. Sungguh  seorang sahabat.

 

Clara melambai padaku di antara para penari. Saya mencari para malaikat lain yang ku kenal sekarang, tetapi begitu banyak dari mereka yang berlingkaran sehingga sulit untuk membedakan dengan cepat 1 wajah dari yang lain.

 

DI ATAS JALUR JALAN

 

Hampir dengan segera kami sedang berjalan di atas jalur jalan di Surga.

 

“Janji lain lagi yang disimpan”, kata Epaggelias, berkata dengan keras kepada dirinya sendiri.

 

Saya memutar kepalaku untuk melihat kepadanya.

 

Dia tersedak kepada dirinya sendiri, “Sungguh, Dia adalah setia.”

 

Yachin dan Boaz menunjukkan rasa hormat pada kedalaman rasa syukur Epaggelias. Mereka mengangguk dengan agung.

 

 

MEMPERTANYAKAN ELISA

 

“Elisa,” kataku. Dia melihat kepadaku.

 

“Mengapa Tuhan memberikan-ku nama yang baru?”

 

Elisa menjawab, “karena kau baru. Misi-mu, panggilan-mu, tujuan-mu di Bumi telah berubah. Kau dipanggil sekarang untuk mengungkapkan hati Bapa, dan saya ditugaskan untuk membantu-mu dalam melakukan ini. Hanya sedikit yang mengerti, Anna, tetapi mereka rindu untuk mengerti.

Dunia terlalu penuh dengan anak-anak Tuhan. Seolah-olah Bumi, dari mana kemuliaan mereka terbuat, terlalu banyak pegangan di atas mereka. Sesungguhnya bejana mereka dari tanah liat tidak boleh mendikte arah dari hidup yang ditebus, tetapi mereka terlihat mempunyai kesulitan untuk memisahkan bejana dari apa yang terkandung di dalamnya – rembesan. Seolah-olah tanah liat mereka masih basah dan telah merembes ke dalam jiwa mereka. Bagaimanapun, cara hidup ini tidak lagi cukup. Waktunya telah tiba dan sekarang telah ada disini ketika pemisahan antara jiwa dan roh, antara tubuh dan jiwa, bersama dengan kebersihan hati, harus mengambil tempat untuk kebangkitan. Anna, ada roh di Bumi yang mengalihkan perhatian secara terus-menerus dari kebenaran. Karena hal ini, Allah kita mengirim kembali roh Elisa.

Kebutuhan terbesar tetap saja adalah untuk mengenal sang Bapa. Dia harus mengungkapkan diriNya sendiri dalam jumlah yang lebih besar sebelum akhir dari zaman ini. Saya telah datang untuk membantu mengungkapkan hati Bapa kepada anak-anak, karena hatiNya adalah untuk mereka, dan untuk menghancurkan hati mereka untuk mencari Dia supaya mereka dapat mengenal Dia. Bapa telah membawa-mu pada waktu ini untuk menjadi satu, untuk mengungkapkan hatiNya (saya merasa bahwa ‘di antara banyak’ ditekankan).

Ketika roh Elisa ada di Bumi, ada penghakiman, kekeringan, dan konfrontasi yang terlihat dengan para musuh Tuhan. Sama seperti mereka yang menyembah baal, selalu akan ada konfrontasi kejahatan dan pameran besar dari kekuatan Tuhan; tetapi pertama, Anna, anak-anak Bapa harus memiliki keyakinan yang lebih besar akan kasihNYa. Mereka harus berakar dan berdasar di dalam Kristus, disertai kuasa dari Roh Kudus, dan mata mereka melihat ke atas dan terfokus padaNYa.

Kau akan senang dalam mengungkapkan hati Bapa, dan saya akan membantu-mu.”  

 

 

AWAN GELAP

 

Saya bertanya, “mengenai apakah awan gelap yang dibicarakan Ayahku, Elisa?”

 

Dia menjawab, “awan gelap yang mengelilingi Tuhan adalah minyak pekat dari sang Roh, yang sangat baik, sebuah tanda yang terlihat dari pengurapan besar, tidak dapat dimengerti oleh umat manusia dan karenanya terlihat gelap. Bagi mayoritas dari umat manusia, Dia tersembunyi dalam kegelapan. Cahaya yang tidak dapat mereka lihat memancar dari diriNya. Bagi banyak dari anak-anakNya Dia terlihat tersembunyi, tetapi api dari cintaNya membakar melalui kepekatan dari minyak tersebut sekarang dan akan mengizinkan anak-anakNya untuk melihat cintaNya, kemurahanNya, dan belas kasih kebapaanNya, seperti juga kenyataan yang menabjukkan akan kekudusanNYa.

Api ini akan membakar semua yang dari kayu, jerami, dan tunggul dalam kehidupan anak-anakNYa. Mereka harus menginginkan api tersebut dan merindukan kekudusanNya. HatiNya berbalik kepada mereka, dan api dari cintaNya akan mengungkapkan hal ini. Hati anak-anak akan rindu untuk berbalik kepadaNya, untuk berjalan melalui api pemurnian, dan untuk beristirahat dalam lenganNya. Seperti musuh membenci api, demikian juga anak Tuhan harus mencintai api, karena di dalam dan melalui api, mereka akan melihat Tuhan.”

 

 

PADA TANGGA DERMAGA

 

Kami telah tiba di tangga dermaga. Elisa tersenyum kepadaku, “apakah kau siap untuk bekerja?”

 

“Ya,” saya tersenyum membalasnya. Saya memegang tangannya, “terima kasih, Elisa, dan kalian semua,” kataku, berbalik kepada Epaggelias, Yachin, dan Boaz. “Terima kasih. Saya memberkati kalian dalam nama Tuhan Yesus.”

 

“Terima kasih, Anna,” mereka membalas bersama-sama. “Kami menerimanya.” Kami berdiri di sana dengan perasaan aneh.

 

“Sekarang apa yang harus kulakukan?” tanyaku.

 

“Kau kembali,” Elisa tersedak.

 

“Dan bagaimana dengan-mu?” tanyaku.

 

Ke-4 wajah Yachin dan Boaz berkata, “Kami ikut dengan-mu, Anna. Ingat?”

 

“Oh,” kataku terkejut, “benar.”

 

Saya berbalik untuk berjalan ke arah stasiun dermaga, dan mereka menghilang, walaupun saya tahu mereka ada bersama-ku.

 

 

PEMUNCULAN KEMBALI AZAR

 

Azar muncul, bersandar pada pos dermaga. “Ah, disini kamu – ya, sebagian dari kamu juga,” senyumnya, menunjuk pada kepala dan tanganku yang terlihat.

 

Saya melihat ke bawah pada pakaian dan sepatu-ku. Saya dapat melihat tembus melalui mereka kepada jalan.

Dia mulai memindahkan kawat merah dari pos. “Dan Ayah-mu telah mengungkapkan kepada-mu alasan kau datang?” seringainya lebar.

 

“Ya,” senyum-ku, dan kemudian keajaiban dan kemisteriusan itu semua kembali menyapu-ku. “Ya,” saya mengulangi dengan rasa kekaguman yang lebih besar.

 

“Apakah kau siap untuk kembali kemudian?” lanjutnya, berusaha membantu-ku mengumpulkan fokus-ku yang tersebar.

 

“Oh, ya,” kataku, tiba-tiba menyadari bahwa saya perlu mengkonsentrasikan pada tugas di hadapanku. Saya bergerak menuju tangga.

 

“Ingat untuk tidak melihat kebawah ke sisi tangga ketika kembali. Membutuhkan sedikit keterbiasaan dalam menggunakannya, tetapi kita terkadang harus belajar, bukankah begitu?” Dia terdengar seperti seorang pengasuh. Dia mulai menurunkan tangga itu.

 

“Terima kasih untuk bantuan-mu, Azar.”

 

“Itu namaku,” kicaunya. “Masih saja saya berharap kita tidak terlalu sering bertemu. Nah, hanya bercanda,” katanya. “Jika kau tersandung dalam melangkah, saya akan menegakkan-mu.”

 

Saya tertawa kepadanya, mengelengkan kepalaku.

 

“Berikan tangan-mu,” katanya, menuntun-ku kepada puncak tangga. “Sekarang hati-hatilah dengan langkah pertama. Ringan tidaklah licin, tetapi sungguh memiliki perbedaan rasa dengan bahan-bahan yang ada di Bumi, kau tahu.”

 

Dia memegang tanganku hingga saya telah mengambil langkah yang pertama dan kemudian yang berikutnya.

 

“Baiklah!” cengirnya, dan mulai bersiul melalui gigi-nya dan bertepuk tangan dengan keras seperti yang akan dilakukan seseorang di acara olahraga. “Hati-hati, cinta.”

 

 

TURUN

 

Saya tidak dapat menahan diri kecuali tersenyum, bahkan saat meneguhkan diriku di atas tangga. Saat saya mulai turun, dia memanggilku kemudian, “ingatlah tangga dermaga di atas berada di seluruh dunia dan siap untuk kau pakai.”

“Terima kasih,” saya berseru kembali kepadanya dengan keras; saya mengangkat tanganku tanpa memandang ke belakang. Saya dapat merasakan bahwa dia sedang melihatku di atas tangga. Dia terus memegang ujung dari kawat tersebut.

 

Ketika saya mencapai dasar, saya berbalik dan melambai, walaupun dia hanya terlihat setitik. Kawatnya mengencang; tangga pada bagian yang pertama tertarik, kemudian yang kedua, kemudian yang ketiga, dan menghilang.

 

 

DI BUMI LAGI

 

Saya kembali berada di lokasi dimana saya telah melarikan diri. Jauh terdengar di kejauhan, saya dapat mendengar suara dari pertempuran sengit yang sedang terjadi. Dengan cepat saya merangkak dalam jalanku menuju puncak bukit berpasir lagi. Saya ingin melihat bila ada kota yang tetap utuh setelah penyerangan banteng buatan itu.

 

Dimana kota yang bertembok itu berdiri, sekarang hanyalah tinggal puing, batu-batu yang tersebar, dan kantong-kantong yang terbakar. Dan  saya tahu bahwa batu tersebut, batu hidup dari gereja Kristus yang benar, aman.

Mereka mungkin telah memanjat beberapa tangga, atau tersembunyi di gua-gua, atau mengapung di atas air; tetapi batu hidup telah bertahan hidup.

 

Saya berdiri di sana sesaat memandang kepada pemusnahan di hadapanku. Kemudian saya memandang ke atas, menganggukkan kepala-ku kepada satu sisi, dan tersenyum.

 

“Melapor untuk kerja, Papa.”

 

KATA-KATA AKHIR

BAGAIMANA HAL INI TERJADI

 

“Kau akan menerima sebuah kunjungan.” Dengan kata-kata yang sederhana ini hidup kita berpindah dari 1 alam kepada alam lain, walaupun kita tidak menyadarinya pada waktu itu.

 

Suamiku dan saya menerima janji ini pada suatu pesta makan malam beberapa hari sebelum kami meninggalkan kota. 4 tahun kemudian, Tuhan telah membawa kami kepada area metropolitan besar itu setelah suamiku pensiun dari pelayanan pendeta. Kami membawa bersama para pendeta dan pendoa syafaat – menyebrangi garis denominasi – dalam sebuah gerakan doa sekota.

 

Setelah Tuhan membangkitkan kepemimpinan dari antara para pendeta, kami mengembalikan pelayanan doa sekota kepada mereka. Pada saat perkumpulan sekota terakhir dengan para pelayan, mereka menaruh tangan mereka ke atas kami, memberkati kami, dan mengirim kami keluar untuk melayani tubuh Kristus yang lebih besar.

 

“Kau akan berada di sebuah kabin pada musim Hanukkah ketika kau menerima kunjungan ini,” tamu makan malam telah melanjutkan. Dia adalah teman kami yang telah secara internasional dikenali dengan pelayanan nubuatan. Walaupun kami telah mengenalnya selama beberapa tahun, dia tidak pernah menyampaikan perkataan Tuhan kepada kami secara pribadi.

 

Saya telah melihat malaikat-malaikat secara dekat ketika kami berada di kota dan bahkan pernah melihat Tuhan beberapa kali dari jauh, tetapi untuk sebuah kunjungan adalah melampaui dari apapun yang suamiku dan saya pernah alami. Untuk mengatakannya, kami merasa ragu.

 

Tetapi, Allah kita penuh kemurahan dan penuh kejutan juga.

 

Pada malam Hanukkah, 1994, dalam sebuah kabin di sebuah danau di Texas, tiba-tiba, Surga terbuka saat Roh membawa-ku ke dalam ruang tahta Tuhan. Saya melihat dengan kejelasan yang menabjukkan hingga saya tidak dapat menyangkal apa yang telah saya lihat. Semua yang telah saya lihat dan dengar adalah berbeda dari apa yang saya pikirkan: lebih luar biasa, tetapi nyaman. Rasanya seolah saya berada di rumah.

 

Saya mulai mengunjungi Surga setiap hari. Walaupun pada awalnya kunjungan-kunjungan tersebut terasa melelahkan, saya dengan hati-hati mencatatnya. Saya tidak berpikir kunjungan-kunjungan ini sebagai penglihatan, karena saya percaya bahwa apa yang saya lihat sebenarnya berada di sana. Yohanes menceritakan pengalaman serupa di  dalam Wahyu 4:1. Yohanes melaporkan apa yang dia lihat dan dengar ketika dia sedang dibawa ke Surga dalam Roh.

 

Ada juga penglihatan-penglihatan. Buku ini dimulai dengan penglihatan. Penglihatan seperti sebuah bahasa gambar – alat bantu melihat mewakili kebenaran dari Tuhan dimana seseorang mungkin atau tidak dapat turut serta. Satu contoh dari penglihatan-penglihatan yang diberikan kepada Yohanes ketika dia ada di Surga adalah Wahyu 9:17.

 

Ketika saya membagikan pewahyuan ini dengan suamiku, Tuhan mengizinkan suamiku untuk mengalami apa yang saya alami dengan berada di sana.

 

Kemudian pada 1 Januari 1997, Tuhan meminta kami untuk menyusun sebuah buku dari beberapa pewahyuan awal dan untuk menyertakan sebuah lampiran yang berisi pembuktian alkitabiah dan keterangan mengenai semua yang telah dilihat dan dengar. Dia meminta kami untuk menyelesaikan seluruh naskah dalam 1 tahun.

 

Buku ini adalah respon atas permintaan Tuhan. Suamiku dan saya dengan sejujurnya bisa berkata bahwa kami tidak percaya buku ini adalah milik kami. Kami tidak pernah melayani Tuhan dalam segala cara yang seutuhnya adalah diriNya. Semuanya yang ada dalam buku ini adalah benar. Jika ada kesalahan dalam hal-hal tersebut digambarkan, maka semua kesalahan itu seutuhnya karena kami.

Semua yang terlahir kembali dalam Kristus Yesus duduk dengan Dia, dalam roh, di tempat Surgawi. Tetapi, Dia telah bermurah hati mengizinkan beberapa dari kami untuk melihat ke dalam alam tersebut, menurut perkataanNya dalam Yohanes 1:15.

 

Lebih lagi, kami menemukan bahwa pewahyuan ini bukanlah untuk kami berdua saja, seperti saat kami pertama kali memikirkannya, tetapi untuk tubuh Kristus, yang mana kami adalah anggota.

 

Kami, yang adalah hamba Kristus, memberkati kalian dalam namaNya.

 

-          ANNA ROUNTREE

 

Ada sebuah bagian catatan tambahan dalam buku ini, tapi tidak diberikan disini.  

 

Bila ada keberatan atau pertanyaan mengenai terjemahan ke dlm bhs. Indonesia  ini bisa menghubungi:

Email : evi_wenx@yahoo.com 






Website Builder